RIWARA.id - Tensi panas panggung politik dunia bisa kembali naik ke titik tertinggi setelah Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon memasukkan beberapa perusahaan raksasa China ke daftar hitam.
Dilansir dari Engadget, tidak main-main, perusahaan yang masuk dalam daftar hitam ini adalah Alibaba sampai Baidu yang dinilai oleh Pentagon mempunyai keterkaitan dengan militer China.
Walaupun masuk ke dalam daftar tersebut, kedua perusahaan tidak akan langsung mendapatkan sanksi keras dari pemerintah AS.
Nasib keduanya jauh lebih beruntung daripada Huawei yang langsung diblaclist oleh pemerintah AS dan seluruh proyek langsung dibongkar serta dicabut.
Walaupun tidak langsung mendapatkan sanksi, Alibaba dan Baidu tidak bisa menandatangani kontrak kerja sama secara langsung dengan Pentagon.
Selain itu, Pentagon juga tidak akan menggunakan produk dan layanan dari kedua perusahaan, baik jika itu melalui pihak ketiga.
Lini Bisnis Bisa Terdampak
Walaupun tidak diblacklist seperti Huawei, kebijakan tersebut bisa memukul lini bisnis Alibaba dan Baidu untuk pasar Amerika maupun Eropa.
Sejumlah kontraktor yang bekerja sama dengan Pentagon bisa memilih menghentikan penggunaan produk atau layanan digital kedua perusahaan raksasa tersebut.
Selain Alibaba dan Baidu, Pentagon juga memasukkan dalam daffar hitam beberapa perusahaan China lainnya, seperti produsen chip memori ChangXin Memory Technologies (CXMT) dan Yangtze Memory Technologies Co. (YMTC).
Menariknya, keempat perusahaan sudah masuk ke dalam daftar hitam Pentagon sejak bulan Februari yang lalu.
Tapi, daftar tersebut ditarik karena adanya pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berkunjung ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Dalam kunjungan tersebut, Trump memborong CEO perusahaan raksasa dari Amerika seperti Apple, Tesla, MasterCard, Nvidia, BlackRock sampai Boeing.
Kedua negara juga sepakat untuk mencapai kesepakatan dagang baru setelah sempat saling berperang meluncurkan tarif impor besar satu sama lain pada 2025 lalu.
Desak Pembatasan Lebih Ketat
Desakan untuk pembatasan semikonduktor AS memang sudah lama disuarakan oleh banyak pihak, baik dari kalangan militer, intelijen maupun politisi.
Senator dari Partai Republik dan Demokrat juga sudah mendesak pemeritahan Trump untuk memperketat dan melindungi industri semikonduktor AS terhadap perusahaan asal China.
Senator tersebut juga mengusulkan agar anak perusahaan luar negeri milik perusahaan China tidak diperbolehkan memesan chip khusus dari produsen besar seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).
Sama seperti Amerika, otoritas Taiwan juga sedang mempertimbangkan kebijakan untuk melakukan pembatasan ekspor teknologi terhadap perusahaan China.
Tidak bisa dipungkiri, China memang menjadi pelanggan dan pembeli chip terbesar TSMC.
Kalau kebijakan pembatasan ini diterapkan, maka pendapatan TSMC akan berkurang drastis.
Perusahaan asal China akan sangat kesulitan untuk mendapatkan chip AI dengan performa tinggi yang bisa digunakan untuk mengembangkan teknologi artificial intelligence (AI).
Semoga Bermannfaat.***
Hubungan AS dan China kembali memanas setelah Pentagon resmi memasukkan Alibaba, Baidu, hingga produsen chip YMTC ke daftar hitam. Intip dampak besarnya di sini!