
RIWARA.id — Vitiligo bukanlah penyakit baru. Kondisi kulit yang ditandai dengan hilangnya pigmen ini ternyata telah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu, bahkan tercatat dalam berbagai peradaban kuno dan teks keagamaan.
Sebagaimana dilansir riwara.id pada hari ini, Sabtu (18/4/2026), dari laman VR Foundation, vitiligo telah menjadi bagian dari sejarah medis manusia selama lebih dari 4.000 tahun.
Sudah Disebut dalam Kitab Kuno
Catatan paling awal mengenai vitiligo ditemukan dalam teks kuno India, Rig Veda, yang menggunakan istilah “Kilas” untuk menggambarkan kondisi bercak putih pada kulit—diibaratkan seperti rusa berbintik putih.
Dokumen medis kuno lainnya seperti Ebers Papyrus dari Mesir (1550 SM) juga menyebut dua jenis depigmentasi kulit yang diduga merujuk pada vitiligo atau lepra.
Sementara itu:
Tahun 1400 SM: istilah Sveta Khushtha muncul dalam Atharva Veda
Tahun 1200 SM: teks Jepang kuno menggambarkan depigmentasi dalam doa Shinto
Sekitar 600 SM: kitab Ashtanga Hridaya menjelaskan faktor prognosis penyakit kulit
Pernah Dianggap Penyakit “Tidak Suci”
Pada masa kuno, vitiligo kerap disalahartikan sebagai penyakit menular atau bahkan hukuman ilahi.
Dalam terjemahan kitab Leviticus sekitar 250 SM, istilah Zara’at—yang merujuk pada berbagai penyakit kulit—diterjemahkan sebagai “lepra”. Kesalahan ini memicu stigma bahwa kondisi kulit seperti vitiligo dianggap “tidak bersih”.
Sejarawan Yunani Herodotus bahkan mencatat bahwa individu dengan kondisi kulit tertentu dianggap telah “berdosa terhadap matahari” dan harus dijauhi.
Ak ibatnya, selama berabad-abad penderita vitiligo menghadapi diskriminasi sosial, mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan hingga hambatan dalam pernikahan.
Asal Usul Istilah Vitiligo
Istilah “vitiligo” sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Latin vitelius, yang berarti “daging anak sapi”—menggambarkan warna pucat pada kulit.
Nama ini kemudian digunakan oleh Aulus Cornelius Celsus dalam karya medis klasiknya De Medicina pada abad pertama Masehi.
Penemuan Ilmiah yang Mengubah Pemahaman
Perkembangan ilmu pengetahuan pada era modern mulai mengubah cara pandang terhadap vitiligo.
Beberapa tonggak penting meliputi:
Andreas Vesalius (1533): menjelaskan struktur dasar kulit
Marcello Malpighi (1665): mengaitkan warna kulit dengan struktur tertentu
Giosue Sangiovanni (1819): pertama mendeskripsikan sel pigmen
Friedrich Henle (1837): mengidentifikasi sel pembentuk pigmen pada manusia
Moritz Kaposi (1879): menemukan hilangnya pigmen pada kulit vitiligo
Bruno Bloch (1917): membuktikan peran enzim pembentuk melanin
Dari rangkaian penemuan ini, akhirnya diketahui bahwa vitiligo disebabkan oleh kerusakan atau hilangnya fungsi melanosit, yaitu sel yang memproduksi pigmen kulit.
Dari Mitos ke Sains
Perjalanan panjang selama ribuan tahun menunjukkan bagaimana vitiligo beralih dari penyakit yang diselimuti mitos menjadi kondisi medis yang dapat dipahami secara ilmiah.
Meski begitu, stigma sosial yang muncul sejak zaman kuno masih terasa hingga saat ini di berbagai belahan dunia.
Vitiligo bukan sekadar kondisi kulit modern, melainkan penyakit dengan sejarah panjang yang dipenuhi kesalahpahaman.
Pemahaman ilmiah yang berkembang saat ini menjadi kunci untuk menghapus stigma dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari VR Foundation. Konten bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.*
Inung R Sulistyo




Vitiligo ternyata sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Simak sejarah lengkapnya dari zaman kuno hingga penemuan melanosit.