Potong Kuku Sebelum Kurban Ternyata Ada Aturannya, Banyak Muslim Baru Tahu Saat Masuk Dzulhijjah

Senin, 18 Mei 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi seorang Muslim memotong kuku menjelang Idul Adha dengan latar hewan kurban dan masjid Dalam Islam orang yang berniat berkurban dianjurkan tidak memotong kuku dan rambut sejak awal Dzulhijjah
Ilustrasi seorang Muslim memotong kuku menjelang Idul Adha dengan latar hewan kurban dan masjid Dalam Islam orang yang berniat berkurban dianjurkan tidak memotong kuku dan rambut sejak awal Dzulhijjah (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.id - Menjelang Idul Adha, umat Islam mulai mempersiapkan hewan kurban, tabungan, hingga amalan sunnah yang dianjurkan selama bulan Dzulhijjah. Namun di tengah persiapan tersebut, ada satu pertanyaan yang terus ramai dicari setiap tahun: apakah orang yang hendak berkurban boleh potong kuku dan rambut?

Pertanyaan ini bukan sekadar urusan penampilan. Dalam ajaran Islam, ternyata ada anjuran khusus dari Rasulullah SAW bagi Muslim yang berniat berkurban agar tidak memotong kuku maupun rambut sejak awal Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih.

Tak sedikit umat Islam yang baru mengetahui sunnah ini ketika memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah. Bahkan, topik tentang kapan boleh potong kuku bagi yang berkurban selalu menjadi perbincangan hangat di media sosial menjelang Hari Raya Idul Adha.

Lalu bagaimana sebenarnya hukumnya? Apakah larangan ini wajib? Dan kapan seseorang diperbolehkan kembali memotong kuku setelah kurban dilakukan?

Hadits Nabi tentang Larangan Potong Kuku dan Rambut

Pembahasan mengenai kapan boleh potong kuku bagi yang berkurban berasal dari hadits shahih riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih kurbannya.”
(HR Muslim No. 1977)

Hadits ini menjadi dasar utama para ulama dalam menjelaskan hukum memotong kuku dan rambut bagi orang yang berniat melaksanakan kurban.

Mayoritas ulama berpendapat larangan tersebut bersifat sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan. Artinya, tidak sampai membatalkan kurban jika dilanggar, tetapi orang tersebut kehilangan keutamaan sunnah.

Sementara ulama mazhab Hanbali memiliki pandangan lebih tegas. Mereka menilai larangan memotong kuku dan rambut bagi pekurban hukumnya wajib sehingga jika sengaja dilakukan dianggap berdosa.

Kapan Larangan Potong Kuku Mulai Berlaku?

Salah satu hal yang paling sering membingungkan masyarakat adalah kapan larangan ini dimulai.

Mayoritas ulama sepakat bahwa larangan memotong kuku dan rambut berlaku sejak masuk malam 1 Dzulhijjah, yaitu setelah matahari terbenam di akhir bulan Dzulqa’dah.

Jadi, apabila penetapan awal Dzulhijjah jatuh pada malam Jumat, maka sejak Kamis maghrib orang yang berniat berkurban sudah dianjurkan untuk tidak lagi memotong kuku maupun rambut.

Namun jika seseorang baru berniat berkurban setelah tanggal 1 Dzulhijjah, maka larangan mulai berlaku sejak niat itu muncul.

Karena itu, banyak ulama menyarankan umat Islam segera memotong kuku dan merapikan rambut sebelum memasuki awal Dzulhijjah agar lebih tenang menjalankan sunnah tersebut.

Apakah Potong Kuku Membatalkan Kurban?

Banyak orang khawatir ibadah kurbannya tidak sah jika terlanjur memotong kuku atau rambut sebelum penyembelihan.

Para ulama menjelaskan bahwa memotong kuku tidak membatalkan ibadah kurban. Hewan kurban tetap sah selama syarat dan ketentuan penyembelihan terpenuhi.

Namun, orang yang melanggar anjuran tersebut dianggap kehilangan sebagian pahala sunnah karena tidak mengikuti tuntunan Rasulullah SAW secara sempurna.

Jika seseorang lupa atau belum mengetahui hukum ini lalu memotong kuku, maka tidak ada kewajiban membayar denda maupun mengulang kurban.

Hikmah Besar di Balik Larangan Ini

Meski terlihat sederhana, para ulama menjelaskan bahwa larangan memotong kuku dan rambut memiliki makna spiritual yang mendalam.

Pertama, sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, bahkan dalam perkara kecil sekalipun.

Kedua, orang yang berkurban dianjurkan menyerupai jamaah haji yang sedang ihram. Dalam kondisi ihram, jamaah haji juga tidak diperbolehkan memotong rambut maupun kuku.

Ketiga, sunnah ini melatih kesabaran dan pengendalian diri menjelang ibadah besar Idul Adha.

Ibadah kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, hawa nafsu, dan keinginan pribadi.

Dengan menahan diri dari memotong kuku dan rambut, seorang Muslim diajak lebih fokus mempersiapkan hati sebelum Hari Raya Kurban tiba.

Kapan Boleh Potong Kuku Lagi Setelah Kurban?

Pertanyaan berikutnya yang juga sering dicari adalah kapan seseorang boleh kembali memotong kuku.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa larangan berakhir setelah hewan kurban disembelih.

Artinya, begitu proses penyembelihan selesai dilakukan, orang yang berkurban sudah diperbolehkan kembali memotong kuku maupun rambut.

Jika penyembelihan dilakukan pada hari tasyrik tanggal 11, 12, atau 13 Dzulhijjah, maka larangan tetap berlaku sampai waktu penyembelihan tersebut selesai.

Bagi yang mewakilkan penyembelihan kepada panitia kurban, sebaiknya memastikan kapan hewan atas namanya benar-benar disembelih.

Sunnah Kecil yang Sering Terlupakan

Di tengah kesibukan mempersiapkan hewan kurban dan kebutuhan Idul Adha, sunnah tentang larangan memotong kuku sering kali terlupakan.

Padahal, amalan kecil seperti ini bisa menjadi bentuk kecintaan seorang Muslim kepada sunnah Nabi Muhammad SAW.

Para ulama mengingatkan bahwa keberkahan ibadah sering lahir dari ketaatan terhadap hal-hal yang dianggap sederhana.

Karena itu, memahami kapan boleh potong kuku bagi yang berkurban bukan hanya soal hukum, tetapi juga bagian dari kesempurnaan ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.*

 

 

Bolehkah potong kuku sebelum kurban? Simak penjelasan lengkap hukum memotong kuku bagi orang yang berkurban menurut hadits Nabi, waktu larangan dimulai, hingga kapan diperbolehkan lagi saat Idul Adha.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories