RIWARA.id – Idulfitri selalu identik dengan pelukan hangat, meja makan keluarga, dan pintu-pintu rumah yang terbuka untuk saling memaafkan. Namun bagi Presiden Prabowo Subianto, makna silaturahmi tak berhenti di dalam negeri—ia meluas hingga melintasi batas geografis, menjangkau para sahabat di panggung dunia.
Di tengah padatnya rangkaian kegiatan Lebaran, Presiden Prabowo tetap menyempatkan diri menjaga hubungan personal dengan para pemimpin negara sahabat. Bukan melalui forum resmi atau pertemuan bilateral yang kaku, melainkan lewat cara yang lebih sederhana dan hangat: sambungan telepon.
Momen ini terjadi setelah Presiden menjalani rangkaian panjang perayaan Idulfitri. Ia memulai dari malam takbiran di Sumatra Utara, kemudian melaksanakan Salat Idulfitri di Aceh—dua wilayah yang sarat makna religius dan historis—sebelum akhirnya kembali ke Jakarta untuk bersilaturahmi langsung dengan masyarakat dalam acara halal bihalal di Istana Merdeka.
Namun di balik agenda yang terlihat formal itu, tersimpan sisi lain dari diplomasi: pendekatan yang lebih manusiawi.
Sebagaimana dikutip riwara.id pada Senin, 23 Maret 2026 dari akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet (@sekretariat.kabinet), Presiden Prabowo melanjutkan silaturahmi Idulfitri dengan menghubungi sejumlah pemimpin dunia Muslim.
Nama-nama yang dihubungi bukan tokoh biasa. Mereka adalah figur penting dalam percaturan global: Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Raja Yordania Abdullah II, hingga Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Di balik percakapan singkat melalui telepon itu, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan selamat Idulfitri. Ada upaya menjaga kedekatan, membangun kepercayaan, dan merawat hubungan antarnegara dalam nuansa yang lebih personal.
Dalam dunia diplomasi modern yang sering kali didominasi kepentingan strategis dan kalkulasi politik, sentuhan seperti ini menjadi langka—namun justru memiliki dampak yang kuat. Sapaan hangat di hari raya dapat menjadi jembatan emosional yang memperkuat fondasi kerja sama jangka panjang.
Lebaran, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga ruang pertemuan nilai-nilai universal: persaudaraan, empati, dan rasa saling menghormati.
Bagi banyak masyarakat, silaturahmi berarti pulang kampung, bertemu orang tua, atau berkumpul dengan kerabat lama. Namun langkah Presiden Prabowo menunjukkan bahwa makna itu bisa berkembang lebih luas—bahwa hubungan antarbangsa pun dapat dirawat dengan semangat yang sama.
Ada pesan simbolik yang kuat dalam gestur sederhana ini: bahwa jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang untuk menjaga kedekatan. Bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, pendekatan yang hangat dan personal justru menjadi kunci untuk membangun kepercayaan.
Tidak berhenti pada nama-nama tersebut, beberapa kepala negara lainnya juga dijadwalkan akan dihubungi dalam waktu dekat, menunggu konfirmasi dari masing-masing negara. Ini menandakan bahwa upaya silaturahmi global ini bukan sekada r simbolis, melainkan bagian dari pendekatan diplomasi yang berkelanjutan.
Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, Indonesia melalui kepemimpinan Presiden Prabowo tampak ingin menegaskan posisinya sebagai negara yang tidak hanya aktif secara strategis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan internasional.
Lebaran tahun ini pun menghadirkan makna baru. Ia bukan hanya tentang kembali ke fitrah secara pribadi, tetapi juga tentang memperbaiki dan mempererat hubungan—baik antarindividu maupun antarnegara.
Dan di sebuah ruangan di Istana, dengan sebuah telepon di tangan, pesan itu dikirimkan ke berbagai penjuru dunia: bahwa persaudaraan, jika dirawat dengan tulus, tidak mengenal batas.*
Inung R Sulistyo


Di tengah Lebaran 2026, Prabowo Subianto menelepon Erdogan hingga Mohammed bin Salman. Silaturahmi hangat ini jadi simbol diplomasi humanis Indonesia.