Keraton Berdiri di Belakang Republik: Gusti Moeng Ungkap Peran Besar PB XII hingga Tegaskan Keabsahan PB XIV Hangabehi

Senin, 25 Mei 2026 | 04:40 WIB

 

Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi Tengah
Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi Tengah (Foto: Dok. Riwara.id)

 

SURAKARTA, RIWARA.id — Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng mengungkap berbagai kisah penting mengenai perjalanan Sinuhun Pakubuwono XII serta peran besar Keraton Surakarta Hadiningrat dalam mendukung berdirinya Republik Indonesia.

Kepada Riwara.id pada Senin, 25 Mei 2026 pagi, Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat itu menjelaskan bahwa Sinuhun Pakubuwono XII mengalami langsung masa kejayaan keraton sejak usia muda sebagai putra dari Sinuhun Pakubuwono XI.

Menurut Gusti Moeng, PB XII sejak kecil telah mengikuti berbagai upacara kenegaraan dan prosesi adat keraton. Dari situlah beliau memahami tata pemerintahan, budaya, serta kehidupan kerajaan Jawa pada masa itu.

“Sinuhun Pakubuwono XII sejak kecil sudah mengikuti berbagai upacara kenegaraan keraton dan menyaksikan langsung kejayaan Keraton Surakarta,” ujarnya.

Ia menjelaskan, PB XII lahir di Sasana Mulya pada 14 April 1925, yang kala itu menjadi tempat tinggal para pangeran keraton. Setelah wafatnya Pakubuwono XI, PB XII kemudian ditetapkan sebagai penerus tahta melalui berbagai proses adat dan pertimbangan kerajaan.

 

Baca juga: Siap Saingi Senjata Baru AS, Turki Pamer Senapan Serbu M PT-68 Berkaliber Monster di EFES 2026

 

 


Gusti Moeng menuturkan, penobatan Sinuhun Pakubuwono XII sebagai raja Keraton Surakarta Hadiningrat berlangsung pada 12 Juli 1945 melalui prosesi adat lengkap sesuai ketentuan keraton.

Menariknya, hanya berselang 35 hari setelah penobatan tersebut, Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Menurut Gusti Moeng, setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno memberikan pengakuan terhadap kedudukan Keraton Surakarta Hadiningrat dan hubungan langsung dengan pemerintah pusat.

PB XII juga disebut mengeluarkan maklumat yang menegaskan bahwa Keraton Surakarta berdiri di belakang Republik Indonesia dan mendukung penuh kemerdekaan bangsa.

“Keraton Surakarta ikut mendukung berdirinya Republik Indonesia,” katanya.

Namun demikian, Gusti Moeng menilai perjalanan panjang Republik Indonesia belum sepenuhnya memberikan perhatian yang layak kepada Keraton Surakarta, padahal keraton memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa.

Ia menyebut berbagai aset dan kekayaan keraton sebagai kerajaan berdaulat pada masa lalu kini berada dalam penguasaan negara. Menurutnya, kewajiban pemerintah terhadap keraton sebagaimana diatur dalam berbagai aturan juga belum sepenuhnya dijalankan.

“Selama ini keraton belum diberikan hak-haknya secara penuh,” ujarnya.

Dalam penuturannya, Gusti Moeng juga menegaskan bahwa proses suksesi raja di Keraton Surakarta tidak bisa dilakukan sembarangan karena memiliki aturan adat yang sangat ketat dan sakral.

Semua tahapan penobatan raja, mulai dari prosesi adat, gending, keluarn ya pusaka kerajaan, hingga ritual keagamaan, seluruhnya tercatat dalam ar sip keraton.

“Raja tidak bisa mengangkat dirinya sendiri. Ada upacara, ada pusaka yang harus keluar, ada tahapan adat yang harus dijalani,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa setelah dinobatkan, seorang raja wajib menjalani berbagai tahapan adat, termasuk melaksanakan salat Jumat sebanyak tujuh kali di Masjid Agung Keraton sebagai bagian dari tradisi kerajaan Islam di Surakarta.

Menurut Gusti Moeng, menjadi raja bukanlah soal kekuasaan, melainkan amanah dan tanggung jawab besar terhadap rakyat, budaya, dan keberlangsungan kerajaan.

“Jadi raja itu bukan kekuasaan yang didapat, tetapi kewajiban yang sangat berat,” tuturnya.

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat LDA GKR Koes Moertiyah Wandansari yang kerap disapa Gusti Moeng dalam sambutannya Hari Tari Dunia 2026 di Bangsal Smorokoto Ketaton Surakarta Rabu 29 April 2026
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat LDA GKR Koes Moertiyah Wandansari yang kerap disapa Gusti Moeng dalam sambutannya Hari Tari Dunia 2026 di Bangsal Smorokoto Ketaton Surakarta Rabu 29 April 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Di akhir keterangannya, Gusti Moeng berharap Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi yang telah dinobatkan pada 13 November 2025 melalui berbagai tahapan dan prosesi adat keraton, senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan tugas menjaga marwah Keraton Surakarta Hadiningrat di tengah perkembangan zaman saat ini.

Saat ditanya mengenai kapan Kirab Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi akan digelar, Gusti Moeng menegaskan bahwa secara adat dan adminis trasi keraton, Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi telah sah dan mutlak menjadi penerus Karaton Mataram Islam Surakarta sejak 13 November 2025 lalu.

“Kalau pernikahan itu ibarat ijab kabulnya sudah sah dilakukan, yang belum hanya pesta perayaannya saja. Namun secara adat, Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi sudah 100 persen sah karena telah melalui tahapan dan proses adat,” uj ar Gusti Moeng.

Ia juga menegaskan bahwa tugasnya saat ini adalah m eluruskan garis nasab dan menjaga kesinambungan keturunan Karaton Mataram Islam Surakarta agar tidak melenceng dari garis sejarah dan adat yang berlaku.

“Tugas saya adalah meluruskan nasabnya agar keturunan Karaton Mataram Islam Surakarta ini tidak berbelok,” tegasnya.*

 

GKR Koes Moertiyah Wandansari mengungkap sejarah besar peran Sinuhun Pakubuwono XII dalam mendukung Republik Indonesia. Gusti Moeng juga menegaskan Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi telah sah secara adat menjadi penerus Karaton Mataram Islam Surakarta sejak 13 November 2025.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories