BPS Catat Potensi Produksi Beras Capai 7,06 Juta Ton hingga November 2026, Nilai Tukar Petani Naik Tipis

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:10 WIB
Ilustrasi padi
Ilustrasi padi (Foto: Ari Kristyono)

RIWARA.id – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan potensi produksi beras nasional pada periode September hingga November 2026 mencapai 7,06 juta ton di tengah naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,49 persen.

Proyeksi volume beras tersebut ditopang oleh estimasi produksi padi yang diperkirakan menyentuh angka 12,24 juta ton gabah kering giling (GKG) dalam tiga bulan ke depan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan data tersebut dalam acara Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Potensi luas panen padi sepanjang September hingga November 2026 diperkirakan mencapai 2,23 juta hektare.

Angka luas panen tersebut mencatatkan penurunan sebesar 12,97 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sejalan dengan pengerutan luas lahan panen, potensi produksi padi diperkirakan terkoreksi sebesar 11,96 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut berdampak pada proyeksi produksi beras yang juga mengalami penurunan sebesar 11,95 persen dibandingkan periode September-November 2025.

Sementara itu, untuk realisasi luas panen padi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 1,08 juta hektare, atau turun 2,83 persen dibandingkan Agustus 2025 yang menembus 1,11 juta hektare.

Penurunan luas lahan panen pada Agustus lalu menyurutkan produksi padi sebesar 2,94 persen, dari 5,63 juta ton GKG menjadi 5,46 juta ton GKG.

Adapun produksi beras pada Agustus 2026 terealisasi sebanyak 3,15 juta ton, atau menyusut 2,90 persen dibandingkan pencapaian Agustus tahun sebelumnya.

Meski demikian, secara akumulatif, realisasi luas panen padi sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, masih tumbuh tipis 0,11 persen secara tahunan.

Di sisi kesejahteraan, NTP nasional pada September 2026 melesat ke level 131,11 atau menguat 1,49 persen dibanding Agustus 2026.

Peningkatan NTP ini didorong oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang melonjak 1,93 persen, melampaui kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang sebesar 0,44 persen.

BPS turut mencatat kenaikan rata-rata harga beras di seluruh tingkatan rantai pasok sepanjang September 2026.

Harga beras di tingkat penggilingan merangkak naik 0,81 persen secara bulanan, di tingkat grosir terkerek 0,61 persen, dan di tingkat eceran naik 0,80 persen.

Di sektor komoditas pangan lainnya, realisasi luas panen jagung pada Agustus 2026 tumbuh pesat hingga 0,29 juta hektare, atau melonjak 23,60 persen dibanding Agustus 2025.

Lonjakan luas panen tersebut sukses mendongkrak produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen menjadi 1,74 juta ton, naik signifikan 24,81 persen secara tahunan.

Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026, produksi jagung pipilan kering nasional telah menyentuh 11,86 juta ton atau naik 3,84 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. (*)

 

BPS proyeksi produksi beras 7,06 juta ton hingga November 2026. Nilai Tukar Petani (NTP) September naik jadi 131,11.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories