Tender BBM Membesar, PT Pertamina (Persero) Tambah Impor RON 98 di Tengah Gejolak Energi Global

  • Inung R Sulistyo
  • Selasa, 24 Maret 2026 | 17:08 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

RIWARA.id, JAKARTA — Di saat harga minyak dunia melonjak liar dan jalur distribusi energi global terguncang, sebuah langkah senyap dilakukan PT Pertamina (Persero). Tanpa banyak sorotan publik, perusahaan pelat merah itu membuka tender besar untuk pengadaan bensin beroktan tinggi.

Nilainya tidak kecil. Total 210.000 barel bensin RON 98 disiapkan untuk dikirim sepanjang April 2026. Waktunya pun berdekatan dengan periode volatilitas tertinggi harga minyak dalam beberapa tahun terakhir—sebuah kebetulan yang sulit diabaikan.

Di balik dokumen tender yang diperoleh Riwara.id, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah ini sekadar rutinitas bisnis, atau langkah antisipatif menghadapi krisis energi global yang mulai terasa?

Lima Kargo, Dua Terminal Strategis

Berdasarkan dokumen tersebut, pengadaan BBM dibagi dalam lima kargo dengan skema cost and freight (CFR). Distribusi difokuskan pada dua terminal utama:

Plumpang (Jakarta) untuk pengiriman awal dan pertengahan April
Tanjung Uban (Kepulauan Riau) untuk distribusi wilayah barat Indonesia

Rinciannya:

50.000 barel (3–5 April, Plumpang)
50.000 barel (7–9 April, Tanjung Uban)
50.000 barel (12–14 April, Plumpang)
40.000 barel (15–17 April, Plumpang)
20.000 barel (18–20 April, Tanjung Uban)

Penawaran tender ditutup pada 24 Maret pukul 10.00 WIB dan berlaku hingga sore hari berikutnya.

Rutinitas atau Sinyal Kewaspadaan?

Melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, perusahaan sebelumnya juga melakukan tender serupa pada awal Maret. Saat itu, pengadaan mencakup solar sulfur rendah dan bensin RON 98 dalam jumlah signifikan.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari mekanisme reguler.

Namun, dalam konteks saat ini, istilah “rutin” menjadi relatif. Sebab, pasar energi global tengah berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bayang-Bayang Krisis Global

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengganggu stabilitas kawasan.

Dampak paling nyata terjadi di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Harga Minyak Melonjak, Risiko Membesar

Dalam kondisi tersebut, harga minyak bergerak ekstrem. Empat dari enam lonjakan terbesar harga Brent tercatat terjadi sejak konflik memanas.

Pada perdagangan terbaru:

Brent menyentuh US$103,71 per barel
WTI mencapai US$91,65 per barel

Meski sempat terkoreksi setelah pernyataan Presiden Donald Trump yang menun da eskalasi militer, volatilitas tetap tinggi.

Membaca Langkah Pertamina

Dalam situasi seperti ini, langkah pengadaan besar-besaran dapat dibaca sebagai strategi defensif:

Mengamankan stok domestik sebelum gangguan suplai memburuk
Mengunci harga sebelum lonjakan lebih tinggi
Menjaga stabilitas distribusi di tengah ketidakpastian global

Namun, pertanyaan yang tersisa tetap relevan: apakah volume ini cukup untuk meredam potensi krisis, atau justru menjadi indikasi bahwa tekanan yang lebih besar sedang diantisipasi?

Di tengah badai energi global, keputusan bisnis tak lagi sekadar soal suplai dan permintaan. Ia menjadi bagian dari strategi bertahan sebuah negara.

Dan dalam kasus ini, tender 210.000 barel mungkin bukan sekadar transaksi—melainkan sinyal awal bahwa Indonesia tengah bersiap menghadapi skenario terburuk.*

Pertamina membuka tender 210.000 barel bensin RON 98 untuk April 2026. Langkah ini muncul di tengah krisis energi global akibat konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News