SURABAYA, RIWARA.ID - Memasuki bulan September 2026, jagat media sosial dan ruang diskusi publik dihangatkan perbincangan hangat mengenai sebuah buku bertajuk "Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam." Buku yang sejatinya sudah meluncur sejak Agustus 2025 lalu ini mendadak jadi sorotan setelah muncul pertanyaan mendasar mengenai pencantuman nama sejumlah tokoh agama di dalam daftar isinya.
Sanggahan resmi berdatangan. Salah satunya datang dari pihak keluarga KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar. Melalui Ning Jazilah Annahdliyah, ditegaskan bahwa Gus Kautsar tidak pernah menulis materi khusus yang mencantumkan namanya di buku tersebut.
Hal serupa juga disampaikan mantan Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, yang menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan apa pun untuk proyek literasi ini.
Polemik ini tentu perlu diletakkan pada kacamata editorial dan penerbitan yang tepat. Berdasarkan data katalog Gramedia, Buku 'Islam Ala Prabowo' disusun oleh tiga orang penulis, yakni Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.
Buku yang dirilis dalam rangkaian Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2025 di Jakarta ini diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani, bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, dan bukan merupakan tulisan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Pangkal persoalan yang memicu riuh publik terletak pada teknis penyusunan dan penempatan nama tokoh. Penulisan nama ulama tepat di bawah judul bab berpotensi menimbulkan persepsi bahwa naskah tersebut adalah karya tulis langsung bersangkutan.
Namun hingga kini, pihak penyusun buku tersebut belum memberikan penjelasan yang transparan terkait polemik tersebut.
Gus Maftuch: Baca Utuh, Jangan Terjebak Judul
Di tengah simpang siur informasi, Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I), KH Mas Muhammad Maftuh, mengajak masyarakat untuk menyikapi dinamika ini secara dingin dan bijak.
Pria yang akrab disapa Gus Maftuh ini mengimbau agar publik membaca karya tersebut secara utuh dan tidak menyimpulkan substansi buku hanya dari tiga kata judulnya "Islam Ala Prabowo".
"Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo," tegas Gus Maftuh dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.
Ia menjelaskan bahwa buku tersebut pada dasarnya mengupas pemaknaan keislaman Presiden Prabowo Subianto dari pelbagai dimensi, mulai dari kehidupan personal, jejak karier, hingga langkah kepemimpinannya dalam menghadirkan Islam yang menyejukkan.
Mendorong Ruang Dialog, Menolak Polarisasi
Gus Maftuh menambahkan, dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, Islam hadir sebagai kekuatan moral untuk merawat persatuan dan keadilan sosial, bukan pembelah persaudaraan.
Ia pun menyayangkan jika perdebatan di media sosial kerap dipicu oleh potongan informasi, meme, atau opini dangkal yang belum membaca isi buku secara keseluruhan.
"Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian," lanjut Gus Maftuh.
Terlepas dari perdebatan atribusi penyusunan yang tengah diverifikasi oleh pihak penerbit, Gus Maftuh berharap kehadiran buku ini tidak dijadikan alat untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan.
"Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan, dan perdamaian. Indonesia ini rumah bersama," tutupnya. ***
Buku Islam Ala Prabowo menjadi polemik. Namun Gus Maftuh asal Surabaya yang juga dikenal memimpin Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia ini menyampaikan pesan mendalam. Apa itu?