RIWARA.id - Bursa saham Asia diproyeksikan menguat pada pembukaan perdagangan Kamis, 2 April 2026, mengikuti reli di pasar saham Amerika Serikat serta penurunan harga minyak dunia yang memicu optimisme meredanya konflik Iran.
Kontrak berjangka indeks saham utama di kawasan—mulai dari Jepang, Hong Kong, Australia hingga Korea Selatan—terpantau bergerak naik. Sentimen positif ini sejalan dengan kinerja Wall Street, di mana indeks S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq 100 melonjak 1,2% pada Rabu, sekaligus mencetak level tertinggi dalam sepekan.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 1% pada awal perdagangan Asia. Penurunan ini terjadi menjelang pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai pasar berpotensi memberi sinyal deeskalasi konflik.
Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,2%, berbanding terbalik dengan emas yang melonjak 1,9% sebagai aset lindung nilai. Di pasar obligasi, pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah AS (Treasury) cenderung beragam, mencerminkan respons investor terhadap data ekonomi terbaru yang tetap solid, termasuk pasar tenaga kerja dan penjualan ritel.
Sentimen Risk-On Menguat
Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset berisiko (risk-on), seiring tumbuhnya keyakinan bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama.
Analis global menilai, harapan terhadap resolusi konflik menjadi pendorong utama reli pasar dalam beberapa hari terakhir. Dari Gedung Putih, pejabat menyebut Donald Trump kemungkinan akan mengklaim keberhasilan operasi militer dan membuka peluang penghentian aksi dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Trump menyatakan Iran telah meminta gencatan senjata, meski klaim tersebut dibantah oleh pemerintah Iran yang menyebutnya tidak berdasar.
Komentar Trump yang menyebut konflik dapat berakhir dalam dua hingga tiga minggu menjadi katalis utama yang mendorong lonjakan pasar saham global.
Risiko Global Masih Membayangi
Meski optimisme meningkat, sejumlah pelaku pasar mengingatkan bahwa dampak ekonomi dari konflik belum sepenuhnya hilang.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz—yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia—masih menjadi perhatian utama. Pemulihan pasokan dinilai tidak akan terjadi secara instan meskipun konflik mereda.
Ekonom juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global hingga rese si, terutama jika gangguan terhadap sektor energi terus berlanjut.
Fokus Data Asia
Dari kawasan Asia, investor turut mencermati sejumlah rilis data penting, termasuk inflasi Korea Selatan, data perdagangan Australia, serta indeks manufaktur India. Data ini akan menjadi penentu arah lanjutan pasar di tengah sentimen global yang mulai membaik.*
Inung R Sulistyo





Bursa Asia diproyeksikan menguat mengikuti reli S&P 500 dan Nasdaq 100. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun di tengah harapan meredanya konflik Iran.