Mirip Gunung Api di Hawaii, Apa itu Fenomena Lava Fountain Anak Krakatau dan Seberapa Bahaya?

Minggu, 06 September 2026 | 13:49 WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi Minggu 6 September 2026 dinihari WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi Minggu 6 September 2026 dinihari WIB dan mengeluarkan pijar api ke udara.

BANTEN, RIWARA.ID – Gelapnya malam di Selat Sunda mendadak berubah menjadi panggung pertunjukan alam yang mencekam sekaligus memukau. Pada Sabtu dinihari WIB, 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan memuntahkan energinya. Semburan warna merah menyala membumbung tinggi secara terus-menerus, memahat pemandangan dramatis yang dikenal para ahli sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava.

Tak sekadar menyajikan pemandangan pijar api di udara, erupsi ini membawa gelombang kejut yang dirasakan langsung oleh masyarakat di pesisir Banten.

Pintu Bergetar dan Dentuman yang Mengejutkan

Bagi warga Banten yang bermukim tak jauh dari garis pantai, Sabtu dini hari bukan malam yang tenang. Sekitar pukul 01.00 WIB, getaran samar mulai terasa merayap dari tanah. Gemuruh dan dentuman keras dari tengah laut disusul oleh guncangan yang cukup kuat hingga membuat pintu, jendela, serta tirai rumah warga berguncang sendiri.

Laporan dari BPBD Banten mengonfirmasi bahwa getaran akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau ini dirasakan beberapa kali oleh warga, dengan guncangan susulan yang cukup terasa kembali terjadi pada pukul 07.00 WIB.

Mengenal Lava Fountain: Air Mancur Pijar dari Perut Bumi

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa Gunung Anak Krakatau bisa menyemburkan warna merah membara dalam durasi yang cukup lama tanpa terputus?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa semburan pijar secara kontinu selama beberapa jam tersebut merupakan fenomena yang lazim dalam proses erupsi lava. Dalam ilmu vulkanologi, kondisi ini disebut sebagai lava fountain.

Lava fountain terjadi ketika magma cair merangkak naik ke permukaan dengan membawa gas terlarut dalam jumlah besar. Ketika gas tersebut terperangkap dan tidak bisa meloloskan diri dengan cepat, tekanan tinggi yang terkumpul akan "menembakkan" lelehan batuan pijar ke udara—persis seperti air mancur yang disemprotkan dengan tekanan tinggi.

Mengapa Mirip Gunung Api di Hawaii?

Secara ilmiah, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan magma basaltik, yaitu tipe magma yang cenderung lebih encer dan memiliki kekentalan (viskositas) rendah. Karena sifatnya yang encer, gas dapat mendorong lava keluar dalam bentuk semburan pijar yang spektakuler.

Mengutip penjelasan dari United States Geological Survey (USGS) dan Britannica, fenomena lava fountain kerap diidentikkan dengan aktivitas eksplosif tipe Hawaii yang sering dijumpai pada Gunung Kīlauea, atau Gunung Etna di Sisilia, Italia.

Meskipun ketinggian pasti dari kolom erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini sulit teramati karena tertutup pekatnya malam, semburan merah menyala dan aliran lava yang dihasilkan menjadi bukti nyata dinamika energi yang masih sangat aktif di bawah Selat Sunda. ***

Gunung Anak Krakatau kembali menyemburkan fenomena lava fountain atau air mancur lava. Simak penjelasan ilmiah PVMBG, dampak getaran warga, dan pemicunya di sini.

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories