Jadi Andalan TNI AD, Ini Daftar Kecelakaan Helikopter Mi-17 Buatan Rusia Sejak Bergabung di Penerbad

Rabu, 04 November 2026 | 19:06 WIB
Helikopter Mi17v5 andalan TNI AD
Helikopter Mi17v5 andalan TNI AD (Foto: KanalKalimantan)

RIWARA.id – Helikopter angkut berat Mil Mi-17 buatan Rusia menjadi salah satu tulang punggung alutsista Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) dalam menjalankan berbagai misi strategis di seluruh penjuru nusantara.

Sejak mulai dioperasikan secara masif di jajaran militer Indonesia melalui beberapa kontrak pengadaan bertahap, burung besi tangguh ini memegang peran vital di berbagai palagan berat.

Saat menerima 6 unit helikopter tersebut pada tahun 2011, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebut  Indonesia memang memfokuskan pengadaan alat utama sistem senjata multifungsi seperti helikopter Mi-17 yang dapat digunakan untuk Operasi Militer Perang maupun Operasi Militer Selain Perang.

"Geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau sekitar 17 ribu pulau, sangat memerlukan dukungan moda transportasi termasuk transportasi militer untuk menjangkau daerah-daerah yang tersebar itu, terutama daerah yang tidak bisa didarati pesawat besar maupun sedang," katanya.

Mulai dari misi pendorongan logistik dan personel ke pos pengamanan perbatasan (Pamtas) terluar, operasi evakuasi medis, hingga misi kemanusiaan penanggulangan bencana alam.

Namun, tingginya intensitas penggunaan pesawat yang bergabung di Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) TNI AD di berbagai medan ekstrem dan cuaca yang tidak menentu membuat armada andalan ini beberapa kali menghadapi ujian berat di lapangan.

Deretan insiden kecelakaan fatal (total loss) yang melibatkan helikopter seri Mi-17 mencatat sejarah duka tersendiri bagi dunia penerbangan militer Indonesia dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Catatan kelam tersebut bermula pada 9 November 2013, tatkala sebuah unit helikopter Mi-17V5 mengalami kecelakaan tragis di Desa Apauping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Helikopter yang mengangkut material bangunan pos perbatasan beserta warga sipil tersebut terhempas dan terbakar di dekat jurang saat hendak mendarat di helipad, menelan 13 korban jiwa dari total 19 orang di dalam kabin.

Operasi penerbangan militer ini kembali berduka ketika helikopter Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5138 hilang kontak di pegunungan ekstrem Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada 28 Juni 2019.

Misi pendorongan logistik menuju pos perbatasan tersebut berakhir tragis setelah pesawat menabrak tebing akibat cuaca buruk, mengakibatkan 12 prajurit terbaik gugur di lokasi kejadian.

Setahun berselang, tepatnya pada 6 Juni 2020, kecelakaan melibatkan unsur pelatihan taktis terjadi di Kawasan Industri Kendal (KIK), Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Helikopter Mi-17V5 registrasi HA-5141 mendadak hilang kendali saat menjalani latihan terbang taktis, jatuh terbakar, dan merenggut nyawa 5 orang prajurit Penerbad dari total 9 awak di dalamnya.

Rangkaian sejarah insiden tersebut bertambah panjang menyusul peristiwa terbaru pada Rabu (4/11/2026) di perairan Kuala Pembuang, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Helikopter Mi-17V5 dengan nomor registrasi HA-5235 yang dikerahkan untuk misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (water bombing) mengalami pendaratan darurat di tengah tugas negara.

Insiden di perairan Seruyan tersebut mengonfirmasi gugurnya satu awak helikopter, sementara lima personel lainnya selamat dan dua orang lainnya sempat berada dalam proses pencarian intensif tim SAR gabungan.

Rekaman panjang insiden ini menegaskan bahwa di balik ketangguhan performa angkutnya, operasional helikopter Mi-17 di Indonesia senantiasa dihadapkan pada tantangan risiko geografis dan teknis yang sangat tinggi. (*)

Rekaman sejarah kecelakaan helikopter Mi-17 TNI AD di Indonesia, mulai dari Malinau, Papua, Kendal, hingga insiden terbaru di Seruyan.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories