SURABAYA, RIWARA.id - Prestasi membanggakan datang dari anak muda Indonesia. Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto, pelajar berusia 14 tahun dari SMP Negeri 1 Surabaya, sukses meraih first place atau Juara 1 pada ajang International Young Eco-Hero Award 2026 untuk kategori usia 8–14 tahun.
Hebatnya lagi, Harley berhasil menyisihkan 476 peserta yang berasal dari 49 negara dan 25 negara bagian di Amerika Serikat.
Penghargaan bergengsi ini digelar oleh Action For Nature, sebuah lembaga nirlaba internasional yang berkantor pusat di San Francisco, California. Pada edisi 2026 yang mencatatkan rekor peserta terbanyak sepanjang sejarahnya, hanya ada 16 anak dan remaja dari seluruh dunia yang terpilih sebagai penerima penghargaan. Harley menjadi salah satu yang terbaik berkat aksi nyatanya menjaga ekosistem pesisir.
Berawal dari Gerakan Mangrove Warrior
Langkah Harley mengharumkan nama Surabaya dan Indonesia dimulai saat ia menginisiasi gerakan Mangrove Warrior pada pertengahan 2025. Tidak sekadar membuat program, Harley terjun langsung ke kawasan pesisir Surabaya. Ia belajar secara mendalam mengenai pola pasang surut air laut, karakter tanah, hingga teknik pembibitan bersama para petani tambak di Wonorejo.
Dari proses belajar itu, Harley mulai membangun tempat pembibitan, menanam, dan telaten memantau perkembangan mangrove di area pesisir yang mengalami kerusakan. Hasilnya tak main-main, gerakan ini telah berhasil membudidayakan dan menanam lebih dari 38.000 bibit mangrove.
Dengan dukungan penuh dari sekolahnya, Wahana Visi Indonesia, serta Tunas Hijau, Harley memasang target menanam hingga 65.000 mangrove pada akhir 2026. Meski begitu, target tersebut rupanya baru langkah awal. Dalam jangka panjang, Harley bermimpi bisa menanam satu juta pohon mangrove di wilayah pesisir Indonesia.
Menembus Lumpur Pekat dan Air Setinggi Dada
Perjuangan Harley menyelamatkan lingkungan jelas tidak berjalan mudah. Lokasi restorasi berjarak sekitar 13 kilometer dari rumahnya. Demi mencapai titik penanaman, ia dan para relawan harus melintasi medan berat penuh lumpur pekat dan genangan air yang dalam.
Tak jarang, ia harus menerjang air laut setinggi dada sambi l mewaspadai akar-akar tajam yang tersembunyi di balik lumpur.
"Restorasi lingkungan yang nyata tidak pernah mudah. Butuh kesabaran, keberanian, dan kemauan untuk berdiri di air yang dalam serta lumpur yang tebal sambil terus bergerak maju," ungkap Harley saat diwawancarai, Kamis, 20 Agustus 2026.
Pengalaman lapangan ini makin menguatkan pemahamannya bahwa pemulihan alam adalah proses panjang. Perbaikan ekologis tidak bisa secara instan terwujud, melainkan butuh ketekunan, konsistensi, dan keberanian untuk bertindak nyata.
"Masalah global yang besar bisa terasa sangat berat. Tetapi ketika kita memulainya dari halaman rumah sendiri, kita menunjukkan bahwa aksi lokal yang dilakukan bersama-sama mampu menciptakan dampak global," tambahnya.
Bagi Harley, gerakan ini sudah menjadi bagian dari jalan hidupnya. Ia berkomitmen untuk terus menanam demi melindungi Surabaya, Indonesia, dan bumi bagi generasi mendatang.
Ubah Sampah dan Mangrove Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Menariknya, Mangrove Warrior tidak cuma berfokus pada aksi tanam pohon. Harley juga menghubungkan konservasi dengan edukasi lingkungan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Didampingi Lulut Sri Yuliani—aktivis lingkungan penerima Kalpataru—Harley mengolah hasil mangrove menjadi ragam produk bernilai tambah. Mulai dari briket arang, produk perawatan rambut seperti sampo dan kondisioner, olahan sirup dan kecap, hingga kain batik khas Mangrove.
Selain itu, Harley menciptakan Eco Geniuz Pillow, yaitu bantal yang memanfaatkan limbah plastik hasil kegiatan aksi bersih pantai (coastal clean up). Bantal ini unik karena dilengkapi kode QR yang bisa dipindai untuk mengakses materi edukasi perubahan iklim secara digital.
Pendekatan kreatif ini membuktikan bahwa pemulihan ekosistem bisa berjalan selaras dengan edukasi generasi muda sekaligus menopang perekonomian warga pesisir.
Apresiasi Dunia untuk Sang Eco-Hero Muda
Keberanian Ha rley bertindak langsung mendapat pujian dari Beryl Kay, Presiden Action For Nature. Menurutnya, kekuatan utama Harley terletak pada inisiatifnya yang tak menunggu orang lain untuk bergerak.
"Harley tidak menunggu orang lain memperbaiki apa yang ia lihat di negaranya. Ia mempelajari ilmunya, selalu melibatkan warga lokal, dan bertahan sampai puluhan ribu mangrove itu benar-benar berakar," kata Beryl Kay.
Sejak digelar pertama kali pada 2003, International Young Eco-Hero Award memang didesain untuk mengapresiasi anak muda usia 8–16 tahun yang membawa perubahan nyata bagi lingkungan. Para alumninya kerap berkembang menjadi duta PBB hingga pemimpin inisiatif iklim global. Lewat pencapaian ini, Harley kini resmi sejajar dengan jajaran penggerak lingkungan muda di panggung dunia. ***
Siswa SMPN 1 Surabaya berhasil menyabet Juara 1 International Young Eco-Hero Award 2026 di Amerika Serikat lewat gerakan Mangrove Warrior.