
RIWARA.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali mengguncang panggung geopolitik dunia. Dalam kunjungannya ke Asia pekan ini, ia secara terbuka menyerukan pembentukan koalisi baru yang terdiri dari negara-negara kekuatan menengah untuk menyeimbangkan dominasi Amerika Serikat dan China.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat berbicara di Seoul, di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik energi, perang, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
“Tujuan kita bukanlah menjadi bawahan dari dua kekuatan hegemonik,” tegas Macron di hadapan mahasiswa.
Ia menekankan bahwa dunia tidak seharusnya hanya bergantung pada dua poros kekuatan besar. Menurutnya, ketergantungan terhadap satu kekuatan dapat menciptakan kerentanan, baik secara ekonomi, politik, maupun keamanan.
Dunia Tidak Lagi Dua Kutub
Macron menilai dunia saat ini bergerak menuju sistem yang lebih kompleks, di mana banyak negara memiliki kepentingan dan kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Ia secara tegas menolak dominasi tunggal, baik oleh China maupun Amerika Serikat.
“Kita tidak ingin bergantung pada dominasi China, dan kita juga tidak ingin terlalu terpapar pada ketidakpastian Amerika Serikat,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran banyak negara terhadap fluktuasi kebijakan global, terutama dalam isu perdagangan, keamanan, dan energi.
Koalisi Negara Menengah Mulai Dibangun
Dalam visinya, Macron menyebut sejumlah negara yang dapat menjadi bagian dari koalisi kekuatan baru dunia. Negara-negara tersebut dinilai memiliki kesamaan nilai dan kepentingan strategis.
Beberapa di antaranya adalah:
Jepang
Korea Selatan
Australia
Brasil
Kanada
India
Macron menyebut bahwa negara-negara ini dapat bekerja sama dalam berbagai sektor strategis seperti kecerdasan buatan, energi, pertahanan, hingga teknologi ruang angkasa.
Menurutnya, jika koalisi ini terbentuk, dunia tidak lagi hanya dikendalikan oleh dua kekuatan besar, melainkan oleh jaringan negara yang lebih luas dan seimbang.
Isu Energi dan Perang Jadi Pemicu
Seruan Macron tidak muncul tanpa alasan. Dalam kunjungannya ke Asia, ia juga membahas dampak konflik global terhadap stabilitas energi, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Negara seperti Jepang dan Korea Selatan menjadi contoh nyata bagaimana konflik global berdampak langsung pada biaya energi dan stabilitas ekonomi.
Kenaikan harga energi dan gangguan pasokan membuat banyak negara mulai mempertanyakan ketergantungan mereka terhadap kekuatan global tertentu.
Strategi Lama yang Kembali Ditegaskan
Gagasan Macron sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal kepemimpinannya, ia telah mendorong agar Eropa memiliki posisi yang lebih mandiri dalam geopolitik global.
Pada 2023, saat kunjungan ke China, Macron sempat memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa Uni Eropa tidak boleh menjadi “vasal” Amerika Serikat, terutama dalam isu Taiwan.
Pendekatan ini sejalan dengan strategi yang pernah dibangun oleh Charles de Gaulle, yang menekankan kemandirian Eropa dari kekuatan besar dunia.
Sinyal Perubahan Tatanan Dunia
Analis menilai, pernyataan Macron merupakan sinyal kuat bahwa dunia tengah bergerak menuju tatanan baru.
Jika sebelumnya dunia didominasi oleh dua kekuatan besar, kini muncul kemungkinan terbentuknya blok baru yang lebih fleksibel dan berbasis kepentingan bersama.
Koalisi negara menengah ini berpotensi:
mengurangi dominasi geopolitik
menciptakan keseimbangan baru
memperkuat kerja sama lintas kawasan
memperluas pengaruh negara berkembang
Dampak ke Dunia dan Indonesia
Perubahan peta kekuatan global ini tidak hanya berdampak pada negara besar, tetapi juga negara berkembang termasuk Indonesia.
Jika koalisi ini terbentuk, maka:
peluang kerja sama ekonomi bisa semakin luas
persaingan global bisa lebih seimbang
ketergantungan terhadap satu blok bisa berkurang
Namun di sisi lain, dunia juga berpotensi menghadapi ketidakpastian baru jika persaingan antarblok semakin tajam.
Seruan Macron menjadi penanda bahwa dunia sedang berada di titik perubahan besar. Di tengah ketegangan global yang terus meningkat, munculnya koalisi kekuatan menengah bisa menjadi penyeimbang baru atau justru membuka babak baru persaingan geopolitik dunia.*
Inung R Sulistyo





Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pembentukan koalisi negara kekuatan menengah untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan China. Seruan ini dinilai sebagai sinyal perubahan besar dalam tatanan geopolitik global.