RIWARA.id – Awal musim hujan di Provinsi Jawa Tengah diprediksi bergeser hingga November 2026 akibat kepungan anomali iklim global El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Penundaan masa basah ini memicu potensi kekeringan yang lebih panjang, sehingga masyarakat serta sektor pertanian didesak mengambil langkah antisipasi cepat untuk menekan dampaknya.
Berdasarkan analisis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, indeks El Nino saat ini berada pada angka positif 2,63 yang tergolong sangat kuat.
Kondisi tersebut diperkirakan akan bertahan hingga awal 2027 dan menjadi penyebab utama mundurnya awal musim hujan lebih dari satu bulan dari siklus normal.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, menyebutkan bahwa sekitar 58 persen wilayah Jawa Tengah baru akan mengguyur hujan secara serentak pada November 2026.
Sementara itu, fenomena IOD positif yang bertahan hingga akhir tahun makin memperketat minimnya pembentukan awan hujan di kawasan ini.
Mespi demikian, tidak seluruh kawasan mengalami waktu yang sama. Sebanyak enam persen wilayah diperkirakan memasuki awal musim hujan lebih cepat pada dasarian pertama November 2026.
Wilayah yang masuk dalam zona awal ini meliputi Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, Purbalingga, Tegal, Brebes, Banyumas, dan porsi kecil Temanggung.
Di sisi lain, area yang paling lambat disapa hujan diprediksi baru memasuki masa basah pada pertengahan Desember 2026.
Daerah tersebut mencakup sebagian besar Kabupaten Jepara, sebagian Rembang, serta porsi kecil wilayah Demak, Pati, hingga Wonogiri.
Secara keseluruhan, durasi musim hujan 2026–2027 diproyeksikan berlangsung selama lima hingga enam bulan.
Adapun puncak musim hujan bakal terkonsentrasi pada Januari, Februari, dan Maret 2027, dengan porsi terbesar terjadi pada Januari mencakup 24 Zona Musim (Zom).
Menghadapi kemarau panjang akibat El Nino kuat ini, langkah utama yang wajib dilakukan masyarakat adalah menghemat penggunaan air bersih serta menyiapkan penampung air mandiri.
Masyarakat juga diminta menjaga kondisi fisik untuk menghadapi suhu panas terik selama sisa masa kemarau.
Untuk sektor pertanian, optimalisasi saluran irigasi menjadi kunci utama untuk mencegah kegagalan panen.
Para petani diimbau membersihkan sedimen dan sampah di jaringan irigasi agar distribusi air tetap lancar serta siap menampung debit air saat hujan mulai turun.
Langkah mitigasi berikutnya adalah penyesuaian pola tanam. Petani disarankan memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan atau mengencangkan efisiensi sistem pengairan sembari menunggu masuknya musim hujan pada November mendatang.
Selain bahaya kekeringan, masyarakat diperingatkan untuk mewaspadai masa pancaroba yang diprediksi mulai melanda pada pertengahan Oktober 2026.
Peralihan musim ini berpotensi memicu cuaca ekstrem seperti angin puting beliung, hujan es, dan kilat.
Saat puncak musim hujan tiba di awal tahun depan, ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor juga patut diantisipasi sejak dini.
Langkah pemangkasan ranting pohon lapuk dan pembersihan drainase pemukiman menjadi tindakan preventif yang harus segera dieksekusi.
Dengan kesiapsiagaan bersama antara masyarakat, petani, dan pemerintah daerah yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi, dampak kerugian dari pergeseran iklim ini diharapkan dapat diminimalkan semaksimal mungkin. (*)
Awal musim hujan Jateng mundur ke November 2026 akibat El Nino kuat. Simak langkah mitigasi dampak kekeringan dan bencana pancaroba.