RIWARA.ID - Di ruang bersalin, keputusan harus diambil dalam hitungan menit. Ketika proses kelahiran terhambat pada fase akhir, dokter dapat memilih tindakan persalinan berbantu alat seperti vakum atau forceps, yang dalam istilah medis disebut Operative Vaginal Birth (OVB).
Namun sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal internasional BMC Pregnancy and Childbirth mengungkap sisi yang jarang menjadi perhatian publik: bukan hanya teknik medis yang menentukan keselamatan, tetapi kualitas komunikasi dan dinamika tim di ruang bersalin.
Penelitian yang dipimpin oleh Sasha M. Skinner dari jaringan rumah sakit Monash Health ini menemukan fakta mencengangkan.
Sebanyak 99% tenaga kesehatan menilai komunikasi dalam prosedur persalinan vakum dan forceps masih perlu diperbaiki.
Temuan ini dikutip Riwara.id pada Minggu, 1 Maret 2026 dari publikasi resmi jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (DOI: 10.1186/s12884-024-07075-w).
Studi Multidisiplin yang Membuka “Blind Spot” Sistem
Penelitian dilakukan di empat rumah sakit metropolitan Australia dan melibatkan 100 tenaga kesehatan dokter kandungan, bidan, serta dokter anak. Metode yang digunakan adalah mixed methods study, menggabungkan survei kuantitatif dan wawancara mendalam.
Hasilnya memperlihatkan jurang persepsi yang signifikan:
Dalam laporan penelitian disebutkan:
“Midwifery and paediatric staff were more likely to report challenges with communication and were less empowered to escalate concerns.”
(Sumber: Skinner et al., 2025, BMC Pregnancy and Childbirth)
Temuan ini menunjukkan bahwa risiko dalam OVB bukan hanya terletak pada aspek teknis seperti posisi kepala janin atau jumlah tarikan vakum, tetapi pada sistem komunikasi dan budaya hierarki yang membingkai praktik klinis.
Baca juga: AS dan Israel Gempur Iran, Perang Terbuka Pecah hingga Serangan Balasan Teheran ke Bahrain
Lima Titik Rawan Keselamatan yang Teridentifikasi
1. Kualitas Komunikasi yang Belum Optimal
Banyak responden mengaku tidak selalu mendapatkan penjelasan transparan mengenai alasan klinis di balik keputusan melakukan tindakan.
Seorang bidan junior dalam studi tersebut mengatakan:
“We can sort of guess what might be happening, but it’s definitely not discussed with us…”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
Kondisi ini menciptakan ketidakjelasan di dalam tim, seka ligus menyulitkan tenaga kesehatan lain untuk menjelaskan situasi kepada ibu dan keluarga.
2. Team Time-Out yang Tidak Konsisten
Sebanyak 41% responden menyebut tidak pernah menyaksikan team time-out sebelum prosedur dilakukan.
Padahal, peneliti menekankan bahwa checklist keselamatan telah terbukti meningkatkan kualitas komunikasi dan budaya keselamatan di berbagai bidang medis.
“Safety checklists have been shown to improve team communication, adherence to safety guidelines and safety culture.”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
3. Hierarki dan Hambatan Eskalasi
Struktur hierarki yang kuat menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, senioritas meningkatkan rasa percaya diri tim. Di sisi lain, hal itu dapat menjadi hambatan bagi tenaga kesehatan junior untuk menyuarakan kekhawatiran.
Seorang bidan menyatakan:
“It doesn’t feel like you can necessarily say anything in that moment, particularly if it’s a consultant doing the procedure.”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
4. Perpindahan ke Ruang Operasi
Saat prosedur dipindahkan ke ruang operasi, dinamika tim berubah. Beberapa bidan merasa menjadi “outsider”.
“As a midwife I often feel like an outsider which can make the experience awkward.”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
Lingkungan yang lebih formal dan terpisah dari ruang bersalin dinilai memengaruhi kualitas komunikasi.
5. Variasi Praktik Klinis
Penelitian juga menemukan variasi dalam praktik antar dokter, termasuk jumlah tarikan vakum yang dianggap aman.
“There is a lot of variation in practice, for example with number of pulls with a vacuum delivery.”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
Ketidakkonsistenan ini menyulitkan tim dalam memastikan kepatuhan terhadap protokol yang sama.
Baca juga: SIMAK! Ini Cara Mudah Pendaftaran Mudik Gratis Tahun 2026 dari Ditjen Hubdat, Catat Baik-baik
Lebih dari Sekadar Teknik Medis
Peneliti menegaskan bahwa peningkatan keselamatan tidak cukup hanya dengan memperbaiki keterampilan teknis.
Dalam kesimpulannya, disebutkan:
“Improved training in non-technical skills, alongside procedural technique, should be considered to ensure physical and psychological safety.”
(Sumber: Skinner et al., 2025)
Artinya, komunikasi, kepemimpinan, dan keberanian untuk berbicara menjadi komponen vital dalam keselamatan persalinan berbantu alat.
Meskipun penelitian dilakukan di Australia, temuan ini memiliki relevansi kuat bagi Indonesia.
Budaya hierarki dalam sistem kesehatan masih kental. Protokol keselamatan belum tentu diterapkan secara konsisten di seluruh fasilitas kesehatan.
Jika di sistem kesehatan maju pun ditemukan celah komunikasi, maka evaluasi internal menjadi langkah penting bagi rumah sakit di Indonesia untuk memperkuat budaya keselamatan pasien.
Studi yang dikutip Riwara.id pada Minggu, 1 Maret 2026 dari jurnal BMC Pregnancy and Childbirth ini menjadi pengingat bahwa keselamatan ibu dan bayi bukan hanya soal alat dan prosedur.
Ia adalah soal manusia, komunikasi, dan keberanian untuk memastikan setiap suara di ruang bersalin didengar.*
Alarm keselamatan ibu dan bayi! Studi global ungkap 99% tenaga medis nilai prosedur vakum-forceps masih penuh celah komunikasi.