BGN Hentikan Operasional SPPG Karangturi Usai 707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan MBG

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:37 WIB
Ilustrasi keracunan MBG dibuat dengan bantuan ChatGPT AI
Ilustrasi keracunan MBG dibuat dengan bantuan ChatGPT AI

RIWARA.id – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara (suspend) operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi. Langkah ini diambil menyusul insiden dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 707 siswa dan guru di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.

Kepala BGN Sudaryono menegaskan, selain pembekuan izin operasi dapur penyedia, pihaknya juga menerbitkan surat peringatan resmi kepada pengelola. Sanksi moral dan administratif ini dijatuhkan kepada seluruh jajaran terkait, mulai dari pihak yayasan, mitra pengelola, hingga koordinator kecamatan.

Penghentian operasional SPPG Karangturi berlaku penuh hingga proses investigasi penyebab pasti keracunan selesai dilakukan. Pihak BGN menggandeng Dinas Kesehatan untuk menguji seluruh sampel makanan di laboratorium terakreditasi.

Berdasarkan estimasi otoritas, hasil uji laboratorium dan investigasi menyeluruh tersebut membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari kerja. Seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok makanan dipastikan bakal menjalani pemeriksaan ketat.

Dugaan sementara BGN mengarah pada kualitas sejumlah bahan baku makanan, seperti daun singkong dan bumbu rendang. Selain faktor bahan baku, jeda waktu pengolahan yang terlalu lama sebelum konsumsi diduga kuat menjadi pemicu utama pembusukan makanan.

Proses pengolahan hidangan diketahui dimulai sejak malam hari, sekitar pukul 18.55 WIB, meliputi pencucian bahan hingga marinasi. Pengolahan ayam goreng selesai menjelang tengah malam pukul 23.50 WIB, lalu dilanjutkan memasak bumbu rendang, tahu, dan sayur pada Kamis dini hari pukul 00.30 WIB.

Meski pengujian organoleptik dan penimbangan gramasi dilakukan ahli gizi pada pukul 04.00 WIB, pengiriman ke SMKN 6 Semarang baru dilakukan pada gelombang kedua sekitar pukul 08.10 WIB. Jeda waktu yang panjang ini membuat kondisi hidangan tidak lagi segar saat disantap para siswa dan guru.

Indikasi durasi pengolahan sebagai pemicu utama menguat setelah sekolah penerima MBG lainnya dari SPPG yang sama tidak melaporkan gejala keracunan. Sekolah-sekolah tersebut menerima pasokan lebih awal pada pagi hari saat kondisi makanan masih layak konsumsi.

Tragedi kesehatan ini berdampak langsung pada 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang usai menyantap santapan MBG pada Jumat (31/7/2026). Sebanyak 698 korban mendapat penanganan darurat langsung di area sekolah akibat gejala mual dan pusing.

Sebanyak 13 korban yang mengalami gejala parah langsung dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, Puskesmas Bangetayu, RS Permata Medika, dan RS Pantiwilasa Citarum.

Kepala BGN Sudaryono telah meninjau langsung kondisi para korban yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit pada Sabtu (1/8/2026). Ia memastikan seluruh pasien rujukan saat ini berada dalam kondisi stabil dan terus membaik.

BGN berjanji bakal mengevaluasi total prosedur standar operasional (SOP) pengolahan dan distribusi makanan bergizi gratis agar peristiwa serupa tidak terulang di wilayah lain. (*)

 

BGN bekukan sementara SPPG Karangturi usai 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang diduga keracunan MBG. Investigasi dipicu jeda masak yang terlalu lama.

Foto Editor
Ari Kristyono -

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

 Stories