Riwara.id – Eskalasi konflik yang makin meningkat antara Amerika, Israel dan Iran sejak Minggu, 28 Februari 2026 membuat banyak sektor terdampak. Salah satunya adalah stabilitas ekonomi global.
Bank Indonesia (BI) merespons eskalasi konflik Timur Tengah dan pengaruhnya di pasar keuangan global. BI menyatakan terus memantau perkembangan pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pihaknya akan merespons dinamika pasar secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamentalnya.
"Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan AS ke Iran yang mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujarnya seperti dikutip Riwara.id dari laman Bank Indonesia, Senin, 2 Maret 2026.
BI menegaskan akan hadir di pasar melalui berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar. Langkah tersebut dilakukan baik di pasar domestik maupun global.
Intervensi akan dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," paparnya.
Bank Indonesia akan mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga.***






Eskalasi konflik Timur Tengah meningkat, Bank Indonesia fokus jaga stabilitas nilai tukar rupiah