RIWARA.id – SEJARAH. Jika kita menengok ke abad pertengahan hingga awal abad ke-19, medan pertempuran tampak seperti panggung karnaval yang megah.
Para prajurit mengenakan seragam dengan warna-warna primer yang sangat kontras.
Namun, hari ini, prajurit modern justru bersembunyi di balik pola kamuflase yang rumit.
Perubahan radikal ini bukan tanpa alasan; ia adalah cerminan dari bagaimana maut mengintai di medan laga.
Era Warna-Warni: Lambang Kebanggaan dan Kendali
Di abad pertengahan hingga era Napoleon, prajurit mengenakan busana yang sangat meriah.
Contoh yang paling ikonik adalah Landsknecht dari Jerman yang mengenakan pakaian dengan potongan "slash and puff" warna-warni, atau "Redcoats" Inggris yang terkenal dengan mantel merah menyalanya.
Penggunaan warna mencolok ini memiliki fungsi taktis pada zamannya.
Di tengah pekatnya asap bubuk mesiu dari meriam dan senapan musket, komandan lapangan butuh mengenali posisi pasukannya dari kejauhan.
Selain itu, warna terang berfungsi untuk mengintimidasi lawan dan menjaga moral prajurit agar tidak melarikan diri, karena mereka akan sangat mudah terlihat jika keluar dari barisan.
Revolusi Khaki: Titik Balik di India
Perubahan mulai terjadi saat efektivitas senapan jarak jauh meningkat. Prajurit yang memakai warna mencolok menjadi sasaran empuk penembak mahir.
Titik balik besar terjadi pada pertengahan abad ke-19 (sekitar 1840-an) di India, ketika pasukan Inggris mulai mewarnai seragam putih mereka dengan lumpur atau teh agar menyatu dengan lingkungan berdebu.
Inilah asal mula warna Khaki (dari bahasa Urdu yang berarti "warna debu").
Perang Boer di Afrika Selatan (1899-1902) semakin menegaskan bahwa s eragam merah adalah undangan untuk mati.
Inggris akhirnya secara resmi mengganti seragam mereka menjadi warna hijau zaitun atau khaki demi kelangsungan hidup prajurit di medan terbuka.
Lahirnya Kamuflase Modern
Memasuki Perang Dunia I dan II, seni menyamar atau kamuflase mulai dikembangkan secara ilmiah. Unit Camoufleurs dari Prancis mulai menggunakan pola-pola pecah untuk mengaburkan siluet tubuh manusia.
Perkembangan ini terus berevolusi hingga muncul pola Woodland di era Perang Dingin, hingga pola digital dan multicam yang kita kenal sekarang, yang mampu menipu mata manusia sekaligus sensor optik modern.
Evolusi seragam militer adalah bukti bahwa dalam perang, ego dan estetika pada akhirnya harus tunduk pada logika bertahan hidup.
Dari prajurit yang ingin "terlihat" untuk ditakuti, menjadi prajurit yang ingin "hilang" agar bisa memenangkan pertempuran. (*)
Ari Kristyono





engapa prajurit dulu memakai warna terang dan kini sembunyi dalam kamuflase? Simak sejarah evolusi seragam militer dunia.