Rosacea Ternyata Lebih Kompleks dari Sekadar Wajah Merah, Ini Fakta Terbarunya

  • Inung R Sulistyo
  • Sabtu, 18 April 2026 | 04:05 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo



RIWARA.id -
Gangguan sistem imun bawaan, pelepasan sitokin inflamasi, hingga pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal kini diketahui menjadi faktor kunci di balik kemerahan wajah yang menetap pada rosacea.

Sebagaimana dilansir riwara.id pada hari ini, Sabtu (18/4/2026), dari Dermatology Times, pemahaman terhadap penyakit kulit kronis ini terus berkembang seiring dengan temuan ilmiah terbaru.

Rosacea selama ini dikenal luas sebagai kondisi kemerahan pada wajah. Namun, di balik gejala yang tampak sederhana, penyakit ini ternyata memiliki mekanisme yang kompleks dan melibatkan berbagai sistem dalam tubuh.

Bukan Sekadar Kemerahan, Ini Penyebab Utamanya

Secara medis, rosacea dikategorikan sebagai penyakit inflamasi kronis dengan penyebab multifaktorial. Artinya, tidak ada satu faktor tunggal yang memicu kondisi ini.

Penelitian terbaru menunjukkan adanya interaksi antara beberapa faktor utama, yaitu:

Predisposisi genetik
Disregulasi sistem imun
Gangguan pembuluh darah (neurovaskular)
Kerusakan skin barrier
Pengaruh lingkungan

Yang menarik, aktivasi sistem imun bawaan dan pelepasan sitokin inflamasi kini disebut sebagai “mesin utama” yang memicu kemerahan persisten serta flushing pada wajah.

Empat Tipe Rosacea yang Sering Tidak Disadari

Rosacea tidak selalu muncul dengan gejala yang sama. Secara klinis, kondisi ini terbagi dalam empat subtipe:

1. Papulopustular
Muncul jerawat meradang di area tengah wajah.

2. Erythematotelangiectatic
Kemerahan menetap disertai pembuluh darah halus yang terlihat jelas.

3. Phymatous
Penebalan kulit, terutama di area hidung (lebih sering pada pria).

4. Ocular Rosacea
Menyerang mata, menyebabkan perih, kering, hingga iritasi kronis.

Dalam praktiknya, pasien sering mengalami kombinasi dari beberapa tipe sekaligus.

Pemicu yang Sering Diabaikan

Salah satu tantangan terbesar dalam mengendalikan rosacea adalah banyaknya faktor pencetus yang sering dianggap sepele.

Beberapa di antaranya:

Paparan sinar matahari (UV)
Cuaca ekstrem (panas, dingin, angin)
Stres emosional
Makanan pedas dan minuman panas
Alkohol, terutama wine merah
Produk skincare tertentu
Perubahan hormon

Menghindari pemicu ini menjadi langkah penting yang sering kali lebih efektif dibanding hanya mengandalkan obat.

Cara Penanganan: Tidak Cukup Obat Saja

Ahli dermatologi menekankan bahwa perawatan ro s acea harus dimulai dari dasar, yaitu memperbaiki skin barrier.

Langkah penting meliputi:

Menggunakan pembersih wajah yang lembut
Rutin memakai pelembap
Menggunakan sunscreen SPF minimal 30 setiap hari

Setelah itu, terapi medis dapat ditambahkan sesuai kondisi pasien.

Terapi Modern yang Kini Digunakan

Penanganan rosacea kini semakin berkembang dengan berbagai pilihan terapi:

Topikal
Brimonidine & oxymetazoline → mengurangi kemerahan
Metronidazole & azelaic acid → antiinflamasi
Ivermectin → mengatasi tungau Demodex

Oral
Antibiotik seperti doxycycline
Isotretinoin dosis rendah untuk kasus berat
Beta-blocker untuk mengurangi flushing

Prosedur
Laser untuk mengurangi pembuluh darah terlihat
Terapi cahaya untuk eritema persisten



Terapi Target Imun

Kabar baiknya, riset terbaru membuka peluang terapi yang lebih spesifik.

Beberapa yang sedang dikembangkan:

IL-17 inhibitor → menekan inflamasi langsung di tingkat molekuler
JAK inhibitor → menghambat jalur produksi sitokin

Dalam studi awal, terapi ini bahkan mampu mengurangi kemerahan wajah secara signifikan.

Rosacea bukan sekadar masalah estetika, melainkan kondisi medis kompleks yang membutuhkan pendekatan menyeluruh.

Mulai dari mengenali pemicu, menjaga kesehatan kulit, hingga terapi medis yang tepat, semuanya berperan penting dalam mengendalikan penyakit ini.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, harapan untuk penanganan rosacea yang lebih efektif dan personal kini semakin terbuka.

Catatan Redaksi:

Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan sumber ilmiah dan publikasi medis terpercaya, termasuk laporan Dermatology Times. Namun demikian, konten ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis maupun terapi medis.

Setiap individu dapat memiliki kondisi dan respons yang berbeda terhadap gejala maupun pengobatan rosacea. Pembaca disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit dan kelamin (dermatolog) guna mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.

Redaksi tidak bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini tanpa konsultasi medis profesional.*

 

Rosacea bukan sekadar kemerahan biasa. Simak penyebab, pemicu, hingga terapi terbaru berdasarkan riset dermatologi terkini.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.