Pasca Lebaran, Harga Cabai Tak Turun: Masih Tembus Rp131 Ribu per Kg

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 23 Maret 2026 | 15:13 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Lonjakan harga cabai rawit merah hingga Rp131 ribu per kilogram di pasar tradisional Setelah Lebaran 2026.
Lonjakan harga cabai rawit merah hingga Rp131 ribu per kilogram di pasar tradisional Setelah Lebaran 2026. (Foto: Dok. Riwara.id)

 

RIWARA.id - Alih-alih turun setelah Lebaran, harga sejumlah komoditas pangan justru masih bertahan tinggi. Cabai rawit merah bahkan masih berada di atas Rp100 ribu per kilogram, menandakan tekanan harga belum mereda di pasar tradisional.

Harga bahan pokok di pasar tradisional masih menunjukkan tren tinggi meski momentum Lebaran 2026 telah berlalu. Sejumlah komoditas strategis, terutama cabai, terpantau belum mengalami penurunan signifikan.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia per Senin (23/3/2026) pukul 11.00 WIB, harga cabai rawit merah tercatat sebesar Rp131.000 per kilogram. Angka ini naik 46,12% dan masih bertahan di level tinggi bahkan setelah Hari Raya Idulfitri.

Sementara itu, cabai rawit hijau berada di Rp63.400 per kilogram atau naik 9,4%. Untuk jenis lainnya, cabai merah besar tercatat Rp91.750 per kilogram, melonjak 74,1%, dan cabai merah keriting Rp83.000 per kilogram atau naik 57,94%.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah harapan masyarakat bahwa harga pangan akan mulai turun setelah Lebaran.

Di sisi lain, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional dalam keadaan stabil.

“Produksi baik, stok cukup, harga stabil. Masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau,” ujarnya dalam keterangan resmi, sehari sebelum Lebaran.

Namun, realitas di lapan gan menunjukkan harga masih bertahan tinggi, bahkan untuk sejumlah komoditas utama.

Sembako Lain Masih Mahal

Tak hanya cabai, harga komoditas hortikultura lain juga belum menunjukkan penurunan berarti.

Harga bawang merah ukuran sedang tercatat Rp68.400 per kilogram, naik 54,58%. Sementara bawang putih ukuran sedang mencapai Rp57.900 per kilogram atau meningkat 44,21%.

Komoditas beras pun masih berada di level tinggi di semua kategori. Beras kualitas bawah I tercatat Rp17.550 per kilogram, naik 21,45%, dan bawah II Rp17.750 per kilogram, naik 22,41%.

Beras medium I berada di Rp19.200 per kilogram atau naik 20%, sedangkan medium II Rp18.900 per kilogram, naik 19,24%. Untuk kualitas premium, beras super I mencapai Rp20.750 per kilogram, naik 20,64%, dan super II Rp20.300 per kilogram atau naik 21,19%.

Protein Hewani dan Minyak Goreng Ikut Bertahan Tinggi

Harga protein hewani juga belum turun signifikan. Daging ayam ras segar berada di level Rp50.200 per kilogram atau naik 17,7%.

Daging sapi kualitas I tercatat Rp168.650 per kilogram, naik 13,76%, sedangkan kualitas II Rp161.150 per kilogram atau naik 15,52%. Te lur ayam ras segar berada di Rp40.800 per kilogram, naik 22,52%.

Untuk komoditas lain, gula pasir premium tercatat Rp26.500 per kilogram, naik 32,5%, sementara gula lokal Rp21.800 per kilogram atau naik 16,27%.

Minyak goreng curah berada di Rp21.600 per kilogram, naik 11,05%. Minyak goreng kemasan bermerek I mencapai Rp27.950 per kilogram atau naik 22,05%, dan bermerek II Rp25.600 per kilogram, naik 17,16%.

Bertahannya harga pangan pasca Lebaran menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi bahan pokok belum sepenuhnya reda. Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak fluktuasi harga sembako.

Alih-alih mereda setelah puncak konsumsi Lebaran, harga justru masih “panas” di pasar—membuat harapan akan normalisasi harga dalam waktu dekat semakin diuji.*

 

Harga cabai masih tembus Rp131 ribu meski Lebaran usai. Data BI menunjukkan harga sembako bertahan tinggi, tekanan pangan belum mereda.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News