Mobil BBM Terancam Tergeser? Penjualan Mobil Listrik Diprediksi Melonjak Tajam dalam 3 Tahun

Senin, 18 Mei 2026 | 06:21 WIB
Ilustrasi mobil BBM dan mobil listrik Penjualan EV di Indonesia diprediksi terus naik sementara mobil konvensional mulai tertekan
Ilustrasi mobil BBM dan mobil listrik Penjualan EV di Indonesia diprediksi terus naik sementara mobil konvensional mulai tertekan (Foto: Ilustrasi/Riwara.id)

 

RIWARA.id - Industri otomotif nasional diprediksi memasuki titik balik besar. Penjualan mobil berbahan bakar minyak atau internal combustion engine (ICE), terutama segmen Low Cost Green Car (LCGC), diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun ke depan seiring melonjaknya popularitas mobil listrik atau electric vehicle (EV).

Prediksi tersebut disampaikan pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, yang menilai derasnya insentif pemerintah untuk kendaraan listrik mulai mengubah peta persaingan industri otomotif nasional.

Menurut Yannes, kebijakan pemerintah yang berencana memberikan insentif tambahan untuk mobil listrik mulai Juni 2026 akan membuat harga battery electric vehicle (BEV) semakin kompetitif dibanding mobil konvensional berbahan bakar bensin.

“Pangsa pasar ICE entry level atau LCGC diproyeksikan mengalami penurunan signifikan secara bertahap dalam tiga tahun ke depan seiring makin murahnya harga BEV dibanding LCGC ICE,” ujar Yannes, dikutip Senin( 18/5/2026).

Mobil Listrik Diprediksi Makin Murah dan Dominan

Kenaikan harga BBM nonsubsidi serta tingginya suku bunga kredit kendaraan dinilai semakin memperberat penjualan mobil konvensional.

Di sisi lain, harga mobil listrik diperkirakan terus turun berkat insentif pajak dan dukungan pemerintah terhadap ekosistem kendaraan elektrifikasi.

Fenomena ini membuat banyak konsumen mulai melirik EV sebagai pilihan kendaraan harian yang dianggap lebih hemat dalam jangka panjang.

Tak hanya itu, berbagai merek otomotif asal China kini agresif menyerbu pasar Indonesia dengan mobil listrik harga terjangkau yang langsung menekan segmen LCGC.

Ancaman Besar bagi Industri Komponen Lokal

Meski tren kendaraan listrik terus meningkat, Yannes mengingatkan ada ancaman serius terhadap rantai pasok industri otomotif lokal.

Menurutnya, industri kecil menengah (IKM) dan pemasok komponen mesin konvensional menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Pasalnya, mayoritas komponen canggih kendaraan listrik masih bergantung pada impor, sehingga transisi menuju EV berisiko melemahkan manufaktur lokal yang selama ini menopang industri ICE nasional.

“Transisi yang terlalu agresif tanpa kesiapan proteksi berisiko melumpuhkan ekosistem manufaktur lokal yang selama ini menopang industri ICE,” katanya.

Toyota Dinilai Punya Solusi Jalan Tengah

Untuk menghindari guncangan besar di industri otomotif, Yannes menyarankan pemerintah dan pelaku industri menerapkan strategi transisi bertahap atau multi-pathway.

Konsep tersebut salah satunya telah diterapkan oleh Toyota melalui pengembangan hybrid electric vehicle (HEV) sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh.

Menurutnya, kendaraan hybrid bisa menjadi solusi realistis karena tetap menggunakan komponen lokal dalam jumlah besar sekaligus menekan konsumsi bahan bakar.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan insentif berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk kendaraan hybrid rakitan lokal.

Strategi itu diperkirakan mampu menurunkan harga mobil hybrid sekitar 6%-10%, menjaga volume produksi pabrikan nasional, sekaligus mempertahankan lapangan kerja di sektor otomotif.

Pemerintah Diminta Siapkan Dana Transisi Industri

Selain insentif kendaraan, pemerintah juga dinilai perlu membantu IKM komponen ICE agar bisa bertahan di era elektrifikasi.

Bentuk dukungan yang disarankan antara lain subsidi investasi, kredit lunak, hingga program peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM).

Dana tersebut nantinya digunakan untuk re-tooling mesin produksi dan adaptasi teknologi menuju komponen kendaraan listrik.

Menurut Yannes, proses transisi ideal menuju elektrifikasi membutuhkan waktu sekitar 2–3 tahun agar rantai pasok lokal tidak mati mendadak dan tetap berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Penjualan Mobil Listrik Melonjak 40 Persen

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan penjualan mobil listrik memang terus mengalami lonjakan sepanjang 2026.

Pada April 2026, penjualan wholesales kendaraan listrik mencapai 14.815 unit atau naik sekitar 40% dibanding bulan sebelumnya yang berada di angka 10.572 unit.

Pangsa pasar EV kini telah menyentuh sekitar 18,34% dari total penjualan mobil nasional.

Merek asal China mendominasi pasar kendaraan listrik Indonesia. BYD menjadi pemimpin pasar dengan penjualan 4.625 unit.

Posisi berikutnya ditempati JAECOO sebanyak 3.179 unit, Geely 1.703 unit, Wuling 1.073 unit, dan AION sebanyak 884 unit.

Sementara itu, total penjualan mobil nasional dari pabrik ke dealer pada April 2026 mencapai 80.776 unit atau naik 31,84% dibanding bulan sebelumnya.

Era Baru Industri Otomotif Indonesia

Lonjakan penjualan mobil listrik menandai perubahan besar dalam industri otomotif nasional.

Jika sebelumnya mobil LCGC menjadi primadona masyarakat Indonesia karena harga murah dan irit BBM, kini kendaraan listrik mulai mengambil posisi tersebut dengan biaya operasional yang dianggap lebih rendah.

Namun di balik pertumbuhan EV, tantangan besar masih membayangi, terutama soal kesiapan industri lokal, tenaga kerja, dan ketergantungan impor komponen.

Pemerintah kini menghadapi tantangan besar: mempercepat elektrifikasi tanpa mematikan industri otomotif konvensional yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung manufaktur nasional.*

 

Pengamat ITB memprediksi penjualan mobil BBM dan LCGC akan turun dalam tiga tahun ke depan seiring melonjaknya mobil listrik di Indonesia. Insentif EV dan dominasi merek China disebut jadi pemicu utama

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories