Dikejar Sultan dan Presiden, Gusti Nurul Justru Pilih Duda Anak Satu, Kisah Nyatanya Berakhir Tak Terduga

  • Inung R Sulistyo
  • Minggu, 19 April 2026 | 09:49 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Kisah Cinta Gusti Nurul menikah dengan RM Soejarsoejarso Soerjosoerarso
Kisah Cinta Gusti Nurul menikah dengan RM Soejarsoejarso Soerjosoerarso (Foto: Dok. Riwara.id, Ajie Pamoso)

 

RIWARA.id - Kisah ini bermula dari seorang putri keraton yang pada masanya dikenal bukan hanya karena darah bangsawan, tetapi juga karena kecantikan yang memikat banyak hati. Nama Gusti Nurul pernah menjadi perbincangan di kalangan elite Jawa, bahkan hingga lingkar kekuasaan nasional. Parasnya disebut-sebut anggun, pembawaannya tenang, dan kecerdasannya membuat siapa pun yang bertemu dengannya sulit melupakan.

Di masa itu, tak sedikit pria dari kalangan bangsawan hingga tokoh penting negeri yang menaruh hati padanya. Dua nama besar bahkan tercatat dalam sejarah: Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sukarno. Keduanya dikenal sebagai figur kharismatik dan berpengaruh, namun kisah cinta mereka berakhir pada penolakan yang halus namun tegas dari sang putri.

Keputusan Gusti Nurul untuk menolak lamaran tokoh-tokoh besar tersebut menjadi titik balik yang mengundang banyak tanya. Alih-alih memilih kehidupan megah di lingkar kekuasaan, ia justru menentukan jalan hidup yang tak biasa bagi seorang putri keraton: menikah dengan seorang perwira militer berpangkat letnan kolonel, RM Soejarsoejarso Soerjosoerarso, yang kala itu berstatus duda dengan satu anak.

Meninggalkan Kemewahan Istana

Pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan juga simbol keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Gusti Nurul harus merelakan kehidupan di lingkungan Pura Mangkunegaran—kompleks istana yang luas, penuh tradisi, dan sarat nilai budaya Jawa yang telah membesarkannya sejak kecil.

Ia meninggalkan halaman istana yang luas, bangunan megah yang artistik, serta kehadiran para abdi dalem yang setia. Lebih dari itu, ia juga meninggalkan suasana karismatik yang selama ini menjadi bagian dari identitasnya sebagai bangsawan. Pilihan itu membawa Gusti Nurul pada kehidupan baru di Jakarta, mengikuti penugasan suaminya.

Di ibu kota, kehidupan berubah drastis. Ia tinggal di rumah dinas yang jauh lebih sederhana dibandingkan istana. Bersama suaminya dan anak tiri berusia delapan tahun bernama Soelarso Basarah, mereka memulai kehidupan baru sebagai keluarga kecil yang jauh dari kemewahan.

“Jika ditanya soal luas halaman dan besar bangunan rumah dinasku, sama sekali tidak seberapa dibandingkan dengan Pura Mangkunegaran, tapi aku merasakan kedamaian dan kebebasan sejati di sini,” ujar Gusti Nurul dalam sebuah kesempatan.

Menemukan Makna Kebahagiaan Baru

Kehidupan sebagai istri tentara membawa pengalaman yang sama sekali berbeda bagi Gusti Nurul. Ia tak lagi dipanggil dengan gelar kebangsawanan. Di lingkungan barunya, ia dipanggil sederhana: ibu, jeng, atau mbakyu. Sebuah perubahan yang justru ia nikmati.

Ia mulai aktif mengikuti or ganisasi istri tentara, berbaur tanpa sekat dengan para istri prajurit lainnya. Dalam lingkungan itu, ia menemukan kesetaraan yang mungkin jarang ia rasakan sebelumnya.

“Aku mulai mengenal ruang lingkup pekerjaan suami dan sebagai istri tentara, aku aktif mengikuti organisasi. Aku diperlakukan sama dengan istri prajurit yang lain,” ungkapnya.

Kehidupan rumah tangga mereka berjalan harmonis. Gusti Nurul merasa beruntung memiliki suami yang sederhana dan tidak menuntut. Sosok “Mas Jarso”—panggilan sayangnya—dikenal tidak rewel, termasuk dalam urusan makanan, sesuatu yang bagi Gusti Nurul justru menjadi sumber kenyamanan.

Penantian dan Anugerah Kehidupan

Meski kehidupan rumah tangga berjalan baik, satu hal sempat menjadi ujian: kehadiran anak. Bertahun-tahun mereka belum dikaruniai keturunan. Dalam budaya Jawa, hal ini sering menjadi tekanan tersendiri, terlebih bagi seorang perempuan.

Namun Gusti Nurul memilih jalan penuh harapan. Ia mengangkat seorang anak bernama Bambang Atasadji, sebagai bentuk ikhtiar dan kasih sayang. Keputusan itu menjadi titik balik. Tak lama setelahnya, ia akhirnya mengandung.

Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika keluarga kecil ini pindah ke Bandung. Udara sejuk kota tersebut memberikan kenyamanan tersendiri bagi Gusti Nurul. Di usia 33 tahun, ia melahirkan putri pertamanya dengan berat 2,8 kilogram di RS Santo Borromeus, yang diberi nama B.R.Ay. Paramita Wiyarti.

Kelahiran Paramita menjadi awal dari kebahagiaan yang berlipat. Dalam beberapa tahun be rikutnya, Gusti Nurul kembali dikaruniai anak-anak: R.M. Adji Pamoso, R.Aj Rasika Wijarti, R.Aj Heruma Wiyarti, dan R.Ay Wimaya Wiyarti.

Mengikuti Tugas Hingga ke Luar Negeri

Sebagai istri perwira militer, Gusti Nurul harus siap menghadapi dinamika kehidupan yang berpindah-pindah. Setelah dari Bandung, ia dan keluarga sempat menetap di Amerika Serikat, mengikuti penugasan suaminya sebagai atase militer di Washington DC.

Pengalaman tinggal di luar negeri menjadi babak baru dalam hidupnya. Di negeri yang berbeda budaya, Gusti Nurul tetap memegang teguh nilai-nilai Jawa yang telah tertanam sejak kecil, sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan internasional.

Di Amerika Serikat, ia kembali melahirkan anak kelimanya, memperluas keluarga yang kini semakin besar dan penuh warna.

Kembali ke Tanah Air dan Mengabdi

Setelah masa tugas di luar negeri selesai, keluarga ini kembali ke Indonesia. Suaminya kemudian dipercaya menjabat sebagai rektor Institut Teknologi Tekstil di Bandung, sebuah posisi strategis yang menunjukkan dedikasi dan kepercayaan negara.

Di Bandung, Gusti Nurul menjalani kehidupan yang padat. Selain mengurus anak-anak, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan kehidupan keluarga dengan aktivitas publik.

Perpaduan antara nilai Islam yang kuat dari sang suami dan budaya Jawa yang melekat dalam dirinya menciptakan harmoni unik dalam keluarga mereka. Setiap pagi, san g suami mengajak anak-anaknya salat, sementara Gusti Nurul tetap menanamkan nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Penghargaan dan Pengabdian

Pengabdian Gusti Nurul tidak luput dari perhatian. Pada tahun 1998, ia menerima penghargaan Citra Wanita Pembangunan Indonesia dari Menteri Negara Urusan Peranan Wanita RI, Mien Sugandhi.

Penghargaan tersebut bukan hanya pengakuan atas kontribusinya di ruang publik, tetapi juga refleksi dari dedikasinya sebagai seorang ibu dan istri. Bagi Gusti Nurul, keluarga tetap menjadi prioritas utama.

“Sebagai wanita Jawa, tentu aku mengutamakan bakti pada keluarga,” tuturnya.

Akhir Hayat yang Tenang

Perjalanan panjang hidup Gusti Nurul berakhir pada Selasa, 10 November 2015. Ia menghembuskan napas terakhir di RS Santo Borromeus pukul 08.20 WIB dalam usia 94 tahun.

Ia meninggalkan warisan yang tak ternilai: tujuh orang anak, 14 cucu, dan satu cicit. Lebih dari itu, ia meninggalkan teladan tentang keberanian memilih jalan hidup sendiri, tentang kesederhanaan, dan tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

Jenazahnya dimakamkan di Surakarta, kota yang menjadi saksi awal kehidupannya sebagai putri keraton.

Peninggalan Nilai yang Abadi

Kisah Gusti Nurul bukan sekadar cerita tentang seorang bangsawan yang memilih hidup sederhana. Ini adalah narasi tentang keberanian melawan ekspektasi, tentang cinta yang tidak didasarkan pada status, dan tentang kebahagiaan yang ditemukan dalam kesederhanaan.

Di tengah dunia yang sering kali menilai seseorang dari kekuasaan dan kemewahan, Gusti Nurul justru menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bisa ditemukan dalam kehidupan yang sederhana, penuh cinta, dan bermakna.

Dari istana megah hingga rumah dinas sederhana, dari lingkar bangsawan hingga kehidupan rakyat biasa, perjalanan hidupnya menjadi inspirasi lintas generasi—sebuah kisah yang layak dikenang dalam sejarah Indonesia.*

Kisah nyata Gusti Nurul yang menolak cinta Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sukarno, lalu memilih menikah dengan seorang perwira TNI dan meninggalkan kemewahan Pura Mangkunegaran demi kehidupan sederhana yang penuh makna.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News