RIWARA.id – Dunia militer internasional kembali dikejutkan oleh klaim terbaru dari Teheran. Angkatan Darat Republik Islam Iran mengonfirmasi penggunaan amunisi jelajah (loitering munition) terbaru mereka, Arash-2, dalam sebuah serangan yang menyasar Bandara Ben Gurion, Israel, pada Senin (23/3/2026).
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Naeini, menyatakan bahwa drone kamikaze ini berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling rapat di dunia.
Meski hingga kini belum ada verifikasi independen dari pihak ketiga mengenai total kerugian materiil di bandara tersebut, peristiwa ini menjadi sinyal merah bagi peta pertahanan udara global.
Evolusi Sang Predator: Dari Shahed ke Arash-2
Iran memang bukan pemain baru dalam indu stri pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV). Jika sebelumnya dunia lebih mengenal Shahed-136 sebagai "lebah bising" yang menghancurkan infrastruktur energi di Ukraina, maka Arash-2 hadir sebagai evolusi yang lebih mematikan.
Arash-2 pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 2022. Drone ini dirancang khusus untuk memprioritaskan jangkauan yang lebih jauh dan kemampuan penetrasi yang lebih baik terhadap sistem radar lawan. Berbeda dengan Shahed-136 yang sering mengandalkan jumlah massal atau strategi swarming (pengeroyokan) untuk melumpuhkan pertahanan lawan, Arash-2 lebih menyerupai "elang" yang membidik sasaran strategis dengan presisi lebih tinggi.
Perbandingan Spesifikasi: Jangkauan dan Daya Ledak
Secara teknis, Arash-2 membawa peningkatan signifikan. Drone ini memiliki jangkauan operasional antara 1.500 hingga 2.000 kilometer. Jarak ini jauh lebih luas dibandingkan Shahed-136 yang berada di kisaran 1.000 hingga 1.500 kilometer. Dengan jangkauan sejauh itu, Iran mampu meluncurkan serangan dari wilayah pedalamannya sendiri dan tetap mampu menjangkau target-target vital di jantung wilayah lawan.
Dari sisi hulu ledak, Arash-2 dibekali kapasitas muatan antara 30 hingga 50 kilogram peledak. Sementara itu, Shahed-136 mengusung muatan yang sedikit lebih ringan, yakni 20 hingga 40 kilogram. Peningkatan hulu ledak ini memastikan bahwa satu hantaman Arash-2 memiliki daya rusak yang cukup untuk melumpuhkan hanggar pe s awat, instalasi radar, hingga pusat komando komunikasi.
Teknologi "Siluman" Orang Miskin
Salah satu keunggulan Arash-2 yang paling ditakuti adalah penampang radarnya yang sangat kecil. Melalui desain badan pesawat yang dioptimalkan serta pemilihan material khusus, Arash-2 mampu meminimalkan deteksi radar lawan. Meskipun bukan pesawat siluman (stealth) dalam arti konvensional seperti F-35, fitur ini secara efektif memperpendek waktu reaksi bagi sistem pertahanan udara musuh.
Ditenagai oleh mesin piston dengan efisiensi bahan bakar yang telah dioptimalkan, Arash-2 memiliki durasi penerbangan yang lebih lama dan rute yang fleksibel. Drone ini bisa terbang di ketinggian rendah, mengikuti kontur bumi untuk menghindari tangkapan radar jarak jauh, sehingga kehadirannya sering kali baru disadari sesaat sebelum benturan terjadi.
Perang Asimetris: Murah tapi Mematikan
Mengapa senjata ini disebut sebagai "neraka" bagi negara dengan pertahanan canggih? Jawabannya terletak pada efisiensi biaya. Satu unit Shahed-136 diperkirakan hanya berharga antara USD 20.000 hingga USD 50.000 (sekitar Rp315 juta – Rp785 juta). Sedangkan Arash-2 yang lebih canggih ditaksir memiliki harga USD 100.000 hingga USD 150.000 (sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp2,3 miliar).
Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan harga satu rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat yang mencapai USD 2 juta, atau rudal pencegah milik Israel yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per peluncuran. Inilah inti dari perang asimetris; Iran menggunakan "rudal jelajah orang miskin" untuk memaksa lawan menghabiskan amunisi pertahanan yang jauh lebih mahal.
Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Naeini menekankan bahwa Iran mampu mempertahankan laju produksi yang sangat cepat. Hal ini menunjukkan bahwa sistem Arash-2 ditujukan untuk penyebaran skala besar dan berkelanjutan. Dengan kombinasi harga murah, jangkauan jauh, dan daya tembus radar yang mumpuni, Arash-2 kini resmi menjadi salah satu instrumen diplomasi militer paling menakutkan dari Teheran di panggung dunia. (*)
Ari Kristyono


Mengenal Shahed dan Arash-2, drone kamikaze Iran yang diklaim tembus radar Israel. Intip spesifikasi dan harga drone murah tapi mematikan ini.