RIWARA.id – Raksasa dirgantara Airbus berhasil menuntaskan uji terbang perdana pesawat tanpa awak (UAV) pencegat teranyar yang dijuluki "Bird of Prey".
Pesawat ini dirancang khusus untuk memburu dan merontokkan drone lawan di udara menggunakan rudal canggih Mark 1 C-UAS buatan Frankenburg, Estonia.
Dikutip dari turdef.com, berbeda dengan konsep drone pencegat murah yang umumnya menabrakkan diri (kamikaze), Bird of Prey mengadopsi sistem pesawat tempur konvensional yang bisa digunakan berulang kali.
Pesawat ini diluncurkan menggunakan ketapel (catapult) dan mampu membawa hingga empat unit rudal Mark 1 sekaligus, memungkinkannya menghadapi serangan drone dalam jumlah banyak atau salvo.
Rudal Mark 1 yang menjadi senjata utama pesawat ini memiliki bobot kurang dari dua kilogram namun mampu menjangkau target sejauh dua kilometer.
Rudal ini dibekali pencari optik berbantuan kecerdasan buatan (AI) yang secara otomatis dapat mengenali target.
Penggunaan AI ini sangat krusial untuk melumpuhkan ancaman terbang rendah dan lambat yang selama ini sulit dideteksi sistem pertahanan konvensional.
Keunggulan utama dari sistem Bird of Prey adalah efisiensi biaya dalam perang atrisi.
Di medan tempur modern seperti Ukraina, penggunaan rudal pertahanan udara yang mahal untuk menjatuhkan drone murah sering kali menguras sumber daya militer.
Airbus menawarkan solusi melalui UAV yang ditenagai mesin turbojet ganda ini, yang dapat kembali ke pangkalan menggunakan parasut setelah misi selesai.
Kehadiran Bird of Prey menandai pergeseran strategi pertahanan udara global dalam menghadapi ancaman drone jarak jauh.
Dengan kombinasi pesawat yang dapat digunakan kembali dan rudal berbiaya rendah, sistem ini diharapkan mampu menjaga kesiapan tempur tanpa harus menguras anggaran pertahanan secara berlebihan. (*)
Ari Kristyono




Airbus sukses uji coba Bird of Prey, drone pencegat pembawa rudal AI Mark 1 untuk rontokkan drone kamikaze secara efisien.