RIWARA.id - Naiknya harga plastik membuat para penggunanya terutama UMKM harus memutar otak, agar tidak merugi dalam membungkus barang dagangannya.
Kenaikan bahan baku plastik tersebut dipicu oleh gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik.
Kenaikan harga bahan baku plastik (naphta) saat ini cukup signifikan, dari sekitar 600 dolar per ton menjadi 900 dolar per ton.
Permasalahan otomatis ini memicu lonjakan harga plastik yang berdampak pada pelaku UMKM, terutama sektor makanan dan minuman.
Sebab, plastik digunakan UMKM sebagai kemasan primer, sementara sektor lain seperti furnitur dan tekstil hanya menggunakan bahan baku plastik sebagai kemasan sekunder.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, mengatakan kenaikan harga plastik disebabkan oleh gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik.
“Kenaikan harga plastik dipengaruhi terganggunya pasokan secara global akibat ketegangan politik di Selat Hermus. Hal itu berdampak pada naiknya harga naphta sebagai bahan baku plastik,” tuturnya dikutip Riwara.id dar i laman jatengprov.go.id, Minggu 12 April 2026.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Pemprov Jateng mengusulkan dua langkah alternatif kepada Gubernur.
Pertama, dalam jangka pendek, Pemprov Jateng akan bekerja sama dengan kepolisian dalam melakukan monitoring dan pengawasan, serta mencegah penimbunan plastik oleh oknum.
Selain itu, kampanye pengurangan plastik sekali pakai juga akan dimasifkan melalui penggunaan tumbler, tas belanja reusable, serta pengurangan konsumsi plastik.
“Dalam waku dekat, kami akan ke lapangan bersama kepolisian untuk mencegah penimbunan plastik. Kami juga akan memperkuat gerakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai,” jelas Emmy.
Untuk jangka menengah dan jangka panjang, Pemprov Jateng mendorong adanya penggunaan bioplastik, dengan campuran bahan baku pati singkong.
Meski harganya lebih mahal dibanding plastik berbasis petrokimia, penggunaan bioplastik dinilai perlu dicoba secara bertahap.
Emmy mengimbau masyarakat untuk bisa mulai beradaptasi dengan penggunaan plastik berbahan baku ramah lingkungan.
"Kami menghimbau masyarakat maupun UMKM untuk mulai mengganti penggunaan plastik dengan bahan yang ramah lingkungan. Hal ini justru bisa menjadi kesempatan u ntuk bertransformasi,” katanya.
Emmy menyebut jika substitusi awal bisa dilakukan sekitar 20 hingga 30 persen, sebelum beralih menjadi lebih luas.
Energi Terbarukan
Selain itu, Pemprov Jateng juga mendorong transformasi menuju industri hijau atau green industry.
Penggunaan energi terbarukan seperti panel surya, dinilai mampu menekan biaya produksi hingga 20 persen dan bahkan bisa lebih.
“Saat ini, kita harus mulai bertransformasi ke green industry, baik untuk IKM maupun industri besar, karena penghematan energi tersebut bisa menutup kenaikan biaya produksi,” imbuh Emmy.
Ayu Abriyani





Pemprov Jateng imbau masyarakat gunakan Bioplastik sebagai alternatif penggunaan plastik yang ramah lingkungan.