Riwara.id – Banyak masyarakat kini mulai was-was pada kondisi geopolitik antara Iran dan Amerika yang makin memanas dan akan berdampak pada nilai tukar rupiah dan dampak ekonomi lainnya.
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan pekan depan. Hal ini didorong oleh penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong lonjakan harga minyak.
Dirangkum Riwara.id dari berbagai sumber, Senin, 23 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan melemah ke level 17.050 di hari pertama perdagangan usai libur Lebaran, Rabu, 25 Maret 2026.
Saat pembukaan pasar di hari Rabu kemungkinan besar rupiah ini akan melemah. Target pekan depan di angkadi Rp 17.050.
Penguatan nilai tukar dolar menjadi salah satu faktor utama mata uang garuda semakin tertekan. Di mana dolar akan semakin pekasa berkat kebijakan bank sentral banyak negara di dunia yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi.
Tidak sedikit negara seperti Australia yang malah menaikkan suku bunga di te ngah kekhawatiran inflasi imbas lonjakan harga energi, terutama minyak mentah jenis Brent yang kerap jadi patokan dunia diperkirakan bergerak di kisaran US$ 113 hingga US$ 116 per barel.
Kebijakan suku bunga tinggi kemungkinan besar akan terjadi kembali dan ini yang membuat indeks dolar kemungkinan akan menuju 101,10an dan ini akan berdampak terhadap kelemahan mata uang rupiah.
Di sisi lain, pemerintah dan Bank Indonesia sudah melakukan berbagai upaya agar nilai tukar rupiah bisa kembali menguat. Semisal BI terus melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional dan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri Indonesia.
Kemudian pemerintah juga berupaya untuk melakukan efisiensi anggaran, bertujuan untuk menjaga defisit anggaran tidak lebih dari 3% sesuai aturan yang ada. Namun di balik itu semua, dampak kondisi global masih memberikan pengaruh yang sangat kuat, terutama dari sisi lonjakan harga minyak dunia.
Secara domestik sebenarnya pemerintah dan Bank Indonesia sudah benar-benar berhati-hati bagaimana caranya agar rupiah ini kembali menguat. Tetapi eksternal begitu kuat, apalagi tentang impor bahan bakar minyak sehingga bisa menekan nilai tukar rupiah.***






Perang Iran Amerika masih berlanjut dan memanas, nilai tukar rupiah diprediksi loyo pekan depan