Detik-Detik Karhutla Bromo Meluas hingga 176 Hektare, Penyebab Kebakaran Diungkap TNBTS, Dibakar atau Terbakar?

Minggu, 09 Agustus 2026 | 12:37 WIB
Kawasan Gunung Bromo yang terbakar hingga Sabtu malam 8 Agustus 2026
Kawasan Gunung Bromo yang terbakar hingga Sabtu malam 8 Agustus 2026 (Foto: IG/bbtnbromotenggersemeru)

PROBOLINGGO, RIWARA.id – Udara dingin menusuk tulang di kawasan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT), mendadak tersapu hawa panas yang menyengat. Di kejauhan, gulungan asap pekat membumbung tinggi, menyerap sinar rembulan dan menggantikannya dengan rona merah keemasan yang mencekam di kawasan Bromo, Jawa Timur.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) belum juga padam. Bahkan hingga Minggu, 8 Agustus 2026, kebakaran itu terlihat semakin meluas.

Hembusan angin pegunungan yang bertiup kencang bak memberikan amunisi bagi si jago merah untuk terus merambat, melahap vegetasi kering yang membentang di savana dan perbukitan kawasan gunung yang berada di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, dan Malang.

Penyebab Kebakaran Meluas Menembus JLKT

Berdiri bersama tim gabungan di sekitar kawasan JLKT, ketegangan sangat terasa. Isyarat evakuasi sempat terdengar tatkala api mendadak menjalar cepat menuju Blok Jantur. Kondisi angin yang tak menentu memaksa para petugas memprioritaskan keselamatan jiwa terlebih dahulu.

"Kami mendapatkan informasi perkembangan kebakaran di TNBTS bahwa api menjalar di kawasan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di arah Blok Jantur akibat kuatnya angin," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

Namun, jeda itu tak berlangsung lama. Begitu hembusan angin mereda, derap langkah tim gabungan kembali membelah kegelapan m alam. M ereka bergerak maju menembus jalur lama menuju arah Jemplang.

Dengan peralatan seadanya dan keahlian memetakan medan, petugas bertaruh waktu untuk menyekat pergerakan api. Upaya keras itu membuahkan hasil: lidah api berhasil ditahan agar tidak menyeberang ke jalur lama (jaring laba-laba) yang menuju arah utara Watangan.

176 Hektare Dilahap si Jago Merah

Berdasarkan data resmi Balai Besar TNBTS, lanskap indah Bromo kini telah berubah menjadi hamparan hitam seluas kurang lebih 176 hektare, di mana sebagian besar titik apinya berada di wilayah administrasi Kabupaten Probolinggo.

Jika dirunut kembali ke belakang, petaka ini bermula sejak Senin, 3 Agustus 2026. Saat itu, titik api yang terdeteksi masih berukuran relatif kecil sekitar 7,9 hektare. Namun, hanya dalam hitungan hari, kobaran api terus menggeliat melahap 44 hektare, merembet ke 51 hektare, hingga akhirnya melonjak drastis pada Jumat malam, 7 Agustus 2026.

Kini, vegetasi khas pegunungan seperti hamparan semak belukar, cemara gunung, hingga tanaman hias langka telah menjadi abu. Tak hanya flora, ruang hidup satwa dilindungi seperti Lutung Jawa, Elang Jawa, dan beragam burung endemik pun berada dalam ancaman serius.

Benarkah Penyebab Kebakaran itu Sisa Perapian Warga?

Di balik amukan api yang merusak ekosistem ini, ada duka yang mendalam. Kebakaran hebat ini disinyalir bukan terjadi karena faktor alam murni, melainkan akibat kelalaian manusia (human error).

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menjelaskan bahwa titik awal pemicu api berada di atas tebing Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. 

Lokasi ini merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Desa Argosari dengan kawasan Ranu Pani dan kerap dilalui oleh warga.

"Dugaan kuat faktor manusia, bukan faktor alam. Karena cuaca dingin, mungkin ada yang membuat perapian lalu lupa me matikannya . Dengan kondisi panas dan vegetasi yang kering, akhirnya menjadi pemicu kebakaran," ungkap Rudijanta.

Meskipun dipastikan tidak ada unsur kesengajaan, dampak dari ketidaksengajaan tersebut kini berakibat fatal bagi seluruh kawasan pegunungan Bromo. 

Seluruh Pintu Masuk Wisata Bromo Ditutup Total

Guna memberikan ruang gerak penuh bagi tim pemadam serta demi keselamatan para wisatawan, Balai Besar TNBTS mengambil keputusan drastis. Mulai Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 22.00 WIB, seluruh akses kunjungan wisata menuju kawasan Gunung Bromo resmi ditutup total sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Suasana riuh jip wisata dan gelak tawa pengunjung kini digantikan oleh sirine kendaraan pendorong air dan petikan ranting terbakar. Penutupan ini berlaku tanpa terkecuali di seluruh pintu gerbang masuk TNBTS:

  • Pintu Masuk Cemorolawang (Kabupaten Probolinggo)
  • Pintu Masuk Wonokitri (Kabupaten Pasuruan)
  • Pintu Masuk Jemplang & Coban Trisula (Kabupaten Malang)
  • Pintu Masuk Senduro (Kabupaten Lumajang)

Hingga berita ini diturunkan, ratusan petugas dari berbagai unsur masih berjaga dan bersiap menyisir sisa-sisa bara api, berharap angin tak lagi mengamuk agar Bromo bisa kembali tenang. ***

Dari tebing Bantengan hingga jalur lama Jemplang, kebakaran Bromo makin meluas. Intip situasi mencekam di lapangan dan dugaan penyebab kebakaran.

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories