Bukan Radar, Inilah IRST: Teknologi 'Kuno' yang Jadi Mimpi Buruk Jet Tempur F-35 di Tangan Iran dan Houthi

  • Ari Kristyono
  • Selasa, 24 Maret 2026 | 11:20 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Dua pesawat tempur F-35 Lightning II milik Amerika Serikat
Dua pesawat tempur F-35 Lightning II milik Amerika Serikat (Foto: Airforce-technology)

 

RIWARA.id – Tengah menjadi topik pembicaraan di tengah hangatnya berita perang Amerika Serikat-Iran-Israel, tentang keberhasilan Iran menembak jatuh pesawat F-35 AS yang dikenal berteknologi siluman.

Meski Amerika Serikat membantah keras klaim tersebut, namun pembahasan luas telah mengungkap kelemahan pesawat tempur mutakhir yang diklaim tidak bisa dilacak dengan radar itu.

Kuncinya adalah teknologi IRST (Infra Red Search and Track) yang sebenarnya merupakan teknologi lawas yang dikembangkan AS sejak tahun 1950-an.

IRST berbeda dengan radar yang memancarkan gelombang radio dan menunggu pantulan, sehingga pesawat yang terlacak radar pun menyadari posisinya telah diketahui lawan.

Namun, IRST bekerja seperti kamera termal yang pasif, memanfaatkan panas dari mesin pesawat atau hasil gesekan badan pesa wat dengan udara (aerodynamic heating).

Hasilnya, pilot pesawat bahkan tidak menyadari tengah diincar. Karena Radar Warning Receiver (RWR) di pesawat tidak berbunyi.

Rusia adalah negara yang paling serius memanfaatkan teknologi IRST dan memasangnya pada pesawat tempur mereka seperti Su-27 dan Mig-29.

Ini karena Rusia menyadari radar mereka sering kalah canggih dibanding milik AS, sehingga mencari cara untuk mendeteksi pesawat AS dari jarak dekat tanpa ketahuan.

Saat ini, pesawat tempur produk Eropa seperti Eurofighter Typhoon juga telah dilengkapi teknologi IRST yang sangat maju.

Angkatan Udara Brazilia pun menurut airforce-technology juga melaporkan sukses dalam uji coba perangkat IRST yang terpasang pada pesawat Gripen mereka.

Houthi yang Primitif Pun Pernah Nyaris Menjatuhkan F-35

Pembicaraan mengenai teknologi IRST juga mengungkap c erita memalukan beberapa waktu lalu, di mana sebuah F-35 nyaris ditembak jatuh saat memata-matai kelompok milisi Houthi di Yaman Utara.

Media twz.com menguraikan Meskipun detailnya masih terbatas, Houthi hampir saja menembak jatuh pesawat tempur F-35 Joint Strike Fighter AS, dan dilaporkan beberapa pesawat tempur F-16 Viper Amerika, selama peningkatan serangan udara terhadap target di Yaman pada musim semi ini.

Kemampuan pertahanan udara Houth i sebagian besar masih primitif, tetapi ini juga menjadikannya tantangan unik dan membingungkan bagi pesawat tempur Amerika. 

Terdiri dari sistem yang sebagian besar bergerak, mereka dapat muncul hampir di mana saja, mengganggu rencana misi yang telah disusun dengan cermat.

Banyak dari mereka juga merupakan improvisasi, memanfaatkan sensor inframerah pasif non-tradisional dan rudal udara-ke-udara rakitan yang memberikan s edikit atau tanpa peringatan dini tentang ancaman, apalagi serangan yang akan datang.

Apakah Teknologi Stealth Sudah Tidak Relevan?

IRST memang menjadi hantu lama yang dilahirkan kembali, namun teknologi ini bukannya tanpa kelemahan.

Karena sistem kerja yang sederhana, IRST memiliki sejumlah kelemahan seperti jangkauan jarak yang terbatas.

Radar bisa menjangkau jarak 200-300 km, sedangkan IRST tidak lebih dari 100 km, itu pun bisa terganggu oleh beberapa hal sepele seperti cuaca, awan tebal atau kelembapan tinggi.

Selain itu, IRST kurang mampu memperkirakan jarak dengan akurat, kecuali dibantu dengan laser (Laser Range Finder).

Menemukan pesawat berteknologi siluman seperti F-35 juga tidak semudah yang digambarkan, karena rancangan pesawat yang menyembunyikan mesin dan cat khusus yang meredam citra panas.

Pelacakan dimungkinkan hanya akan berhasil menangkap panas dari gesekan udara pada moncong dan ujung sayap pesawat, itu pun pada jarak yang terbatas dan dalam kondisi cuaca kondusif.

Selain itu, menemukan posisi F-35 berbeda dengan menjatuhkan alutsista andalan AS dan sejumlah negara NATO itu.

Iran memang memiliki teknologi sensor elektro-optik dan inframerah yang dikembangkan secara mandiri atau lewat bantuan teknis Rusia/China.

Nam un, menembak jatuh pesawat tempur tercanggih di dunia bukan sekadar soal "melihat", tapi juga soal mengunci target dan menembakkan rudal yang mampu mengejar manuver F-35. (*)

 

Klaim Iran tembak jatuh F-35 AS ungkap kelemahan jet siluman. Teknologi IRST jadi kunci deteksi pasif yang tak disadari pilot. Simak ulasannya.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News