Bitcoin Bisa Capai Titik Terendah Maret 2026? Analisis Terbaru Ungkap Sinyal Mengejutkan

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 02 Maret 2026 | 03:19 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi pergerakan harga Bitcoin dengan panah penurunan tajam, emas, dan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memicu spekulasi titik terendah pasar pada 2026.
Ilustrasi pergerakan harga Bitcoin dengan panah penurunan tajam, emas, dan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memicu spekulasi titik terendah pasar pada 2026. (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.ID, JAKARTA – Setelah sempat menembus US$126.000 pada Oktober 2025, harga Bitcoin kini berada dalam tekanan hebat. Arus keluar miliaran dolar dari ETF, lonjakan harga emas, hingga ketegangan geopolitik global membuat investor bertanya: apakah ini awal bear market panjang, atau justru fase terakhir sebelum rebound besar?

Laporan terbaru dari bursa kripto terbesar Brasil, Mercado Bitcoin, memunculkan analisis yang mengejutkan. Kepala Risetnya, Rony Szuster, menyebut bahwa jika melihat harga Bitcoin dalam denominasi emas, titik terendah siklus bisa terbentuk secepat Februari atau Maret 2026.

Apakah pasar benar-benar sudah mendekati “bottom”?

Dua Grafik, Dua Narasi Berbeda

Dalam dolar AS, Bitcoin mencetak puncak terakhir pada Oktober 2025 di kisaran US$126.000. Jika mengikuti pola historis, koreksi bisa saja berlangsung hingga akhir 2026.

Namun ketika harga Bitcoin dihitung terhadap emas, gambarnya berubah drastis.

Bitcoin mencapai puncaknya terhadap emas pada Januari 2025. Dengan pola siklus 12–13 bulan dari puncak ke dasar, proyeksi menunjukkan potensi titik terendah berada di sekitar Februari 2026, dengan peluang pemulihan mulai Maret.

Artinya, secara relatif terhadap ase t safe haven utama dunia, fase terburuk bisa segera berakhir.

Baca juga: Putra Mahkota Dubai dan Menhan Kuwait Bahas Stabilitas Kawasan di Tengah Ketegangan Regional

Ketidakpastian Global Meledak

Sejak mandat baru Presiden AS Donald Trump dimulai, pasar global menghadapi:

Tarif perdagangan agresif

Ketegangan domestik di Amerika Serikat

Eskalasi konflik dengan Tiongkok

Meningkatnya ketegangan militer dengan Iran

Indeks ketidakpastian global dari World Uncertainty Index melonjak tajam. Investor global berbondong-bondong mencari perlindungan.

Hasilnya? Harga emas meroket lebih dari 80% dalam setahun terakhir hingga menyentuh US$5.280.

Dalam kondisi risk-off seperti ini, emas menang. Bitcoin tertinggal.

Baca juga: Perang Terbuka AS–Israel vs Iran: Kematian Khamenei, Ancaman Hormuz, dan Awal Babak Baru Geopolitik Dunia

ETF Keluar Rp120 Triliun Lebih

Tekanan juga datang dari arus dana institusional.

Sejak November, sekitar US$7,8 miliar keluar dari ETF spot Bitcoin — sekitar 12% dari total dana kelolaan US$61,6 miliar.

Arus keluar ini memperlihatkan bahwa sebagian investor besar memilih mengurangi risiko.

Namun sejarah mencatat: arus keluar besar sering kali terjadi mendekati akhir fase koreksi.

Paus Justru Diam-Diam Masuk

Menariknya, saat investor ritel panik, pemain besar justru bergerak.

Perusahaan investasi Abu Dhab i seperti Mubadala Investment Company dan Al Warda Investments dilaporkan menambah eksposur ETF spot Bitcoin pada pertengahan Februari.

Fenomena klasik pasar kembali terlihat:
Retail panic → Whale accumulation → Supply shock → Rebound.

Apakah fase ini sedang berlangsung?

Baca juga: Revitalisasi 1.741 Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Telan Anggaran Rp1,2 Triliun

Strategi yang Disarankan

Menurut Rony Szuster, pendekatan terbaik dalam fase seperti ini adalah strategi dollar-cost averaging (DCA).

“Secara historis, membeli saat ketakutan lebih efektif dibandingkan membeli saat euforia,” tulisnya dalam laporan yang dibagikan kepada CoinDesk.

Namun ia juga menegaskan:
Ini bukan jaminan bahwa pasar sudah benar-benar menyentuh dasar.

Ini adalah zona probabilitas tinggi,  bukan kepastian.

Baca juga: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan T E W A S dalam serangan udara Israel–AS di Teheran

Jadi, Apakah Ini Waktu Terbaik Beli Bitcoin?

Ada tiga kemungkinan skenario:

🟢 Skenario Bullish

Konflik mereda, ETF kembali inflow, likuiditas global membaik. Bitcoin berpotensi memulai siklus baru pada paruh kedua 2026.

🟡 Skenario Netral

Harga bergerak sideways dalam konsolidasi panjang 6–12 bulan.

🔴 Skenario Bearish

Eskalasi konflik global memburuk, tekanan makro meningkat, dan Bitcoin turun lebih dalam sebelum pulih .

Baca juga: BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem hingga 5 Maret 2026, Bali dan Sulsel Catat Hujan Sangat Lebat

Zona Ketakutan Ekstrem

Data menunjukkan Bitcoin mungkin sedang berada di zona pembentukan harga rata-rata terbaik dalam siklus ini.

Namun seperti biasa di pasar kripto:
Bottom bukanlah satu titik, melainkan proses.

Investor yang disiplin dan memiliki horizon jangka panjang biasanya memanfaatkan fase ketakutan, bukan menghindarinya.

Apakah Maret 2026 akan menjadi titik balik?

Pasar akan menjawab dalam beberapa minggu ke depan.*

Bitcoin tertekan setelah arus keluar ETF mencapai US$7,8 miliar dan emas melonjak 80% dalam setahun. Namun analisis terbaru menyebut titik terendah bisa terjadi Maret 2026. Apakah ini fase terakhir sebelum rebound besar?

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News