
RIWARA.ID - Di balik sorotan lampu pameran pertahanan internasional, satu pesan dari China terdengar jelas: Beijing tak lagi puas menjadi pengguna jet tempur generasi kelima, ia ingin menjadi penjualnya.
Pesan itu dipertegas ketika model J-35A dipamerkan dalam ajang pertahanan di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Di stan resmi yang dioperasikan oleh China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC), yang mewakili raksasa industri dirgantara Aviation Industry Corporation of China (AVIC), Beijing memamerkan J-35A sebagai alternatif siluman generasi kelima berbiaya lebih rendah dibandingkan Lockheed Martin F-35 Lightning II.
Sebagaimana dikutip Riwara.id pada hari ini, Sabtu, 28 Februari 2026, dari nationalsecurityjournal.org, laporan tersebut menyoroti secara khusus strategi pemasaran China dan pertanyaan besar di baliknya: siapa yang benar-benar akan membeli jet tempur ini?
Baca juga: AS - Indonesia Perkuat Diplomasi Pariwisata di Bali, Kantor Konsuler Baru Resmi Dibuka
Bukan Sekadar Pesawat, Tapi Ekosistem
J-35A adalah varian berbasis darat dari keluarga J-35, yang juga dikembangkan untuk operasi kapal induk Angkatan Laut China. Ia dirancang sebagai bagian dari modernisasi militer besar-besaran Beijing, termasuk pengoperasian kapal induk terbaru, Type 003 Fujian.
Secara publik, spesifikasi teknis J-35A masih terbatas. Namun, China sengaja menampilkan pesawat ini dalam berbagai pameran pertahanan global, sebuah sinyal bahwa fase pengembangan telah memasuki tahap yang cukup matang untuk ditawarkan ke pasar ekspor.
Bandingkan dengan F-35. Jet tempur Amerika itu bukan sekadar platfor m udara, melainkan ekosistem aliansi. Negara pembeli tidak hanya mendapatkan pesawat, tetapi juga integrasi data lintas sekutu, pembaruan perangkat lunak berkelanjutan, sistem logistik global, hingga interoperabilitas dalam operasi militer gabungan.
Dengan kata lain, membeli F-35 berarti masuk ke dalam orbit strategis Washington.
Baca juga: Belanda Cemas, Pemuda Berdiri: Detik-Detik “Indonesia Raya” Menggema di Batavia
Peluang di Celah Politik dan Biaya
Di sinilah China membaca peluang.
Program F-35 memiliki rekam jejak biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat besar. Laporan lembaga audit Amerika menunjukkan lonjakan estimasi biaya sustainment dalam beberapa tahun terakhir, dengan tantangan pada tingkat kesiapan tempur.
Selain faktor biaya, aspek politik juga menjadi pertimbangan. Negara yang dinilai tidak sejalan dengan kebijakan Washington berisiko menghadapi pembatasan. Kasus Turki yang dikeluarkan dari program F-35 setelah membeli sistem S-400 Rusia menjadi contoh nyata bahwa jet tempur generasi kelima juga merupakan instrumen politik luar negeri.
Bagi negara yang berada di bawah tekanan sanksi Barat, atau yang ingin menjaga jarak dari ekosistem Amerika, J-35A tampak sebagai opsi yang menarik secara teoritis.
Namun, Ketergantungan Tidak Hilang! Hanya Berpindah
Masalahnya, membeli J-35A bukan berarti bebas dari ketergantungan. Ia hanya memindahkan pusat gravitasi.
Negara pembeli harus siap bergantung pada logistik China, suku cadang, pembaruan sistem, pelatihan pilot, hingga dukungan teknis jangka panjang. Ini bukan sekadar transaksi komersial, melainkan komitmen strategis puluhan tahun.
Bagi sebagian negara, kedekatan dengan Beijing mungkin lebih nyaman daripada ket erikatan dengan Washington. Tetapi bagi yang lain, risiko geopolitik bisa menjadi faktor penahan.
Baca juga: Di Tengah Polarisasi Politik 2026, Partai NasDem Angkat Pemikiran Muhammad Yamin tentang Merah Putih
Persaingan Bukan Hanya dengan F-35
J-35A juga menghadapi realitas pasar yang kompleks. Tidak semua negara membutuhkan jet siluman generasi kelima.
Alternatif generasi 4 dan 4.5 yang lebih murah dan sudah teruji masih menjadi pilihan rasional, seperti:
Pesawat-pesawat tersebut tidak sepenuhnya siluman, tetapi memiliki rekam jejak operasional yang jelas dan jaringan dukungan yang stabil.
Sementara itu, F-35 tetap unggul dalam pengalaman integrasi tempur nyata dan jaringan sekutu global yang luas.
Instrumen Pengaruh Global
Pada akhirnya, J-35A bukan hanya proyek militer. Ia adalah bagian dari strategi lebih besar China untuk memperluas pengaruh global, memperkuat jejaring pertahanan mitra, dan membangun alternatif terhadap dominasi sistem Barat.
Jika satu atau dua negara memutuskan membeli J-35A, dampaknya bukan hanya pada neraca perdagangan senjata. Itu akan menjadi simbol bahwa pasar jet tempur generasi kelima tidak lagi dimonopoli oleh Barat.
Namun, hingga kini, belum ada pengumuman kont rak ekspor besar yang dapat mengubah peta persaingan.
Antara Ambisi dan Realitas
China memiliki kapasitas industri, dukungan negara, dan momentum geopolitik untuk mendorong J-35A ke pasar global. Tetapi pasar jet tempur generasi kelima adalah arena yang mahal, politis, dan penuh risiko.
Negara pembeli harus bertanya:
Apakah mereka membeli pesawat—atau memilih poros strategis?
J-35A mungkin akan menemukan pembelinya. Tetapi untuk menandingi dominasi F-35 secara global, Beijing tidak hanya perlu harga lebih murah. Ia membutuhkan kepercayaan jangka panjang, rekam jejak operasional, dan jaringan aliansi yang setara.
Dan di situlah pertarungan sesungguhnya berlangsung.*
Akankah J-35A China laku di pasar global? Ambisi Beijing menyaingi F-35 diuji faktor geopolitik, biaya, dan kepercayaan jangka panjang.