Alarm Pangan! Lonjakan MBG Picu Tekanan Harga, Homestead Jadi Penyelamat

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 06 April 2026 | 17:20 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Lonjakan harga pangan di pasar memicu kecemasan masyarakat, sementara model homestead mulai dilirik sebagai solusi untuk menjaga ketersediaan pangan keluarga.
Lonjakan harga pangan di pasar memicu kecemasan masyarakat, sementara model homestead mulai dilirik sebagai solusi untuk menjaga ketersediaan pangan keluarga. (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

RIWARA.id — Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai terasa di lapangan. Lonjakan kebutuhan bahan pangan dalam skala besar memicu kekhawatiran baru: potensi kenaikan harga yang dapat langsung menekan pengeluaran rumah tangga.

Program yang bertujuan meningkatkan gizi anak ini memang membawa dampak positif. Namun di sisi lain, meningkatnya permintaan terhadap komoditas utama seperti beras, protein hewani, dan sayuran mulai memberi tekanan pada ketersediaan pasokan.

Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Prof Dr Izza Mafruhah, mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.

“Ketika permintaan naik signifikan dan tidak diimbangi produksi, maka tekanan harga hampir pasti terjadi,” ujarnya kepada RIWARA.id, Senin, 6 April 2026.

 

< p> 

 

 

Di Jawa Tengah, program MBG menjangkau sekitar 6,45 juta siswa dari jenjang PAUD hingga SMA. Dengan kebutuhan karbohidrat rata-rata 60 gram per anak per hari, tambahan kebutuhan beras terus meningkat setiap bulannya.

Secara agregat, peningkatan kebutuhan ini memang hanya sekitar 1,82 persen dari total produksi tahunan. Namun di lapangan, situasinya tidak sesederhana itu.

Sejumlah daerah mengalami lonjakan kebutuhan yang jauh melampaui kapasitas produksi lokal. Ketimpangan ini berpotensi memicu gangguan pasokan dan menjadi pintu masuk kenaikan harga pangan di tingkat daerah.

Jika tidak diantisipasi, tekanan ini dapat berkembang menjadi inflasi pangan yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat—terutama kelompok rumah tangga berpendapatan rendah.

Tekanan tidak hanya terjadi pada beras. Komoditas protein dan sayuran juga menghadapi tantangan serupa. Distribusi produksi yang tidak merata membuat beberapa daerah rawan kekurangan pasokan ketika permintaan meningkat tajam.

Di sisi lain, komoditas sayuran dan rempah yang terkonsentrasi di wilayah tertentu semakin rentan terhadap gangguan distribusi.

 

 

 

Dari Alternatif Jadi Kebutuhan

Di tengah tekanan tersebut, solusi berbasis rumah tangga mulai mendapat sorotan. Prof Izza menilai model homestead sebagai strategi paling realistis untuk meredam dampak lonjakan harga pangan.

Homestead merupakan sistem produksi pangan mandiri yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu ekosistem pekarangan rumah.

Melalui pende katan ini, kelu arga dapat menghasilkan sebagian kebutuhan pangannya sendiri—mulai dari sayuran, buah, hingga protein hewani seperti telur dan ikan.

“Homestead bisa menjadi tameng rumah tangga. Ketika harga di pasar naik, keluarga tetap memiliki sumber pangan sendiri,” jelasnya.

Lebih dari sekadar solusi jangka pendek, homestead juga berperan dalam meningkatkan kualitas gizi keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar.

Sudah Terbukti, Tinggal Diperluas

Di berbagai daerah, praktik homestead sebenarnya sudah berjalan dan menunjukkan hasil nyata. Pemanfaatan pekarangan rumah terbukti mampu meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus menekan pengeluaran keluarga.

Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi salah satu motor penggerak utama. Dengan lahan terbatas, mereka mampu menanam berbagai komoditas seperti sayuran, tanaman obat, hingga buah-buahan.

Selain memenuhi kebutuhan sendiri, hasil produksi bahkan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Saatnya Jadi Gerakan Nasional

Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS), Prof Dr Izza Mafruhah
Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universita s Sebelas Maret (FEB UNS), Prof Dr Izza Mafruhah (Foto: Prof. Dr. Izza Mafruhah, SE, M,Si.)

 

Melihat potensinya, pengembangan homestead dinilai tidak bisa lagi bersifat sporadis. Diperlukan dukungan lebih luas melalui pelatihan, pendampingan, dan kebijakan yang mendorong partisipasi masyarakat.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci agar model ini dapat berkembang secara berkelanjutan.

Di tengah potensi kenaikan harga pangan akibat lonjakan permintaan, homestead bukan lagi sekadar alternatif.

Ini adalah strategi bertahan.

Bagi jutaan rumah tangga, homestead bisa menjadi garis pertahanan terakhir untuk menjaga stabilitas konsumsi, mengendalikan pengeluaran, dan memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi di tengah tekanan ekonomi yang semakin nyata.*

Lonjakan kebutuhan pangan akibat Program Makan Bergizi Gratis mulai menekan harga bahan pokok. Model homestead dinilai menjadi solusi efektif bagi rumah tangga untuk bertahan dan menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman inflasi.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News