RIWARA.ID - Selama puluhan tahun, publik memahami rokok sebagai faktor risiko utama kanker paru. Namun riset terbaru dari Indonesia menunjukkan bahwa pengaruh rokok tidak berhenti pada peningkatan risiko semata. Namun juga menembus lebih dalam hingga ke tingkat molekuler, memengaruhi jenis mutasi genetik yang muncul pada sel kanker.
Temuan penting ini terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Respirasi Indonesia edisi Januari 2026. Studi tersebut dipimpin oleh Tejo Jayadi bersama tim dari Laboratorium Patologi Anatomi RS Bethesda Yogyakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana.
Temuan ini dikutip Riwara.id hari ini, Minggu, 1 Maret 2026, dari Jurnal Respirasi Indonesia (Vol. 46 No. 1, 2026) dalam artikel berjudul “The Relationship between Smoking History with ECOG Score, EGFR Mutation Status, and Clinicopathology Data of NSCLC Patients: Preliminary Study.”
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jenis mutasi gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada pasien kanker paru non-sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer/NSCLC) berbeda secara signifikan antara perokok dan non-perokok.
Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah petunjuk bahwa kanker paru pada perokok dan non-perokok mungkin berkembang melalui jalur biologis yang tidak sama.
Kanker Paru dan Era Kedokteran Presisi
NSCLC merupakan tipe kanker paru paling umum, mencakup sekitar 80–85 persen kasus. Dalam satu dekade terakhir, tata laksana kanker paru telah berubah drastis berkat kemajuan diagnostik molekuler.
Jika dulu terapi ditentukan terutama berdasarkan stadium dan histopatologi, kini dokter juga mempertimbangkan mutasi gen spesifik yang dimiliki tumor pasien.
Salah satu gen paling krusial adalah EGFR. Mutasi pada gen ini membuat sel kanker sensitif terhadap terapi target golongan EGFR-Tyrosine Kinase Inhibitor (EGFR-TKI) seperti gefitinib.
Dua mutasi paling umum adalah:
Namun studi dari Yogyakarta ini menunjukkan bahwa distribusi kedua mutasi tersebut tidak acak—ia berhubungan erat dengan riwayat merokok pasien.
Baca juga: AS dan Israel Gempur Iran, Perang Terbuka Pecah hingga Serangan Balasan Teheran ke Bahrain
Membaca Jejak Enam Tahun Data Klinis
Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap 32 pasien dewasa dengan diagnosis adenokarsinoma paru di RS Bethesda Yogyakarta periode 2018–2024.
Data yang dikumpulkan meliputi:
Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan batas signifikansi p<0,05.
Walau jumlah sampel relatif kecil, penelitian ini memberikan gambaran awal yang penting mengenai karakter molekuler kanker paru di populasi Indonesia.
Baca juga: Terobosan Baru Vitiligo Remaja: Krim 1,5% Ini Tunjukkan Perubahan Nyata dalam 24 Minggu
Mutasi Spesifik Berdasarkan Riwayat Merokok
Hasilnya menunjukkan:
Dalam publikasi ilmiah disebutkan:
“Exon 19 deletions were predominantly found in smokers, whereas Exon 21 mutations were exclusively present in non-smokers.”
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa paparan karsinogen dari rokok dapat memicu mekanisme mutasi yang berbeda dibanding kanker paru pada individu yang tidak pernah merokok.
Secara biologis, zat karsinogen dalam asap rokok diketahui memicu stres oksidatif dan kerusakan DNA. Kerusakan ini dapat mengarah pada pola mutasi spesifik yang berbeda dari mutasi spontan atau akibat faktor lingkungan lain.
Baca juga: Terobosan Baru Vitiligo Remaja: Krim 1,5% Ini Tunjukkan Perubahan Nyata dalam 24 Minggu
Non-Perokok dengan Performa Awal Lebih Buruk
Salah satu hasil paling mengejutkan dari studi ini adalah temuan bahwa pasien non-perokok justru memilik i skor performa awal (ECOG) lebih buruk dibanding perokok (p=0,025).
Skor ECOG adalah alat ukur fungsi fisik pasien kanker, dengan skala 0–5:
0 = fungsi normal
5 = meninggal dunia
Dalam studi ini, non-perokok lebih banyak berada pada kategori ECOG 3 saat diagnosis—yang berarti hanya mampu melakukan perawatan diri terbatas.
Temuan ini berlawanan dengan sebagian literatur internasional yang menyebut pasien non-perokok dengan mutasi EGFR sering memiliki prognosis lebih baik.
Peneliti menduga beberapa kemungkinan:
Diagnosis pada non-perokok sering terlambat karena tidak dicurigai sebagai kanker paru.
Artinya, faktor lain seperti progresi penyakit atau resistensi terapi mungkin lebih dominan dalam jangka panjang.
Baca juga: Bullous Pemphigoid: Penyakit Lepuhan yang Diam-diam Mengancam Nyawa Lansia
Terapi Target dan Fenomena Resistensi
Semua pasien dengan mutasi EGFR dalam penelitian ini menerima terapi EGFR-TKI generasi pertama, yakni gefitinib.
Hal ini menunjukkan kepatuhan terhadap pedoman terapi berbasis molekuler.
Namun terdapat fenomena menarik: pasien dengan mutasi EGFR justru menunjukkan skor Karnofsky akhir yang lebih rendah secara signifikan.
Secara klinis, pasien dengan mutasi EGFR sering memiliki respons terapi awal yang baik. Namun setelah beberapa waktu, sel kanker dapat mengembangkan resistensi sekunder.
Ketika resistensi terjadi, penyakit dapat berkembang lebih agresif.
Stadium Lanjut dan Beban Metastasis Tinggi
Sebanyak 65,6% pasien dalam penelitian ini sudah mengalami metastasis jauh saat diagnosis.
Lebih dari separuh memiliki satu lokasi metastasis.
Ini mencerminkan tantangan nasional dalam deteksi dini kanker paru.
Di Indonesia, sebagian besar pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika gejala sudah berat.
Keterlambatan diagnosis mempersempit peluang intervensi kuratif.
Baca juga: Akankah Ada yang Membeli J-35A? Ambisi Global China dan Tantangan Menyaingi F-35
Mengapa Detail Exon Penting?
Penelitian ini menegaskan bahwa pengujian mutasi EGFR tidak cukup hanya menentukan ada atau tidaknya mutasi.
Analisis tingkat exon penting karena:
Temuan hubungan antara rokok dan tipe exon membuka ruang penelitian lanjutan mengenai mekanisme molekuler spesifik yang dipicu paparan k arsinogen.
Baca juga: Di Tengah Polarisasi Politik 2026, Partai NasDem Angkat Pemikiran Muhammad Yamin tentang Merah Putih
Epidemiologi dan Tantangan Sistemik
Indonesia termasuk negara dengan prevalensi perokok pria tertinggi di dunia.
Kanker paru menjadi salah satu penyebab kematian kanker utama.
Namun akses tes molekuler seperti pemeriksaan EGFR masih belum merata.
Banyak pasien di daerah belum mendapatkan pemeriksaan genetik komprehensif.
Studi dari Yogyakarta ini menjadi kontribusi penting literatur nasional, menunjukkan bahwa penelitian molekuler di Indonesia tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga mampu menghasilkan temuan relevan berbasis populasi lokal.
Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyebut beberapa keterbatasan:
Meski demikian, penelitian ini memberi fondasi kuat untuk studi prospektif multi-center di masa depan.
Integrasi Klinis dan Molekuler
Di era kedokteran presisi, pendekatan “satu terapi untuk semua” tidak lagi relevan.
Profil molekuler, riwayat merokok, status performa, dan stadium penyakit harus dipertimbangkan secara terintegrasi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kanker paru pada perokok dan non-perokok mungkin memiliki karakter biologis berbeda.
Jika temuan ini divalidasi dalam studi lebih besar, strategi pencegahan, deteksi dini, dan terapi bisa disesuaikan lebih spesifik.
Rokok Bukan Sekadar Faktor Risiko
Penelitian dari RS Bethesda Yogyakarta ini menunjukkan bahwa:
Kanker paru bukan penyakit tunggal. Ia adalah spektrum penyakit dengan heterogenitas molekuler yang kompleks.
Dan rokok, tampaknya, meninggalkan jejak bukan hanya pada paru saja tetapi pada cetak biru genetik sel kanker itu sendiri.*
Bukan hanya sebabkan kanker paru, rokok ternyata ubah pola mutasi gen. Studi Indonesia bongkar perbedaan exon EGFR perokok vs non-perokok.