SOLO, Riwara.id — Sebuah baliho berukuran besar yang menampilkan sosok Paku Buwono XIV menjadi perbincangan masyarakat dan pengguna media sosial setelah terpasang di kawasan Gapura Gladag, Kota Solo, Jawa Tengah.
Baliho tersebut menampilkan foto Paku Buwono XIV mengenakan busana kebesaran Raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Pada bagian atas terpampang kalimat filosofi Jawa "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" yang dikenal luas sebagai salah satu ajaran luhur dalam budaya Jawa.
Selain itu, pada baliho juga tercantum tulisan:
"Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Karaton Surakarta Hadiningrat."
Keberadaan baliho tersebut menarik perhatian masyarakat yang melintas di kawasan Gladag dan kemudian ramai dibagikan melalui berbagai platform media sosial.
KPH Eddy Wirabhumi: Bagian dari Upaya Meneguhkan Adat dan Budaya
Menanggapi perhatian publik terhadap baliho tersebut, kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan pemasangan baliho bukan semata-mata sarana publikasi.
Menurutnya, pemasangan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus meneguhkan adat, tradisi, dan budaya Karaton Surakarta kepada masyarakat luas.
"Pemasangan baliho ini bukan sekadar untuk publikasi. Ini merupakan bagian dari upaya meneguhkan adat dan budaya Karaton Surakarta agar semakin dikenal masyarakat," ujar KPH Eddy Wirabhumi kepada Riwara.id, Selasa (2/6/2026).
Menurut Eddy, Karaton Surakarta memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Makna Baliho Disebut Terbuka untuk Berbagai Penafsiran
Saat ditanya apakah pemasangan baliho tersebut dapat dipahami sebagai bentuk pengumuman kepada masyarakat Solo, Eddy menilai maknanya dapat ditafsirkan secara luas.
"(Pemasangan baliho sebagai pengumuman ke masyarakat Solo?) Monggo (silakan) dimaknai seperti apa. Bisa begitu, bisa ke dalam (internal Karaton Solo), bisa ke pemerintah, luas pengertiannya, karena keraton itu kondisinya lahir batin gitu ya," kata Eddy, Senin (1/6/2026).
Menurut Eddy, masyarakat dapat memaknai keberadaan baliho tersebut dari berbagai sudut pandang, baik sebagai bagian dari komunikasi budaya, informasi kepada masyarakat, maupun pesan yang ditujukan kepada lingkungan internal karaton.
Mengangkat Filosofi Jawa
Kalimat "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" yang tercantum dalam baliho merupakan ungkapan filosofi Jawa yang dikenal luas dalam tradisi budaya Jawa.
Ungkapan tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno yang mengandung makna bahwa segala bentuk sifat keras hati, angkara murka, kesewenang-wenangan, dan kesombongan, bahkan yang tampak menguasai dunia sekalipun, pada akhirnya hanya dapat ditaklukkan atau diluluhkan oleh kebijaksanaan, kelembutan, ketulusan, dan kesabaran.
Menurut sejumlah budayawan Jawa, nilai tersebut merupakan bagian dari ajaran moral yang diwariskan secara turun-temurun dan masih relevan dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.
Menjadi Perhatian Warganet
Sejumlah unggahan foto dan video baliho tersebut beredar luas di media sosial sejak awal pekan. Banyak pengguna media sosial membagikan gambar baliho yang berdiri di kawasan strategis Gladag, salah satu akses utama menuju kompleks Karaton Surakarta.
Menurut Eddy, yang terpenting dari pemasangan baliho tersebut adalah semakin dikenalnya nilai-nilai budaya yang diwariskan Karaton Surakarta kepada masyarakat.
"Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat semakin mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari warisan Karaton Surakarta," katanya.
Ia berharap upaya pelestarian budaya dapat terus mendapat dukungan masyarakat sehingga tradisi dan nilai-nilai luhur yang hidup di lingkungan Karaton Surakarta tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.*
Baliho bergambar Paku Buwono XIV di kawasan Gladag Solo ramai diperbincangkan di media sosial. KPH Eddy Wirabhumi menyebut pemasangan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan meneguhkan adat serta budaya Karaton Surakarta.