Profil dan Rekam Jejak Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution, Eks Ajudan Prabowo yang Terseret Kasus Penyadapan Ilegal

Selasa, 03 November 2026 | 21:37 WIB
Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution
Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution (Foto: IST)

JAKARTA, RIWARA.ID - Nama Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution menjadi sorotan setelah Bareskrim Polri menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal. Perwira tinggi Polri yang pernah menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto itu memiliki rekam jejak panjang, mulai dari bertugas di Jawa Timur hingga menduduki jabatan strategis di Mabes Polri.

Penetapan tersangka tersebut diumumkan Kabareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Dalam perkara ini, penyidik menetapkan tiga orang tersangka. Mereka adalah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Kadivkum Polri Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution, serta Irjen Pol. Eko Hadi Santoso.

Ketiganya diduga terlibat dalam praktik penyadapan tanpa prosedur resmi terhadap sejumlah pihak, mulai dari Presiden RI, pejabat negara, tokoh politik, media, hingga organisasi masyarakat.

Di tengah mencuatnya kasus tersebut, perjalanan karier Ahrie Sonta Nasution turut menarik perhatian publik. Sosok yang dikenal memiliki pengalaman di berbagai bidang kepolisian ini pernah menangani sejumlah perkara besar dan berada di lingkaran dekat Presiden Prabowo.

Lantas, siapa sebenarnya Irjen Ahrie Sonta Nasution? Berikut profil, biodata, pendidikan, dan rekam jejak kariernya.

Profil Irjen Ahrie Sonta Nasution

Irjen Pol. Dr. Ahrie Sonta Nasution merupakan perwira tinggi Polri kelahiran Bandung, Jawa Barat, 2 April 1981. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2002 dari Batalyon Wicaksana Laghawa.

Perjalanan kariernya terbilang panjang. Ahrie pernah bertugas di satuan lalu lintas, reserse narkoba, hingga penanganan tindak pidana siber. Pengalaman tersebut mengantarkannya menduduki sejumlah jabatan penting di tubuh Polri.

Namanya semakin dikenal setelah dipercaya menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur Polri pada Oktober 2024. Jabatan tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kariernya sebelum kemudian memperoleh promosi menjadi jenderal bintang satu dan bintang dua.

Pada usia 45 tahun, Ahrie juga tercatat sebagai salah satu perwira tinggi Polri yang mencapai pangkat Inspektur Jenderal (Irjen) paling muda.

Rekam Jejak Karier Irjen Ahrie Sonta Nasution

1. Mengawali Karier Kepolisian di Jawa Timur

Sebelum dikenal di tingkat nasional, Ahrie Sonta Nasution lebih dahulu menghabiskan sebagian perjalanan kariernya di wilayah Jawa Timur.

Saat berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP), ia pernah mengemban sejumlah jabatan di bidang lalu lintas. Di antaranya sebagai Kasat Lantas Polres Tuban dan Kasat Lantas Polres Sidoarjo.

Ia juga pernah bertugas sebagai Paur Samsat Surabaya Timur Subdit Regident Ditlantas Polda Jatim pada 2012.

Pengalaman di wilayah Jawa Timur menjadi salah satu pijakan awal bagi Ahrie sebelum beralih ke sejumlah satuan yang menangani perkara dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.

2. Terlibat Pengungkapan Narkoba 1,6 Ton dan Penangkapan Djoko Tjandra

Karier Ahrie mulai mendapat perhatian ketika bertugas di Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya pada 2018.

Saat itu, ia terlibat dalam pengungkapan kasus penyelundupan narkoba seberat 1,6 ton yang diduga berasal dari jaringan Taiwan di Kepulauan Riau.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan kariernya di bidang reserse.

Dua tahun kemudian, Ahrie kembali terlibat dalam perkara besar. Pada Juli 2020, ketika bertugas sebagai penyidik Dittipidsiber Bareskrim Polri, ia masuk dalam tim yang menangkap buronan kasus Bank Bali, Djoko Tjandra, di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tim tersebut dipimpin oleh Komjen Listyo Sigit Prabowo, yang saat itu menjabat Kabareskrim Polri.

