SOLO, Riwara.id — Sebuah baliho berukuran besar yang terpasang di kawasan Gapura Gladag, Solo, belakangan menjadi perhatian masyarakat dan ramai dibagikan di media sosial. Namun, yang menarik perhatian publik bukan hanya sosok yang ditampilkan dalam baliho tersebut, melainkan pesan filosofis yang tertulis di bagian atasnya.
Kalimat "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" menjadi pusat perhatian sekaligus memunculkan berbagai diskusi di ruang publik. Ungkapan yang berasal dari khazanah budaya Jawa itu dinilai mengandung pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial.
Baliho tersebut menampilkan sosok Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi dengan latar nuansa Karaton Surakarta Hadiningrat. Sementara di bagian bawah tertulis:
"Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Karaton Surakarta Hadiningrat."
Keberadaan baliho itu segera menjadi bahan perbincangan setelah foto dan videonya beredar luas di berbagai platform media sosial.
Pesan yang Lebih Besar dari Sebuah Baliho
Dalam tradisi Jawa, ungkapan "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" bukan sekadar rangkaian kata-kata, melainkan nasihat moral yang diwariskan lintas generasi.
Ungkapan tersebut secara umum dimaknai bahwa segala bentuk sifat keras hati, angkara murka, kesombongan, hingga kekuasaan yang tampak besar sekalipun pada akhirnya dapat diluluhkan oleh kebijaksanaan, kelembutan, kesabaran, dan ketulusan.
Di tengah maraknya polarisasi, perdebatan di media sosial, serta meningkatnya kecenderungan masyarakat untuk saling menyerang dalam ruang digital, pesan tersebut dinilai memiliki makna yang tetap relevan hingga hari ini.
Tidak sedikit warganet yang menyoroti bahwa filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan atau dominasi, melainkan dalam kemampuan menjaga kebijaksanaan dan keluhuran budi.
Karaton Surakarta: Upaya Meneguhkan Nilai Budaya
Kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa pemasangan baliho tersebut bukan semata-mata bertujuan untuk publikasi.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus meneguhkan nilai-nilai budaya dan filosofi Jawa kepada masyarakat luas.
"Pemasangan baliho ini bukan sekadar untuk publikasi. Ini merupakan bagian dari upaya meneguhkan adat dan budaya Karaton Surakarta agar semakin dikenal masyarakat," ujar KPH Eddy Wirabhumi kepada awak media, Selasa (2/6/2026).
Eddy menilai Karaton Surakarta memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga dan memperkenalkan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun kepada generasi penerus.
Mengapa Ditampilkan Sekarang?
Munculnya baliho tersebut di ruang publik memunculkan berbagai tafsir. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, sementara yang lain memandangnya sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur Jawa yang tetap relevan dalam kehidupan modern.
Ketika ditanya mengenai makna pemasangan baliho tersebut, Eddy menyebut masyarakat bebas memberikan interpretasi.
"(Pemasangan baliho sebagai pengumuman ke masyarakat Solo?) Monggo dimaknai seperti apa. Bisa begitu, bisa ke dalam, bisa ke pemerintah, luas pengertiannya, karena keraton itu kondisinya lahir batin gitu ya," kata Eddy, Senin (1/6/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan baliho tidak hanya dimaksudkan sebagai media visual, tetapi juga sebagai ruang dialog budaya yang dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang.
Menjadi Perbincangan Warganet
Sejak awal pekan, foto dan video baliho tersebut terus beredar di media sosial. Banyak pengguna internet membagikan gambar baliho yang berdiri di salah satu titik paling strategis di Kota Solo itu.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa simbol-simbol budaya Jawa masih memiliki daya tarik kuat di tengah arus informasi digital yang begitu cepat.
Bagi sebagian masyarakat, perhatian yang muncul terhadap baliho tersebut bukan semata soal figur yang ditampilkan, melainkan karena pesan moral yang terkandung dalam filosofi Jawa yang diangkat.
Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai seperti kebijaksanaan, kesabaran, ketulusan, dan kemampuan meredam konflik tetap menjadi pesan universal yang relevan bagi siapa saja.
"Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat semakin mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari warisan Karaton Surakarta," tutur Eddy.
Melalui pesan yang diangkat dalam baliho tersebut, Karaton Surakarta berharap warisan budaya Jawa tidak hanya dipelajari sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dapat menjadi pedoman nilai dalam kehidupan masyarakat masa kini.*
Filosofi Jawa "Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" yang terpampang dalam baliho Paku Buwono XIV di Gladag Solo menjadi perbincangan warganet dan mengangkat kembali nilai kebijaksanaan budaya Jawa.