RIWARA.id – Komunitas Sahabat Unik Luar Biasa Inklusi (SULBI) Semarang bersama perwakilan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar kampanye anti bullying bertema “Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai” di Pos PAUD Ceria Bandarharjo Semarang, Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 20 anak tingkat kelas 4 hingga 6 sekolah dasar yang berasal dari wilayah Bandarharjo, Semarang. Kampanye dikemas melalui permainan edukatif, diskusi interaktif, dan penyampaian pesan positif tentang pentingnya menghormati sesama.
Ketua SULBI, Natasa Maelani A., mengatakan kegiatan itu bertujuan menanamkan sikap saling menghargai sejak dini sekaligus meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai bahaya bullying.
Menurutnya, praktik bullying masih kerap dianggap sebagai candaan biasa, padahal dapat menimbulkan dampak psikologis serius bagi korban, terutama anak-anak dan remaja.
“Kami melihat bullying masih sering dianggap sebagai candaan biasa, padahal dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi korban. Oleh karena itu, edukasi kepada generasi muda perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tercipta budaya saling menghormati dan peduli terhadap sesama,” ujar Natasa dalam keterangannya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami berbagai bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Anak-anak juga diberi pemahaman mengenai cara merespons tindakan perundungan secara positif.
Selain fokus pada isu bullying, kampanye itu turut mengangkat pentingnya kesetaraan gender. Peserta diberikan edukasi bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk dihargai tanpa memandang gender, latar belakang, maupun kondisi pribadi.
Kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan interaktif agar materi lebih mudah dipahami anak-anak. Berbagai permainan edukasi digunakan untuk membangun rasa empati, kerja sama, dan sikap saling menghormati.
SULBI dan mahasiswa USM berharap pendekatan edukatif seperti ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif bagi anak-anak di lingkungan sosial maupun sekolah.
Natasa menegaskan upaya mencegah bullying tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Menurutnya, keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun budaya yang sehat bagi tumbuh kembang anak.
“Kami berharap melalui kampanye ‘Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai’, masyarakat semakin sadar bahwa menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh empati merupakan tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Kampanye anti bullying tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran sosial di kalangan generasi muda agar lebih peduli terhadap sesama dan berani menghentikan tindakan perundungan di lingkungan sekitar. (*)
SULBI dan mahasiswa USM gelar kampanye anti bullying di Semarang untuk edukasi anak tentang empati dan kesetaraan.