Riwara.id - Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Hangabehi, yang sebelumnya bernama Mangkubumi, kembali melaksanakan Salat Jumat di masjid bersejarah. Berdasarkan pantauan di lapangan, PB XIV Hangabehi menunaikan ibadah Salat Jumat di Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Yogyakarta, pada Jumat, 9 Januari 2026.
Kehadiran PB XIV Hangabehi di Masjid Gedhe Mataram Kotagede menambah rangkaian jejak spiritual beliau dalam menjalankan ibadah Salat Jumat di masjid-masjid bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Islam dan Dinasti Mataram.
Rangkaian Salat Jumat PB XIV Hangabehi
Sebelumnya, PB XIV Hangabehi tercatat melaksanakan Salat Jumat sebanyak tujuh kali berturut-turut di Masjid Gedhe Kagungan Dalem Karaton Surakarta Hadiningrat, yang kini lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Agung Keraton Solo, dengan puncaknya pada Jumat, 26 Desember 2025.
Selanjutnya, pada Jumat, 2 Januari 2026, PB XIV Hangabehi melaksanakan Salat Jumat di Masjid Laweyan, Surakarta. Masjid tersebut merupakan salah satu masjid tertua dan bersejarah di Jawa, yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan awal Islam di tanah Pajang dan Mataram.
Masjid Laweyan, Jejak Awal Islam di Pajang
Masjid Laweyan dibangun pada masa pemerintahan Djoko Tingkir (Sultan Hadiwijaya) sekitar tahun 1546 Masehi dan dikenal sebagai masjid pertama di Kerajaan Pajang. Awalnya, bangunan ini merupakan pura agama Hindu yang dipimpin seorang biksu. Seiring pendekatan dakwah Islam yang damai, bangunan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi masjid.
Bersamaan dengan itu, tumbuh sebuah pesantren yang memiliki banyak santri. Karena aktivitas dapur pesantren yang tidak pernah berhenti menanak nasi, asap selalu mengepul dari kawasan tersebut, sehingga wilayah ini kemudian dikenal sebagai Kampung Belukan (beluk berarti asap).
Masjid Laweyan dimiliki oleh Kyai Ageng Henis, kakek dari Susuhunan Paku Buwono II. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat nikah, talak, rujuk, musyawarah, serta pemakaman.
Kompleks masjid menyatu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura, dan Kasunanan Surakarta. Di area makam terdapat pintu gerbang khusus yang pernah digunakan oleh Sunan Paku Buwono X untuk berziarah, dan hanya dipakai satu kali, karena satu tahun setelah kunjungan tersebut PB X wafat.
Beberapa tokoh yang dimakamkan di kompleks ini antara lain:
• Kyai Ageng Henis
• Permaisuri Paku Buwono V
• Pangeran Widjil I Kadilangu
• Nyai Ageng Pati
• Nyai Pandanaran
• Prabuwinoto (putra bungsu Paku Buwono IX)
• Dalang Keraton Kasunanan Surakarta
• Kyai Ageng Proboyekso
Di kawasan makam ini juga tumbuh Pohon Nagasari berusia lebih dari 500 tahun yang diyakini sebagai simbol penjagaan makam.
Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Simbol Akulturasi Islam dan Budaya Jawa
Masjid Gedhe Mataram Kotagede mulai dibangun pada tahun 1578 dan selesai pada 1587, pada masa Panembahan Senopati. Pembangunannya melibatkan masyarakat yang saat itu masih menganut agama Hindu dan Buddha, sebagai wujud toleransi dan akulturasi budaya.
Masjid ini dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan atas saran gurunya, Sunan Kalijaga, setelah beliau menerima tanah Alas Mentaok dari Kasultanan Pajang. Sumber lain menyebutkan masjid ini diperbarui pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagaimana tercantum dalam prasasti berhuruf Arab berbahasa Jawa bertanggal 6 Rabiul Akhir 1188 Hijriah atau 27 Juni 1773 Masehi.
Keunikan Masjid Gedhe Mataram tampak dari gapura berbentuk pura, yang dibangun oleh umat Hindu, sementara bangunan utama masjid dibangun oleh umat Islam. Konsep ini merupakan ajaran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya.
Masjid ini menjadi bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal, yang meliputi keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai pusat kehidupan masyarakat. Arsitektur masjid bercorak Jawa dengan atap tajug bertingkat, mustaka berhias kluwih, serta bedug tua peninggalan Sunan Kalijaga yang hingga kini masih tersimpan di serambi masjid.
Simbol Spiritual dan Sejarah
Pelaksanaan Salat Jumat PB XIV Hangabehi di Masjid Gedhe Mataram Kotagede tidak hanya menjadi kegiatan ibadah rutin, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat. Masjid ini merupakan saksi sejarah penyebaran Islam, akulturasi budaya, serta lahirnya peradaban Mataram Islam.
Langkah PB XIV Hangabehi ini dinilai sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, spiritualitas, dan warisan leluhur Dinasti Mataram, sekaligus memperkuat ikatan antara nilai keislaman, budaya Jawa, dan kehidupan sosial masyarakat hingga hari ini.***
PB XIV Hangabehi terpantau sedang melaksanakan Shalat Jumat di masjid bersejarah masjid Gedhe Mataram Kotagede, setelah sebelumnya melakukan Shalat Jumat di masjid bersejarah masjid Laweyan