55 Tahun Pesawat CASA C-212: Evolusi Sang Aviocar dari Spanyol ke Kebanggaan PT Dirgantara Indonesia

  • Ari Kristyono
  • Senin, 20 April 2026 | 02:26 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Evolusi pesawat Casa C-212 sejak terbang perdana tahun 1971 hingga hasil besutan modern PT Dirgantara Indonesia, dibuat dengan bantuan Gemini AI.
Evolusi pesawat Casa C-212 sejak terbang perdana tahun 1971 hingga hasil besutan modern PT Dirgantara Indonesia, dibuat dengan bantuan Gemini AI. (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.id – Dunia dirgantara mengenang jejak sejarah 55 tahun lalu, tepatnya pada 26 Maret 1971, ketika purwarupa pesawat turboprop CASA C-212 Aviocar mengudara untuk pertama kalinya di Getafe, Spanyol. 

Pesawat yang dikenal dengan desain "kotak" khasnya ini telah membuktikan diri sebagai platform angkut ringan yang sukses mengubah konektivitas udara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Marsekal Hadi Tjahjanto, mantan Panglima TNI (2017-2021) adalah salah satu penerbang CASA C-212, saat masih berdinas sebagai penerbang TNI AU.

Dikutip dari buku biografinya, Anak Sersan Jadi Panglima karya Eddy Suprapto, Hadi menyebut pesawat ini menjadi andalan karena kerangka yang kokoh dan kemampuannya bermanuver di celah pegunungan sempit.

Hadi pun mengisahkan ketangguhan pesawat yang dia bawa, satu kali dalam misi transpor di pedalaman Papua, salah satu baling-baling terkena tembakan.

Namun, meski kerusakannya cukup nyata, pesawat bisa mendarat dengan selamat.

Pengganti C-47 Dakota

Menurut laman PT Dirgantara Indonesia, sejarah CASA C-212 awalnya dirancang untuk menggantikan armada angkut tua seperti Douglas C-47 Dakota. 

Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek (Short Take-off and Landing atau STOL), serta fitur ramp door di bagian belakang yang memudahkan bongkar muat kargo maupun pasukan. 

Meski sering dianggap memiliki desain sederhana dan minim estetika—layaknya kotak kaku bersayap—Hubungan Indonesia dengan C-212 semakin erat sejak PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mendapatkan lisensi resmi untuk memproduksi pesawat ini pada 1976. 

Kini, sejarah mencatat pergeseran pusat produksi global; PTDI menjadi satu-satunya produsen di dunia yang membuat seluruh komponen dan merakit pesawat ini. 

Evolusi terbaru yang lahir dari tangan insinyur Indonesia adalah NC-212i, sebuah modernisasi signifikan dari Aviocar lawas.

NC-212i telah bertransformasi dengan teknologi terkini, seperti penggunaan glass cockpit dan sistem autopilot modern yang secara drastis mengurangi beban kerja pilot sekaligus meningkatkan standar keselamatan. 

Mesin yang digunakan pun merupakan varian terbaru yang lebih efisien dan bertenaga. 

Pembaruan ini memastikan NC-212i tetap relevan di tengah persaingan teknologi penerbangan abad ke-21.

Hingga hari ini, pesawat rakitan Bandung ini telah mengudara ke berbagai negara, mulai dari Thailand, Vietnam, Filipina, hingga wilayah Afrika dan Amerika Latin. 

Bagi Indonesia, C-212 bukan sekadar pesawat, melainkan simbol keberhasilan alih teknologi sekaligus bukti bahwa desain yang fungsional akan selalu mendapat tempat di langit dunia sepanjang masa. (*)

 

55 tahun sejak penerbangan perdana CASA C-212. Kini, Indonesia melalui PTDI terus memproduksi varian modern NC-212i yang mendunia.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News