RIWARA.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada awal perdagangan Rabu (11/3/2026). Mata uang Garuda dibuka naik 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.863 per dolar AS.
Informasi ini dikutip dari riwara.id yang melansir kantor berita ANTARA pada Rabu, 11 Maret 2026.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah membaiknya sentimen global, terutama setelah penurunan harga minyak dunia yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh koreksi harga minyak yang sebelumnya melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak,” ujar Lukman di Jakarta, Rabu.
Harga Minyak Turun
Berdasarkan laporan yang dikutip d ari Anadolu Agency, harga minyak mentah global mulai terkoreksi setelah sebelumnya melonjak tajam.
Patokan minyak mentah internasional Brent diperdagangkan di kisaran 87,6 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar 84,2 dolar AS per barel.
Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melambung di atas 119 dolar AS per barel pada Senin (9/3). Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi penting dunia.
Kekhawatiran tersebut muncul seiring meningkatnya konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan Trump Jadi Sentimen Pasar
Menurut Lukman, penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir.
Trump mengatakan perang tersebut diperkirakan akan “segera berakhir”, meskipun ia menegaskan konflik tersebut belum tentu selesai dalam waktu dekat.
“Ada harapan dari pernyataan Trump yang akan mengamankan Selat Hormuz, dan pernyataannya bahwa perang akan berakhir tidak lama lagi. Walau belum tentu hal ini terjadi, namun memberikan sentimen positif bagi pasar,” kata Lukman.
Rupiah Masih Dibayangi Risiko
Meski demikian, Lukman menilai ketegangan geopolitik yang masih berlangsung tetap menjadi faktor risiko bagi pergerakan rupiah.
Selama konflik di Timur Tengah belum benar-benar mereda, volatilitas di pasar keuangan global masih berpotensi terjadi.
“Perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah,” ujarnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini.**
Inung R Sulistyo






Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Penurunan harga minyak dunia dan harapan meredanya konflik Timur Tengah menjadi sentimen positif bagi mata uang Garuda.