RIWARA.id – Kendaraan tempur lapis baja ini wujudnya pantas bersanding dengan jip-jip offroad mewah, meski ukuran dan bobotnya jauh lebih bongsor. Tampak gahar tapi manis penuh sentuhan estetika, bahkan rasanya masih pantas jika parkir di mal.
Terlebih dengan cat abu-abu tenang yang membuat orang “lupa” ini kendaraan perang. Seperti itulah tampilan Mildef Tarantula 4x4, produk negeri jiran Malaysia saat hadir di DSA 2026 Exhibition di Kuala Lumpur, 20-23 April 2026.
Kehadiran unit ini di pameran pertahanan bergengsi tersebut menyedot perhatian banyak pengunjung. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Turdef.com, produsen kendaraan lapis baja asal Malaysia, MILDEF, memamerkan Tarantula 4x4 yang kini telah dilengkapi dengan sistem senjata Remote Control Weapon Station (RCWS) SARP 100/12.7 buatan perusahaan Turki, ASELSAN.
Foto unit tersebut di area pameran DSA 2026 diabadikan oleh Marhalim Abas, penulis dari Malaysian Defence, yang memperlihatkan integrasi teknologi modern pada kendaraan taktis tersebut.
Ketangguhan Tarantula di Medan Laga
Tarantula HMAV (High Mobility Armoured Vehicle) adalah kendaraan taktis rod a 4x4 yang dirancang untuk kebutuhan medan berat. Kendaraan ini memiliki bobot maksimum mencapai 16 ton, yang menjadikannya salah satu aset berat dalam jajaran kendaraan taktis Mildef.
Dari sisi perlindungan, Tarantula telah memenuhi standar STANAG 4569 Level 2 untuk perlindungan balistik dan ledakan.
Meski bertubuh bongsor, performanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Kendaraan ini diklaim mampu melesat hingga kecepatan 110 km/jam dengan jarak tempuh mencapai 700 kilometer.
Integrasi senjata dengan sistem RCWS SARP 100/12.7 menambah daya gempur kendaraan ini, memungkinkan pengoperasian senjata dari dalam kabin dengan akurasi tinggi.
Seri SARP sendiri bukanlah pemain baru. Sistem ini telah lama digunakan oleh militer Turki dan diekspor ke berbagai negara.
Varian 100/12.7 adalah pionir dalam keluarga RCWS ini, yang kemudian berkembang menjadi berbagai varian lain seperti SARP 100/12.7D dengan tambahan senapan mesin 7.62 mm, hingga varian ringan SARP 100/7.62L.
Bahkan, ASELSAN kini telah mengembangkan seri SARP 200 yang lebih canggih dengan tambahan sistem deteksi tembakan akustik SEDA 100 dan pelontar granat asap.
Menengok "Sang Adik", Mildef Rentaka
Selain Tarantula yang lebih berat, Malaysia juga menunjukkan ko mitmennya dalam pengembangan alutsista melalui Mildef Rentaka.
Berbeda dengan Tarantula yang bersifat sebagai kendaraan tempur berat, Rentaka hadir dengan konsep modular yang lebih fleksibel, cocok untuk peran pengintai, pembawa senjata, maupun pendukung logistik.
Dengan bobot lebih ringan yakni 8,8 ton, dimensi panjang 6,2 meter, dan kapasitas angkut hingga 10 personel, Rentaka diproyeksikan sebagai solusi mobilitas taktis yang gesit.
Ditenagai mesin V8 Turbo Diesel 330 hp dengan transmisi otomatis Torqshift 10-speed, kendaraan ini mampu berakselerasi hingga 110 km/jam.
Langkah Malaysia dalam mengembangkan Mildef Tarantula dan Rentaka merupakan upaya strategis untuk melakukan indigenisasi atau kemandirian teknologi pertahanan.
Perusahaan yang dulunya lebih fokus pada sektor MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) ini kini bertransformasi menjadi pemain kunci dalam manufaktur kendaraan tempur mandiri, sekaligus upaya nyata mengurangi ketergantungan pada alutsista impor. (*)
Ari Kristyono




Intip kecanggihan Mildef Tarantula 4x4 di DSA 2026. Kendaraan lapis baja Malaysia yang memadukan desain gahar dengan teknologi RCWS modern.