SURAKARTA, RIWARA.id – Tidak semua orang di lingkungan keraton bisa terlibat dalam ritual Miwaha Sekar Widjajakusuma. Tradisi sakral yang kembali digelar di era Paku Buwana XIV Hangabehi itu ternyata memiliki rangkaian panjang yang sarat laku spiritual, sejarah, hingga perjalanan berat menuju lokasi-lokasi sakral di pesisir selatan Jawa.
Di balik prosesi yang menyita perhatian publik di Cilacap tersebut, terdapat tahapan adat yang menurut tradisi keraton tidak dilakukan secara sembarangan. Karena itu, hanya orang-orang tertentu yang menerima nawolo atau amanah khusus dari Karaton Surakarta Hadiningrat untuk menjalankan prosesi tersebut.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menegaskan bahwa ritual Wijayakusuma bukan sekadar perjalanan budaya biasa.
“Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi ada laku spiritual yang dijalankan sejak awal,” ujarnya kepada Riwara.id.
Tradisi yang Sudah Ada Sejak Raja-Raja Surakarta
Menurut Gusti Moeng, ritual pengambilan Kembang Wijayakusuma telah dikenal sejak era Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI.
Dalam praktik masa lalu, perjalanan menuju lokasi pengambilan bunga bahkan dapat memakan waktu hingga dua bulan. Rombongan utusan keraton berangkat dari Surakarta dengan melibatkan unsur Kepatihan, Sentana Dalem, hingga para pangeran.
Dalam penuturan tradisi keraton, para peserta menjalani laku prihatin selama perjalanan, termasuk melakukan doa dan semedi di sejumlah titik sebelum mencapai pesisir selatan.
Nyekar ke Makam Ki Ageng Giring
Kanjeng Pangeran Bambang S Adiningrat yang mendapat amanah khusus dalam prosesi tersebut mengungkapkan bahwa salah satu tahapan penting ritual adalah wilujengan di makam Pasareyan Ki Ageng Giring di Gumelem, Banjarnegara.
Menurut KP Bambang, dalam manuskrip serat yang tersimpan di Pustaka Dalem Keraton Surakarta disebutkan bahwa utusan keraton harus terlebih dahulu nyekar ke makam Ki Ageng Giring sebelum prosesi Miwaha dilaksanakan.
“Utusan juga diwajibkan sowan kepada juru kunci dan menyerahkan panjurum,” katanya kepada Riwara.id, Jumat (8/5/2026).
Karena itu, sehari sebelum prosesi utama, dirinya terlebih dahulu mendatangi rumah juru kunci untuk menyerahkan panjurum dan melaksanakan wilujengan bersama rombongan.
Memimpin Kirab Menuju Teluk Penyu
Setelah dari Banjarnegara, rombongan bergerak menuju Cilacap untuk mengikuti puncak kegiatan.
KP Bambang mendapat amanah sebagai manggala kirab Miwaha Sekar Widjajakusuma bersama Korsik Tali Jagad dan Bergada Suropraja.
Kirab budaya berlangsung dari Pendopo Kabupaten menuju Pantai Teluk Penyu dengan jarak sekitar empat kilometer dan disaksikan antusias oleh masyarakat.
“Kirab ini juga menjadi bagian dari pelestarian budaya agar lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Pedel dan Pistol Era VOC
Dalam catatan lama keraton, para bergada pengawal kirab disebut menggunakan pedel atau senjata api.
Tradisi tersebut kembali dihadirkan dalam prosesi tahun ini. KP Bambang menyebut sejumlah peserta mengenakan pedel, termasuk KPH Eddy Wirabhumi yang menggunakan pistol era VOC.
Rombongan bahkan melakukan tembakan salvo sebagai bagian dari rangkaian kirab budaya.
Menuju Masigit Sela dan Pulau Majeti
Selain memimpin kirab, KP Bambang juga mendapat mandat memimpin rombongan menuju Masigit Sela untuk melaksanakan wilujengan dan pemasangan prasasti baru.
Perjalanan menuju lokasi dilakukan menggunakan dua perahu besar dan satu perahu kecil dengan membawa sekitar 60 orang.
“Perjalanannya cukup berat. Naik perahu lebih dari dua jam lalu berjalan kaki menuju gua,” katanya.
Sementara perjalanan menuju Pulau Majeti untuk pengambilan Sekar Widjajakusuma juga menghadapi ombak besar laut selatan yang mencapai lebih dari dua meter.
Dalam perspektif budaya keraton, perjalanan tersebut dipahami sebagai bagian dari ujian spiritual dan laku batin yang menyertai ritual.
Simbol Kepemimpinan dan Warisan Budaya
Dalam tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, Kembang Wijayakusuma memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan kepemimpinan, keselamatan, dan keberkahan.
Karena itu, ritual pengambilannya dipandang bukan sekadar seremonial budaya, melainkan bagian dari warisan nilai yang dijaga turun-temurun.
Namun demikian, pemaknaan tersebut berada dalam konteks budaya dan spiritualitas tradisional keraton.
Tradisi yang Tetap Dijaga di Era Modern
Pelaksanaan kembali ritual Miwaha Sekar Widjajakusuma di era Paku Buwana XIV Hangabehi dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Dalam manuskrip yang dipelajari keraton, prosesi terakhir tercatat berlangsung sekitar tahun 1930-an. Karena itu, pelaksanaan tahun ini menjadi momentum budaya yang langka dan bersejarah.
Bagi mereka yang menerima amanah terlibat langsung, ritual tersebut bukan hanya tugas adat, tetapi juga kehormatan spiritual yang tidak datang setiap waktu.*
Gusti Moeng dan KP Bambang S Adiningrat mengungkap makna serta beratnya ritual Miwaha Sekar Widjajakusuma di era PB XIV Hangabehi, dari nyekar di Gumelem hingga menghadapi ombak besar Pulau Majeti.