
RIWARA.id — Imbauan kerja dari rumah (work from home/WFH) satu hari dalam sepekan dinilai tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga berpotensi mengurangi kemacetan di kota-kota besar.
Kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026 ini mendorong perusahaan untuk mengurangi mobilitas pekerja, setidaknya satu hari dalam sepekan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut, pengurangan perjalanan harian pekerja menjadi salah satu kunci utama dari kebijakan ini.
Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, jutaan pekerja melakukan perjalanan setiap hari dari rumah ke tempat kerja. Mobilitas tinggi inilah yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kemacetan.
Dengan skema WFH satu hari dalam sepekan, jumlah kendaraan di jalan diperkirakan dapat berkurang secara signifikan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.
Jika diasumsikan satu hari dari lima hari kerja dialihkan menjadi WFH, maka potensi penurunan volume kendaraan bisa mencapai sekitar 20 persen.
Penurunan ini dinilai cukup signifikan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, meski tidak sepenuhnya menghilangkan kemacetan.
Selain itu, berkurangnya kendaraan di jalan juga berdampak pada efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM), karena kendaraan yang tetap beroperasi dapat bergerak lebih lancar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyebut, penghematan BBM dari kebijak an ini berpotensi mencapai Rp59 triliun.
Tak hanya soal BBM, dampak lain yang bisa dirasakan adalah penurunan emisi gas buang kendaraan, yang berkontribusi pada perbaikan kualitas udara di perkotaan.
Namun, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada jumlah perusahaan yang menerapkan WFH serta sektor yang dapat beradaptasi dengan sistem kerja jarak jauh.
Sejumlah sektor seperti manufaktur, transportasi, dan layanan publik tetap membutuhkan kehadiran fisik pekerja, sehingga kontribusi pengurangan kemacetan menjadi terbatas.
Di sisi lain, perubahan pola kerja juga membutuhkan kesiapan infrastruktur digital serta disiplin pekerja dalam menjaga produktivitas.
Pengamat transportasi menilai, WFH satu hari dalam sepekan dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengurangi tekanan lalu lintas, namun tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh.
Meski demikian, kebijakan ini dinilai sebagai langkah awal yang relevan dalam mendorong perubahan pola mobilitas masyarakat di era kerja fleksibel.*
Inung R Sulistyo






WFH satu hari sepekan berpotensi mengurangi kemacetan di kota besar. Yassierli mendorong pengurangan mobilitas pekerja.