Penangkapan Djoko Tjandra menjadi salah satu operasi yang menyita perhatian publik. Keterlibatan Ahrie dalam tim tersebut turut memperkuat rekam jejaknya di bidang penegakan hukum.

3. Menjadi Kapolres Tanjung Priok dan Mendapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa

Pada Agustus 2020, Ahrie dipercaya menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok.

Kariernya kemudian berlanjut ketika ia menjadi satu-satunya Kapolres yang mendampingi Listyo Sigit Prabowo dalam proses uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Kapolri di DPR RI pada Januari 2021.

Sebulan kemudian, Ahrie diangkat sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri.

Pada Agustus 2021, ia memperoleh Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol).

Ahrie disebut sebagai lulusan Akpol 2002 pertama yang mendapatkan kenaikan pangkat tersebut.

4. Dipercaya Menjadi Ajudan Presiden Prabowo Subianto

Salah satu posisi yang membuat nama Ahrie semakin dikenal masyarakat adalah ketika ia ditunjuk menjadi ajudan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024.

Ahrie mewakili unsur Polri dalam jajaran ajudan Presiden. Penunjukan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya di lingkungan pemerintahan dan kepolisian.

Setelah menjalani tugas sebagai ajudan Presiden, Ahrie kembali memperoleh promosi jabatan.

Pada Oktober 2025, ia naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal Polisi. Dengan promosi tersebut, Ahrie tercatat sebagai jenderal bintang satu pertama dari angkatan Akpol 2002.

5. Menjabat Kadivkum Polri dengan Pangkat Irjen

Perjalanan karier Ahrie berlanjut pada Oktober 2026. Ia dipromosikan menjadi Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi. Promosi tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026.

Jabatan Kadivkum Polri merupakan posisi strategis yang berkaitan dengan fungsi hukum di lingkungan institusi kepolisian.

Namun, belum lama setelah memperoleh jabatan tersebut, nama Ahrie kembali menjadi perhatian publik menyusul penetapan dirinya sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal oleh Bareskrim Polri.

Pendidikan Irjen Ahrie Sonta Nasution

Selain memiliki pengalaman di bidang operasional kepolisian, Ahrie juga mempunyai latar belakang akademis.

Ia meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian pada 2018 melalui beasiswa Polri dengan predikat cumlaude.

Disertasinya membahas reformasi budaya kepolisian di tingkat kepolisian resor (polres). Kajian tersebut berkaitan dengan upaya perubahan budaya organisasi di lingkungan kepolisian.

Ahrie juga menyelesaikan pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (SESPIMTI) Polri pada 2024. Dalam pendidikan tersebut, ia disebut meraih predikat terbaik pada matrikulasi penyetaraan.

Selain pendidikan formal dan kedinasan di dalam negeri, Ahrie juga pernah mengikuti berbagai pendidikan kejuruan di luar negeri.

Biodata Irjen Ahrie Sonta Nasution

Berikut biodata Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution berdasarkan informasi yang tersedia:

Nama lengkap: Irjen Pol. Dr. Ahrie Sonta Nasution, S.H., S.I.K., M.H., M.PICT

Tempat lahir: Bandung, Jawa Barat

Tanggal lahir: 2 April 1981

Pendidikan kepolisian: Akademi Kepolisian (Akpol) 2002

Pangkat: Inspektur Jenderal Polisi (Irjen)

Jabatan: Kepala Divisi Hukum Polri

Pendidikan akademis: Doktor Ilmu Kepolisian

Agama: Islam

Instagram: @ahriesonta

Itulah profil dan rekam jejak Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution yang ditetapkan sebagai tersangka penyadapan ilegal. Catatan redaksi: Penetapan tersangka merupakan bagian dari proses hukum dan tidak dengan sendirinya membuktikan seseorang bersalah. Asas praduga tak bersalah tetap berlaku hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. ***

Profil Irjen Ahrie Sonta Nasution, eks ajudan Presiden Prabowo yang ditetapkan sebagai tersangka kasus penyadapan ilegal. Simak biodata, pendidikan, dan perjalanan kariernya di Polri.

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories