Era Paku Buwana XIV Hangabehi, Pulau Majeti di Cilacap Jadi Sorotan: Lokasi Sakral Wijayakusuma yang Penuh Misteri

Kamis, 07 Mei 2026 | 00:20 WIB
KP Bambang S Adiningrat saat prosesi ritual Miwaha Sekar Wijayakusuma di Pulau Majeti
KP Bambang S Adiningrat saat prosesi ritual Miwaha Sekar Wijayakusuma di Pulau Majeti (Foto: Bambang S Adiningrat)

 

CILACAP, RIWARA.id – Di balik pelaksanaan ritual Miwaha Sekar Wijayakusuma yang kembali digelar, perhatian publik turut tertuju pada satu lokasi yang selama ini jarang tersorot: Pulau Majeti.

Pulau kecil di pesisir selatan Cilacap ini dikenal dalam tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat sebagai titik sakral pengambilan Kembang Wijayakusuma.

Tidak seperti destinasi wisata pada umumnya, Pulau Majeti memiliki karakter geografis yang unik sekaligus menantang. Lokasinya berada di tengah laut dengan akses terbatas, dikelilingi karang dan ombak besar yang menjadi ciri khas pesisir selatan Jawa.

Akses Sulit dan Medan Ekstrem

Dalam pelaksanaan ritual, perjalanan menuju pulau tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Berdasarkan penuturan tokoh keraton, jalur menuju titik pengambilan bunga hanya dapat dilalui melalui akses sederhana berupa tangga bambu yang dipasang di area karang.

Kondisi tersebut menjadikan perjalanan ke Pulau Majeti tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga kehati-hatian tinggi.

Ombak yang tidak menentu serta kontur alam yang curam menjadi tantangan nyata bagi rombongan yang terlibat dalam prosesi.

Dalam perspektif tradisi, kondisi alam ini justru dipandang sebagai bagian dari ujian dalam menjalankan laku spiritual.

Dimaknai Sakral dalam Tradisi Keraton

Gusti Moeng di Pendopo Kabupaten Cilacap 3 Mei 2026
Gusti Moeng di Pendopo Kabupaten Cilacap 3 Mei 2026 (Foto: Rama, Dok. LDA Karaton Surakarta)

 

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa Pulau Majeti dalam tradisi keraton memiliki nilai simbolik yang kuat.

Menurutnya, lokasi tersebut diyakini sebagai tempat tumbuhnya Kembang Wijayakusuma, yang dalam budaya Jawa dikaitkan dengan nilai kepemimpinan dan keberkahan.

“Dalam tradisi keraton, tempat ini memiliki makna tersendiri. Karena itu, setiap proses menuju ke sana dijalankan dengan penuh kehati-hatian,” ujarnya kepada Riwara.id, Rabu, 6 Mei 2026.

Namun demikian, pemaknaan tersebut berada dalam ranah kepercayaan budaya yang berkembang di lingkungan keraton dan tidak dimaksudkan sebagai klaim ilmiah.

Tidak Hanya Soal Lokasi, tetapi Laku

Ritual pengambilan bunga di Pulau Majeti bukan hanya tentang mencapai lokasi fisik. Dalam penuturan Gusti Moeng, perjalanan ini merupakan bagian dari rangkaian laku spiritual yang telah diwariskan sejak masa raja-raja Surakarta.

Ia menyebutkan bahwa dalam praktik masa lalu sejak era Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI, perjalanan menuju lokasi bahkan bisa memakan waktu hingga dua bulan.

Rombongan utusan keraton saat itu tidak langsung menuju Cilacap, tetapi singgah di sejumlah wilayah untuk melakukan persiapan batin sebelum melanjutkan perjalanan ke pesisir selatan.

Menunggu Momentum yang Dianggap Tepat

Kirab dari Pendopo Kabupaten Cilacap
Kirab dari Pendopo Kabupaten Cilacap (Foto: Rama, Dok. LDA Karaton Surakarta)

 

Setibanya di Cilacap, rombongan tidak serta-merta menyeberang ke pulau. Dalam penjelasan Gusti Moeng, terdapat tahapan menunggu yang dalam tradisi dipahami sebagai bagian dari proses.

Menurutnya, penyeberangan dilakukan setelah muncul “tanda-tanda” tertentu yang diyakini sebagai bentuk keselarasan antara manusia dan alam.

Dalam konteks jurnalistik, hal ini dipahami sebagai bagian dari sistem kepercayaan budaya yang hidup di lingkungan keraton.

Narasi Risiko dalam Tradisi

Dalam berbagai penuturan yang berkembang di lingkungan keraton, perjalanan menuju Pulau Majeti tidak lepas dari cerita-cerita risiko.

Disebutkan bahwa kondisi ombak yang besar pernah menyebabkan insiden dalam perjalanan laut pada masa lalu. Namun, narasi tersebut merupakan bagian dari cerita tradisi yang menyertai ritual dan tidak selalu dapat diverifikasi secara historis.

Meski demikian, kondisi geografis pesisir selatan yang dikenal ekstrem menjadi faktor nyata yang mendukung kehati-hatian dalam pelaksanaan ritual.

Simbolisme dan Pelestarian Budaya

Pulau Majeti di pesisir Cilacap menjadi lokasi sakral pengambilan Wijayakusuma dalam tradisi Keraton Surakarta
Pulau Majeti di pesisir Cilacap menjadi lokasi sakral pengambilan Wijayakusuma dalam tradisi Keraton Surakarta (Foto: tangkap Layar Youtube Taufiq Cilacap)

 

Pulau Majeti tidak hanya menjadi lokasi geografis, tetapi juga simbol dalam kosmologi Jawa. Keberadaannya merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang dijaga dalam tradisi keraton.

Pelaksanaan ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma di lokasi ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang terus dijalankan hingga kini, termasuk pada masa kepemimpinan Paku Buwana XIV Hangabehi.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Pulau Majeti sebagai bagian dari ritual keraton menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya hidup dalam simbol, tetapi juga dalam praktik nyata.

Bagi masyarakat luas, lokasi ini mungkin hanya tampak sebagai pulau kecil di pesisir selatan. Namun dalam perspektif budaya Karaton Surakarta Hadiningrat, Pulau Majeti menyimpan makna yang lebih dalam.

Ia bukan sekadar tempat, melainkan bagian dari warisan yang terus dijaga—menghubungkan masa lalu dengan masa kini dalam satu garis tradisi yang berkelanjutan.*

 

Pulau Majeti di Cilacap menjadi sorotan sebagai lokasi sakral pengambilan Wijayakusuma dalam tradisi Keraton Surakarta. Akses sulit dan makna spiritual menjadikannya penuh simbol budaya.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories