RIWARA.ID - Banyak orang mengira lepuhan pada kulit hanyalah gangguan ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun dalam dunia dermatologi, ada satu kondisi yang tidak bisa dianggap remeh: bullous pemphigoid.
Dikutip Riwara.id pada hari ini, Sabtu, 28 Februari 2026, dari American Academy of Dermatology (AAD), bullous pemphigoid merupakan penyakit kulit autoimun langka yang menyebabkan lepuhan besar berisi cairan dan paling sering menyerang orang berusia di atas 60 tahun.
Meski tampak seperti masalah kulit biasa, kondisi ini dapat berkembang menjadi serius dan bahkan mengancam jiwa, terutama pada pasien lansia dengan penyakit penyerta.
Penyakit Autoimun yang Menyerang Kulit Sendiri
Bullous pemphigoid (BP) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, tepatnya lapisan tipis di bawah epidermis (lapisan terluar kulit). Lapisan ini disebut membran basal — struktur penting yang menghubungkan epidermis dengan dermis.
Dalam kondisi normal, sistem imun memproduksi antibodi untuk melawan bakteri dan virus. Namun pada BP, tub uh membentuk antibodi imunoglobulin G (IgG) yang justru menyerang protein pada membran basal.
Akibatnya:
- Ikatan antar lapisan kulit terganggu
- Terjadi peradangan
- Muncul lepuhan besar berisi cairan
Lepuhan ini tidak mudah pecah dan sering kali disertai rasa gatal hebat.
Mengapa Lansia Paling Rentan?
Menurut AAD, bullous pemphigoid paling umum terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun. Sistem imun pada usia lanjut cenderung mengalami perubahan regulasi, sehingga lebih rentan terhadap gangguan autoimun.
Selain faktor usia, risiko meningkat pada individu dengan:
- Penyakit neurologis seperti Parkinson atau demensia
- Diabetes
- Penyakit jantung
- Gangguan ginjal kronis
Pada kelompok ini, BP bukan hanya penyakit kulit — tetapi kondisi yang dapat memperburuk status kesehatan secara keseluruhan.
- Gejala yang Sering Diabaikan
- Gejala awal bullous pemphigoid sering kali tidak spesifik.
- Banyak pasien melaporkan:
- Gatal hebat selama berminggu-minggu
- Ruam kemerahan
- Sensasi terbakar pada kulit
Baru kemudian muncul lepuhan besar yang tegang dan berisi cairan jernih. Kadang cairan tersebut bercampur darah.
Area yang paling sering terdampak:
- Perut bagian bawah
- Selangkangan
- Paha atas
- Lengan dan ketiak
- Lipatan sendi
Pada sebagian kasus, lepuhan juga dapat muncul di dalam mulut. Jarang, selaput mata ikut terlibat, menyebabkan kemerahan dan nyeri.
Menariknya, ada sebagian kecil pasien yang tidak pernah mengalami lepuhan besar, hanya ruam dan gatal kronis — sehingga diagnosis sering terlambat.
Apa Penyebabnya?
Hingga kini, penyebab pasti bullous pemphigoid belum sepenuhnya dipahami. Namun sejumlah faktor diketahui dapat memicu atau memperburuk kondisi ini.
1. Reaksi terhadap Obat
Beberapa antibiotik dan obat tertentu dapat memicu bentuk drug-induced pemphigoid.
2. Terapi Sinar Ultraviolet
Terapi UV yang digunakan untuk mengobati penyakit kulit lain dapat memicu respons autoimun.
3. Terapi Radiasi
Pasien kanker yang menjalani radioterapi juga memiliki risiko lebih tinggi.
Mekanisme dasarnya tetap sama: gangguan sistem imun yang menghasilkan antibodi terhadap jaringan kulit sendiri.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?
Menurut pedoman dermatologi, diagnosis BP tidak cukup hanya berdasarkan tampilan klinis.
Dokter biasanya melakukan:
1.Biopsi Kulit
Sampel kulit diambil untuk memastikan adanya lepuhan di bawah epidermis serta tanda peradangan pada dermis.
2. Direct Immunofluorescence
Tes ini menunjukkan adanya deposisi antibodi IgG pada perbatasan dermis-epidermis.
3. Indirect Immunofluorescence
Tes darah untuk mendeteksi antibodi IgG yang beredar dalam tubuh.
Kombinasi ketiga pemeriksaan ini memastikan diagnosis yang akurat dan membedakan BP dari penyakit lepuhan lain seperti pemphigus vulgaris.
Apakah Bullous Pemphigoid Berbahaya?
Jawabannya: ya, terutama pada pasien lansia dengan kondisi kesehatan yang rapuh.
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
- Infeksi bakteri sekunder
- Sepsis
- Dehidrasi akibat kehilangan cairan
- Luka kronis yang sulit sembuh
- Efek samping obat imunosupresif
Dalam beberapa studi, angka kematian BP pada lansia dapat mencapai tingkat yang signifikan, terutama pada tahun pertama setelah diagnosis.
Karena itu, AAD menekankan pentingnya penanganan medis segera bila terdapat kecurigaan BP.
Bagaimana Pengobatannya?
Tujuan terapi adalah mengendalikan sistem imun dan mencegah pembentukan lepuhan baru.
Pilihan pengobatan meliputi:
- Kortikosteroid Sistemik
- Seperti prednisone, untuk mengurangi peradangan.
- Kortikosteroid Topikal
Salep ku at dapat efektif pada kasus ringan hingga sedang.
Obat Imunosupresif
Digunakan bila kortikosteroid saja tidak cukup.
Terapi biasanya berlangsung dalam jangka panjang dan memerlukan pemantauan ketat karena obat imunosupresif dapat meningkatkan risiko infeksi.
Sebagian pasien dapat mencapai remisi dan kemudian hanya memerlukan terapi topikal untuk menjaga stabilitas penyakit.
Tantangan dalam Pengobatan Lansia
Pengobatan pada lansia menghadirkan dilema tersendiri.
Di satu sisi, inflamasi harus ditekan untuk mencegah komplikasi.
Di sisi lain, imunosupresi berlebihan dapat meningkatkan risiko infeksi.
Dokter harus menyeimbangkan risiko dan manfaat secara hati-hati, terutama pada pasien dengan penyakit kronis lain.
Dampak Psikologis dan Kualitas Hidup
Selain dampak fisik, bullous pemphigoid juga memengaruhi kualitas hidup.
Gatal hebat dan luka yang tampak jelas dapat menyebabkan:
- Gangguan tidur
- Depresi
- Isolasi sosial
- Penurunan mobilitas
Pada lansia, kondisi ini dapat mempercepat penurunan fungsi harian.
Karena itu, pendekatan pengobatan tidak hanya berfokus pada lepuhan, tetapi juga dukungan psikologis dan perawatan holistik.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?
Segera konsultasikan ke dokter kulit jika mengalami:
- Lepuhan besar tanpa sebab jelas
- Gatal berat yang tidak membaik
- Luka yang meluas atau terinfeksi
- Lepuhan disertai demam
Deteksi dan terapi dini secara signifikan menurunkan risiko komplikasi serius.
Prospek Jangka Panjang
Bullous pemphigoid termasuk penyakit kronis, tetapi dapat dikontrol.
Banyak pasien mengalami fase remisi setelah beberapa tahun pengobatan. Namun pemantauan jangka panjang tetap diperlukan untuk mencegah kekambuhan.
Kesadaran publik tentang penyakit ini masih relatif rendah. Padahal, dengan populasi lansia yang terus meningkat, kasus BP diperkirakan akan semakin sering ditemukan.
Bullous pemphigoid adalah penyakit autoimun kulit langka yang terutama menyerang lansia dan dapat berujung fatal bila tidak ditangani dengan tepat.
Dikutip Riwara.id dari American Academy of Dermatology (AAD) pada Sabtu, 28 Februari 2026, kesadaran dini, diagnosis akurat, dan pengobatan terkontrol menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi serius.
Lepuhan mungkin terlihat sederhana. Namun dalam konteks bullous pemphigoid, ia bisa menjadi tanda dari gangguan sistem imun yang jauh lebih dalam.
Mengenali gejalanya lebih awal dapat menyelamatkan nyawa.*
Inung R Sulistyo




, dari kepercayaan “king’s evil” hingga penemuan Mycobacterium tuberculosis oleh Robert Koch. TB masih menjadi ancaman global hingga saat ini..jpg)
 lengkap saat menangani pasien campak di ruang isolasi rumah sakit. Pemerintah melalui Kemenkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penularan penyakit.jpg)
Bullous pemphigoid adalah penyakit kulit autoimun pada lansia yang dapat mengancam nyawa. Kenali gejala, penyebab, dan pengobatannya.