Bukan Lagi Wacana, Korea Selatan Resmi Mulai Realisasi Proyek Kapal Selam Bertenaga Nuklir Jangbogo

Rabu, 27 Mei 2026 | 19:38 WIB
Ilustrasi kapal selam nuklir Korea Selatan dibuat dengan bantuan Gemini AI
Ilustrasi kapal selam nuklir Korea Selatan dibuat dengan bantuan Gemini AI

RIWARA.id – Pemerintah Korea Selatan secara resmi memulai langkah konkret untuk merealisasikan proyek ambisius pembangunan kapal selam bertenaga nuklir pertamanya. 

Program strategis yang dinamai "Jangbogo-N Project" ini dipastikan bukan lagi sebatas wacana atau ide di atas kertas, melainkan telah masuk dalam cetak biru taktis militer bentukan Seoul.

Langkah revolusioner ini ditandai dengan penerbitan dokumen resmi "Rencana Dasar Pengembangan Kapal Selam Bertenaga Nuklir" oleh Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan.

Seperti dikabarkan media Korsel Asiae, Proyek ini menjadi tonggak sejarah baru dalam modernisasi alutsista Negeri Ginseng guna memperkuat dominasi bawah air di kawasan Asia Timur.

Secara teknis, cetak biru proyek ini sebenarnya sudah digodok di balik layar sejak beberapa tahun terakhir. Badan Pengembangan Pertahanan (ADD) Korea Selatan dilaporkan telah menggandeng Hanwha Ocean, perusahaan galangan kapal raksasa domestik, untuk merampungkan fase desain dasar (basic design) kapal selam tersebut.

Fase desain dasar ditargetkan selesai sepenuhnya pada akhir tahun ini guna menentukan kebutuhan operasional (ROC) serta kalkulasi an ggaran konstruksi. Setelah evaluasi anggaran rampung, proyek akan langsung melompat ke tahap desain detail dan memulai pembangunan unit kapal selam pertama.

Kemandirian teknologi menjadi pilar utama dalam megaproyek ini, di mana Korea Selatan berkomitmen membangun kapal selam tersebut 100 persen di dalam negeri. Seoul memanfaatkan lompatan teknologi maritim dan industri nuklir sipil mereka yang telah diakui secara global.

Sejumlah raksasa industri domestik seperti Doosan Enerbility, Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI), dan KEPCO kini tengah berkolaborasi intensif. Mereka fokus mengembangkan reaktor nuklir modular kecil (small modular reactor) yang dirancang khusus untuk masuk ke dalam lambung kapal selam.

Guna memastikan keamanan sistem propulsi tersebut, pemerintah setempat juga berencana membangun fasilitas uji coba reaktor berbasis darat di Kota Gyeongju. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh sistem mekanis bekerja sempurna sebelum dipasang pada unit operasional.

Akselerasi proyek ini tidak lepas dari restu politik Amerika Serikat yang selama ini menjadi ganjalan utama terkait Perjanjian Kerja Sama Nuklir kedua negara. Melalui serangkaian pertemuan tingkat tinggi, Washington akhirnya memberikan lampu hijau bagi Seoul untuk melakukan pe ngayaan uranium tingkat rendah sebagai bahan bakar propulsi.

Militer Korea Selatan sendiri telah menetapkan target operasional yang sangat terukur dan terintegrasi. Unit kapal selam bertenaga nuklir pertama dijadwalkan resmi meluncur ke air pada pertengahan tahun 2030-an, disusul penyerahan ke komando operasi aktif pada akhir dekade yang sama.

Urgensi pembangunan armada nuklir ini dipicu oleh meningkatnya ancaman dari Korea Utara yang terus mengembangkan rudal balistik kapal selam (SLBM). Berbeda dengan kapal selam diesel konvensional yang wajib muncul ke permukaan untuk mengisi baterai, kapal selam nuklir mampu menyelam berbulan-bulan tanpa batas.

Kemampuan bertahan di bawah air dalam waktu lama ini akan menjadi tulang punggung strategi Underwater Kill Chain milik militer Korea Selatan. Armada baru ini bertugas mengintai, mendeteksi, dan menetralisir kapal selam lawan secara senyap sebelum mereka sempat meluncurkan hulu ledak.

Meskipun menggunakan teknologi reaktor, Seoul menegaskan tetap berkomitmen penuh pada pakta non-proliferasi senjata nuklir global (NPT). Kapal selam ini murni menggunakan bahan bakar Low-Enriched Uranium (LEU) maksimal 20 persen sebagai pendorong mesin, bukan sebagai pengusung hulu ledak nuklir. (*)

 

Korea Selatan resmi merealisasikan proyek kapal selam nuklir Jangbogo-N untuk bendung ancaman Korut. Target meluncur tahun 2030-an.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories