Apindo Beri Sinyal Waspada, Perang AS dan Iran Picu Harga Pangan Membengkak, Sektor Padat Karya Paling Rentan Terdampak

  • Windy Anggraina
  • Selasa, 10 Maret 2026 | 05:25 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id – Konflik berkepanjangan antara AS Israel dan Iran sampai saat ini belum tampak akan mereda. Serangan demi serangan terus dilakukan kedua belah pihak sehingga membawa dampak ekonomi global yang lebih luas.

Perang ini sangat berdampak pada kenaikan harga di sektor energi hingga pelemahan nilai tukar. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mewanti-wanti ketegangan tersebut bisa bikin biaya impor energi hingga pangan membengkak.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan risiko utama akibat konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global, khususnya di kawasan Selat Hormuz. 

Apalagi, jalur tersebut menjadi titik vital perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20% minyak dunia melewati wilayah tersebut.

"Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global," ujarnya seperti dikutip Riwara.id dari laman Apindo, Selasa, 10 Maret 2026.

Sebagai negara importir minyak, tekanan terse but berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal apabila harga energi global terkerek naik di atas asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Selain energi, yang harus diwaspadai adalah risiko rambatan terhadap inflasi pangan. Kenaikan harga energi akan berdampak pada biaya distribusi, logistik, dan transportasi komoditas pangan.

Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok, terutama jika dibarengi gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan menjadi aspek krusial yang perlu dijaga jika dampak konflik meluas dan berkepanjangan.

Dari sisi fiskal, apabila harga energi bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Shinta menilai penting bagi pemerintah untuk mengelola risiko ini secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap defisit dan pembiayaan utang negara.

Di sisi eksternal, dinamika risk-off global dapat meningkatkan volatilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi dan pangan, sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Dampak terhadap sektor usaha sendiri akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional akan merasakan tekanan langsung.

Tak hanya itu, sektor padat karya juga menjadi salah satu yang paling rentan. Sebab, margin yang tipis dan sensitivitas tinggi terhadap biaya distribusi, bahan baku impor, serta permintaan ekspor yang terganggu.

Walaupun hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, tapi akan berimbas efek tidak langsung melalui harga en ergi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan menjadi faktor yang jauh lebih relevan bagi dunia usaha nasional.

Dalam jangka pendek, pelaku usaha saat ini fokus pada langkah-langkah mitigasi risiko yang bersifat realistis dan adaptif. Pertama, melalui penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi.

Kedua, peningkatan efisiensi operasional. Ketiga, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin termasuk pengelolaan eksposur valas. Keempat, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.

"Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut," terangnya.

Apindo mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur, memperkuat cadangan dan distribusi logistik strategis, memastikan disiplin fiskal dan kebijakan moneter serta pengelolaan utang yang prudent, dan memberikan dukungan terarah kepada sektor-sektor ekonomi yang berpotensi terdampak.***

Apindo wanti wanti perang panjang Amerika dan Iran sangat berdampak pada industri padat karya dan harga pangan yang membengkak

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

Topic News