Gusti Moeng dan UNS Gagas Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta, Warisan Adiluhung Jawa Siap Jadi Pusat Ilmu Dunia

Senin, 11 Mei 2026 | 03:28 WIB

 

Gusti Moeng bersama akademisi dan tokoh budaya saat selamatan pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta Hadiningrat di Keraton Surakarta 10 Mei 2026
Gusti Moeng bersama akademisi dan tokoh budaya saat selamatan pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta Hadiningrat di Keraton Surakarta 10 Mei 2026 (Foto: Riwara.id)

 

SURAKARTA, RIWARA.id – Upaya pelestarian warisan budaya adiluhung Nusantara kembali memasuki babak baru. GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng menyampaikan bahwa Keraton Surakarta Hadiningrat tengah menggagas pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan berbasis nilai, tradisi, dan sumber pengetahuan Keraton sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa era SISKS Paku Buwana XIII dan Paku Buwana XIV Hangabehi, sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat kepada Riwara.id pada 10 Mei 2026.

Menurut Gusti Moeng, pembentukan lembaga studi tersebut berangkat dari kegelisahan bersama antara pihak Keraton dan kalangan akademisi mengenai kondisi pelestarian budaya Keraton Surakarta saat ini.

“Pada tanggal 10 Mei 2026, Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar selamatan pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan Keraton yang bersumber dari nilai, pengetahuan, dan tradisi Keraton sendiri,” ujar Gusti Moeng.

Ia menjelaskan, gagasan tersebut lahir dari berbagai diskusi bersama profesor dan guru besar yang selama ini telah menjadi bagian dari keluarga besar Keraton Surakarta, baik sebagai paring pranata maupun bagian dari Kapujanggan.

Tidak Hanya Revitalisasi Bangunan, Tapi Juga SDM dan Sistem Keilmuan

Dalam pertemuan tersebut, muncul perhatian besar terhadap kondisi Keraton Surakarta dewasa ini. Menurut Gusti Moeng, pelestarian Keraton tidak cukup hanya berfokus pada revitalisasi fisik bangunan melalui dukungan pemerintah maupun Kementerian Kebudayaan.

Lebih dari itu, revitalisasi sumber daya manusia serta penguatan sistem keilmuan yang hidup di lingkungan Keraton juga dinilai sangat penting.

“Yang dipikirkan bukan hanya bagaimana membangun fisik Keraton, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan dan tradisi yang ada di dalamnya tetap hidup dan diwariskan,” terang Gusti Moeng.

Keraton Surakarta sendiri selama ratusan tahun dikenal bukan hanya sebagai pusat budaya, tetapi juga pusat lahirnya berbagai sistem pengetahuan Jawa.

Mulai dari tata pemerintahan, hukum adat, kesusastraan, kesehatan tradisional, seni pertunjukan, arsitektur, astronomi Jawa, hingga berbagai konsep filosofi kehidupan berkembang di lingkungan Keraton.

Keraton Disebut Menyimpan Sumber Ilmu Pengetahuan Besar

Gusti Moeng menegaskan bahwa Keraton Surakarta sejatinya menyimpan sumber ilmu pengetahuan yang sangat besar dan belum sepenuhnya dikembangkan secara akademik.

“Keraton memiliki banyak sumber ilmu pengetahuan, mulai dari budaya, hukum, tata pemerintahan, kesehatan tradisional, hingga teknik dan arsitektur,” ungkapnya.

Karena itu, melalui diskusi bersama para guru besar serta hasil rembukan dengan pihak rektorat, muncul gagasan untuk membentuk lembaga studi kebudayaan yang nantinya menjadi wadah riset, pendidikan, dan pengembangan ilmu berbasis warisan budaya Keraton Surakarta Hadiningrat.

Pada tahap awal, pengembangan lembaga studi tersebut dirancang berangkat dari bidang kebudayaan dan humaniora melalui Fakultas Ilmu Budaya.

Namun ke depan, cakupannya direncanakan dapat meluas ke berbagai disiplin ilmu lain seperti kedokteran, hukum, hingga teknik.

UNS dan Keraton Surakarta Punya Ikatan Sejarah

Gagasan pembentukan lembaga studi tersebut juga memiliki keterkaitan historis dengan perjalanan awal Universitas Sebelas Maret atau UNS.

Menurut Gusti Moeng, pada masa awal perkembangannya, kawasan Sitihinggil dan Pagelaran Keraton Surakarta pernah digunakan sebagai tempat kegiatan akademik UNS.

Karena itu, hubungan antara dunia akademik dan Keraton Surakarta dinilai memiliki akar sejarah yang kuat.

Kolaborasi tersebut kini dihidupkan kembali dalam bentuk pengembangan lembaga studi budaya berbasis tradisi dan pengetahuan Keraton.

Hal ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara lingkungan akademik dan lembaga adat dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Selamatan dan Doa Bersama Jadi Penanda Awal

Sebagai penanda dimulainya ikhtiar tersebut, Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar selamatan sederhana yang diisi dengan tumpengan dan doa bersama.

Prosesi tersebut dilakukan sebagai simbol harapan agar pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta dapat berjalan lancar dan segera terwujud.

Selain menjadi pusat pelestarian budaya, lembaga tersebut juga diharapkan mampu menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan berbasis warisan budaya Keraton Surakarta Hadiningrat.

“Selamatan ini menjadi doa bersama agar lembaga studi kebudayaan Keraton ini bisa segera terwujud dan memberi manfaat besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Gusti Moeng.

Warisan Adiluhung Keraton Disiapkan Menjawab Tantangan Zaman

Pembentukan lembaga studi ini dinilai menjadi langkah strategis di tengah tantangan globalisasi dan semakin pudarnya pemahaman generasi muda terhadap akar budaya bangsa.

Melalui pendekatan akademik dan penelitian ilmiah, warisan budaya Keraton Surakarta diharapkan tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga sumber solusi bagi kehidupan modern.

Berbagai manuskrip kuno, paugeran, piwulang, hingga sistem nilai Jawa yang berkembang di lingkungan Keraton selama ratusan tahun dinilai memiliki relevansi besar terhadap isu sosial, lingkungan, hingga kemanusiaan masa kini.

Apabila berjalan optimal, Lembaga Studi Kebudayaan Keraton Surakarta Hadiningrat berpotensi menjadi salah satu pusat studi budaya Jawa terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.*

 

 

Gusti Moeng mengungkap Keraton Surakarta dan UNS menggagas Lembaga Studi Kebudayaan Keraton untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis warisan budaya dan tradisi adiluhung Jawa.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories