Kebo Bule Kiai Slamet Ternyata Bukan Pemberian Kyai Hasan Besari? Menjelang Kirab 1 Suro 2026, Budayawan Ungkap Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui

Senin, 15 Juni 2026 | 10:56 WIB
Kebo Bule Kiai Slamet memimpin Kirab Malam 1 Suro Keraton Surakarta Hadiningrat Di balik tradisi yang selalu menarik ribuan warga tersebut tersimpan sejarah panjang filosofi agraris serta doa-doa yang diwariskan para leluhur Jawa selama berabad-abad
Kebo Bule Kiai Slamet memimpin Kirab Malam 1 Suro Keraton Surakarta Hadiningrat Di balik tradisi yang selalu menarik ribuan warga tersebut tersimpan sejarah panjang filosofi agraris serta doa-doa yang diwariskan para leluhur Jawa selama berabad-abad (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

RIWARA.id - Malam 1 Suro selalu menjadi momen yang paling ditunggu masyarakat Jawa, khususnya di Surakarta. Ribuan warga biasanya memadati ruas-ruas jalan di sekitar Keraton Surakarta Hadiningrat untuk menyaksikan Kirab Pusaka dan kemunculan Kebo Bule Kiai Slamet yang telah menjadi ikon tradisi tersebut selama puluhan tahun.

Namun menjelang pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro Tahun Jawa 1959 Dal yang akan berlangsung pada Selasa malam (16/6/2026), muncul fakta sejarah menarik yang jarang diketahui publik. Selama ini banyak orang meyakini bahwa leluhur Kebo Bule Kiai Slamet merupakan pemberian Kyai Hasan Besari dari Ponorogo kepada Susuhunan Pakubuwono II.

Ternyata, menurut sejumlah sumber sejarah dan keterangan budayawan Keraton Surakarta, kisah tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Di balik langkah tenang Kebo Bule yang selalu berada di barisan terdepan kirab, tersimpan sejarah panjang tentang runtuh dan bangkitnya Dinasti Mataram, hubungan erat Keraton Surakarta dengan masyarakat agraris, hingga doa-doa yang diwariskan lintas generasi selama hampir tiga abad.

Kirab Malam 1 Suro, Tradisi yang Selalu Menarik Perhatian Masyarakat

Setiap memasuki pergantian Tahun Baru Jawa, perhatian masyarakat kembali tertuju pada Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kirab Malam 1 Suro bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi ini telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya terbesar di Indonesia yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah bahkan wisatawan mancanegara.

Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki kedudukan yang istimewa. Malam tersebut menandai pergantian tahun dalam Kalender Jawa yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma dengan memadukan unsur penanggalan Saka dan Hijriah.

Tidak mengherankan jika malam tersebut dipenuhi suasana khidmat, refleksi, dan doa.

Dalam tradisi Keraton Surakarta, pergantian tahun disambut melalui Kirab Pusaka yang mengelilingi kawasan keraton dengan berjalan kaki tanpa suara sebagai simbol perenungan batin.

Fakta Sejarah Kebo Bule Kiai Slamet yang Jarang Terungkap

Kebo Bule Kiai Slamet
Kebo Bule Kiai Slamet (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Seniman, pemerhati sejarah dan budaya serta Sentana Darah Dalem Susuhunan Pakubuwono X dari trah KGPH Koesoemojoedo III, KRMRAP. L. Nuky Mahendranata Adiningrat, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah fakta sejarah mengenai Kebo Bule Kiai Slamet yang selama ini kurang dikenal masyarakat.

Menurut Kanjeng Nuky, narasi yang berkembang luas selama ini menyebut bahwa kerbau pusaka tersebut merupakan pemberian Kyai Hasan Besari dari Ponorogo.

Namun berdasarkan berbagai sumber sejarah yang ia pelajari, kerbau tersebut sebenarnya diberikan oleh Bupati Ponorogo ke-10, Raden Tumenggung Surabrata atau Sumabrata.

"Kerbau bule yang kemudian menjadi leluhur Kiai Slamet diberikan oleh RT Surabrata. Tokoh yang mendoakan keberangkatan kerbau itu adalah Kyai Ageng Muhammad Besari, bukan Kyai Hasan Besari sebagaimana yang banyak berkembang dalam cerita populer," ujarnya kepada Riwara.id, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut berkaitan erat dengan masa krisis yang dialami Susuhunan Pakubuwono II setelah Peristiwa Geger Pecinan tahun 1742.

Kala itu Kartasura mengalami kekacauan besar sehingga raja harus meninggalkan istana dan mencari perlindungan.

Dalam situasi tersebut, RT Surabrata tampil sebagai salah satu tokoh penting yang memberikan dukungan kepada Pakubuwono II.

Menurut berbagai catatan sejarah, Surabrata bahkan memiliki kekuatan militer yang cukup besar dan berpengaruh di wilayah Mancanegara Wetan.

Meluruskan Sejarah Keluarga Besari

Kanjeng Nuky
Kanjeng Nuky (Foto: KRMRAP. L.Nuky Mahendranata Adiningrat)

 

Kanjeng Nuky juga menyoroti sering terjadinya kekeliruan dalam penyebutan tokoh-tokoh keluarga Besari di Ponorogo.

Menurutnya, terdapat beberapa tokoh berbeda yang sering dianggap sebagai satu orang yang sama.

Padahal sejarah mencatat adanya Ki Ageng Muhammad Besari, Muhammad Besari II, Hasan Besari, dan Imam Besari yang hidup pada masa berbeda.

"Hasan Besari hidup pada era yang lebih muda dan dikenal sebagai tokoh besar pada masa Pakubuwono IV. Karena itu perlu ada pelurusan sejarah agar masyarakat mendapatkan informasi yang lebih tepat," jelasnya.

Baginya, pelurusan sejarah bukan untuk mengurangi penghormatan terhadap tokoh-tokoh besar masa lalu, melainkan untuk menjaga akurasi sejarah Jawa agar tetap terpelihara.

Kerbau dalam Kosmologi Nusantara

Mengapa kerbau begitu penting dalam tradisi Jawa?

Menurut Kanjeng Nuky, jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang peradaban Nusantara.

Dalam berbagai naskah kuno, kerbau atau mahesa sering menjadi simbol kekuatan, ketekunan, kesetiaan, dan kedekatan dengan rakyat.

Sejak era Majapahit, istilah mahesa bahkan digunakan sebagai nama tokoh dan gelar yang menggambarkan karakter kuat dan membumi.

Karena itu, Kebo Bule Kiai Slamet bukan sekadar satwa yang dikirab setiap tahun.

Ia merupakan simbol masyarakat agraris yang menjadi tulang punggung kehidupan Jawa selama berabad-abad.

R. Surojo: Malam 1 Suro Adalah Waktu Introspeksi Diri

R Surojo
R Surojo (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Pandangan lain disampaikan pegiat sejarah dan budaya R. Surojo.

Menurutnya, makna utama Malam 1 Suro bukan terletak pada keramaian kirab, melainkan pada proses perenungan diri yang menyertainya.

"Malam 1 Suro adalah momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun berikutnya," ujarnya.

Dalam tradisi Jawa, pergantian tahun tidak dirayakan dengan pesta atau kemeriahan berlebihan.

Sebaliknya, masyarakat diajak untuk melakukan refleksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Kebo Bule Bukan Objek Pemujaan

Kebo Bule Kiai Slamet
Kebo Bule Kiai Slamet (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

R. Surojo menegaskan bahwa keberadaan Kebo Bule Kiai Slamet sering disalahpahami oleh sebagian masyarakat.

Menurutnya, kerbau tersebut bukan objek pemujaan maupun praktik mistik sebagaimana sering diasumsikan sebagian orang.

"Kebo Bule adalah simbol hubungan erat antara keraton dan masyarakat agraris. Ini adalah simbol budaya, bukan objek pemujaan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan masyarakat Jawa, kerbau melambangkan sumber kehidupan karena selama berabad-abad membantu petani mengolah sawah dan menopang ketahanan pangan.

Karena itulah kehadiran Kebo Bule dalam kirab memiliki makna sosial yang sangat kuat.

Filosofi Manunggaling Keraton lan Rakyat

Pakubuwono XIV saat Upacara Agat Grebek Besar 2026
Pakubuwono XIV saat Upacara Agat Grebek Besar 2026 (Foto: Dok. Riwara.id)

 

Lebih jauh, R. Surojo menilai Kirab Malam 1 Suro mencerminkan filosofi manunggaling keraton lan rakyat.

Filosofi tersebut menggambarkan hubungan harmonis antara pemimpin dan masyarakat.

Kirab menjadi simbol bahwa keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman tidak hanya menjadi harapan keraton, tetapi juga harapan seluruh rakyat.

Dalam konteks modern, nilai tersebut tetap relevan karena mengajarkan pentingnya persatuan dan kebersamaan menghadapi berbagai tantangan zaman.

Gusti Moeng: Kirab Pusaka adalah Tradisi Doa yang Sudah Berlangsung Lama

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng membacakan petisi dukungan keluarga besar Dinasti Mataram kepada SISKS Paku Buwono XIV Jumat 12 Juni 2026
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng membacakan petisi dukungan keluarga besar Dinasti Mataram kepada SISKS Paku Buwono XIV Jumat 12 Juni 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Sementara itu Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari, menegaskan bahwa tradisi kirab pusaka sesungguhnya memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang diketahui masyarakat.

Menurut Gusti Moeng, sebelum Kirab Malam 1 Suro dikenal seperti sekarang, Keraton Surakarta telah memiliki tradisi mengeluarkan pusaka tertentu untuk dikirab menggunakan kereta pada malam-malam tertentu, terutama malam Jumat.

Salah satu pusaka yang sering dikirab adalah Kanjeng Kyai Slamet.

Tradisi tersebut bahkan tetap mendapatkan perhatian pada masa pemerintahan Presiden Soeharto sebagai bagian dari pelestarian budaya nasional.

Di Balik Setiap Pusaka Tersimpan Doa Para Leluhur

Pusaka Kirab Malam Satu Suro
Pusaka Kirab Malam Satu Suro (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Menurut Gusti Moeng, masyarakat sering hanya melihat bentuk fisik pusaka.

Padahal nilai terpenting justru terletak pada doa-doa yang menyertai penciptaan pusaka tersebut.

"Di balik setiap pusaka terdapat harapan dan doa dari para leluhur. Karena itu pusaka tidak dipahami sekadar benda, tetapi sebagai pengingat nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh prosesi kirab pada hakikatnya merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar masyarakat memperoleh keselamatan dan keberkahan.

Jejak Para Wali dalam Pusaka Keraton

Gusti Moeng juga mengungkapkan bahwa beberapa pusaka yang tersimpan di Keraton Surakarta memiliki keterkaitan sejarah yang panjang dengan perkembangan Islam di Jawa.

Bahkan terdapat pusaka yang secara tradisi dipercaya memiliki hubungan dengan para wali.

Karena itu, kirab pusaka juga menjadi sarana penghormatan terhadap warisan para ulama dan leluhur yang berperan dalam perjalanan sejarah Jawa.

Dari Masa Pakubuwono X hingga Pakubuwono XII

Kirab Malam Satu Suro Era PB XII
Kirab Malam Satu Suro Era PB XII (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Menurut KP. Budayaningrat, Dwija Sanggar Pawiyatan Pambiwara Keraton Surakarta Hadiningrat, Kirab Pusaka mulai berkembang pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono X.

Saat itu kirab masih berlangsung di dalam kawasan Baluwarti atau benteng keraton.

Kemudian pada masa Susuhunan Pakubuwono XII, rute kirab diperluas hingga keluar tembok keraton sehingga dapat disaksikan masyarakat luas.

Prosesi dilakukan dengan arah pradaksina atau searah jarum jam mengelilingi keraton.

Hal tersebut melambangkan penghormatan terhadap pusat kerajaan sebagai sumber tata nilai budaya dan spiritual.

Peninggalan Majapahit yang Berakulturasi dengan Islam

Kanjeng Pangeran Budayaningrat
Kanjeng Pangeran Budayaningrat (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Budayaningrat menjelaskan bahwa akar tradisi Tahun Baru Jawa dapat ditelusuri hingga masa Majapahit melalui tradisi Murwa Warsa.

Ketika Islam berkembang di Jawa, Sultan Agung Hanyakrakusuma memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah.

Dari sinilah lahir Kalender Jawa yang masih digunakan hingga sekarang.

Perpaduan tersebut menjadi salah satu bukti kecanggihan budaya Jawa dalam mengharmoniskan tradisi dan agama.

Menyambut Tahun Jawa 1959 Dal dengan Harapan Baru

Kirab Malam 1 Suro Tahun Jawa 1959 Dal
Kirab Malam 1 Suro Tahun Jawa 1959 Dal

 

Kirab Malam 1 Suro Tahun Jawa 1959 Dal bukan hanya menjadi agenda budaya tahunan.

Lebih dari itu, tradisi ini merupakan momentum refleksi kolektif bagi masyarakat Jawa.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, Kirab 1 Suro mengingatkan kembali pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Melalui langkah hening para abdi dalem, pusaka-pusaka yang dikirab, serta kemunculan Kebo Bule Kiai Slamet di barisan terdepan, masyarakat diajak untuk merenungkan perjalanan hidup sekaligus memanjatkan doa bagi masa depan yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, sebagaimana ditegaskan para budayawan dan tokoh adat Keraton Surakarta Hadiningrat, makna terdalam Kirab Malam 1 Suro bukanlah pada kerbau, pusaka, atau prosesi yang terlihat mata.

Melainkan pada doa, harapan, keselamatan, persatuan, dan ikhtiar spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi selama ratusan tahun.

Dan ketika ribuan orang kembali memadati kawasan Keraton Surakarta pada malam 1 Suro tahun ini, mereka sesungguhnya sedang menjadi bagian dari sebuah tradisi besar yang tidak hanya menjaga sejarah Jawa tetap hidup, tetapi juga menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, budaya, dan sesamanya.*

 

 

 

Menjelang Kirab Malam 1 Suro 2026 Keraton Surakarta Hadiningrat, budayawan dan tokoh adat mengungkap sejarah Kebo Bule Kiai Slamet, makna spiritual kirab pusaka, serta filosofi Tahun Baru Jawa yang sarat doa dan refleksi.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories