Puasa Ramadan pada Pasien Kanker Paru: Aman atau Berisiko? Berikut Penjelasan Ilmiah Dokter Onkologi Toraks RSUD Moewardi

  • Inung R Sulistyo
  • Rabu, 25 Februari 2026 | 03:12 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

 

dr. Hartanto Dwi Nugroho, Sp.P(K) Onk, FISR, dokter spesialis paru konsultan onkologi toraks dari RSUD Dr. Moewardi
dr. Hartanto Dwi Nugroho, Sp.P(K) Onk, FISR, dokter spesialis paru konsultan onkologi toraks dari RSUD Dr. Moewardi (Foto: Riwara.id)

SURAKARTA, RIWARA.id – Ramadan selalu menghadirkan dilema tersendiri bagi pasien kanker paru. Di satu sisi, ada dorongan spiritual untuk tetap menjalankan ibadah puasa. Di sisi lain, kondisi medis yang kompleks menimbulkan kekhawatiran: apakah puasa aman bagi paru yang sudah terganggu? Apakah dapat menurunkan kadar oksigen darah? Atau justru mengganggu efektivitas terapi seperti kemoterapi dan imunoterapi?

Menjawab pertanyaan itu, dr. Hartanto Dwi Nugroho, Sp.P(K) Onk, FISR, dokter spesialis paru konsultan onkologi toraks dari RSUD Dr. Moewardi, memberikan penjelasan komprehensif kepada Riwara.id, Rabu (25/2/2026).

“Puasa bukan kontraindikasi mutlak bagi pasien kanker paru. Tetapi keputusan harus individual, berdasarkan evaluasi klinis yang ketat,” tegasnya.

Berikut ulasan medis premium yang merangkum aspek fisiologis, metabolik, imunologis, hingga psikologis puasa pada pasien kanker paru berdasarkan literatur ilmiah terkini.

Baca juga: Kemdiktisaintek Umumkan Hasil Seleksi Administrasi PPPK Guru SMA Unggul Garuda Baru 2026, Cek Apakah Ada Namamu?

Apakah Puasa Menurunkan Kadar Oksigen Darah?< /strong>

Secara fisiologis, puasa tidak secara langsung menurunkan saturasi oksigen (SpOâ‚‚). Namun efek tidak langsung dapat muncul pada pasien dengan fungsi paru terbatas.

Dehidrasi selama puasa berpotensi membuat sekret atau dahak lebih kental. Kondisi ini meningkatkan resistensi jalan napas dan memperberat kerja pernapasan, terutama pada pasien dengan:

  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) komorbid
  • Efusi pleura
  • Metastasis paru luas
  • Hipertensi pulmonal

“Pada pasien dengan saturasi borderline di bawah 92 persen, atau yang sudah mudah sesak saat aktivitas ringan, puasa bisa memperburuk gejala,” jelas dr. Hartanto.

Artinya, bukan puasanya yang menurunkan oksigen, tetapi kondisi dehidrasi dan beban kerja napas yang meningkat.

Baca juga: Siap-siap! Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 dari Bank Mandiri Dibuka Pekan Depan, Catat Rute dan Persyaratannya

Pasien dengan Oksigen Tambahan: Masuk Kategori Risiko Tinggi

Pasien kanker paru yang sudah menggunakan oksigen tambahan di rumah umumnya termasuk kelompok risiko tinggi.

Terutama bila:

  • Menggunakan oksigen kontinu ≥2–3 liter per menit
  • Saturasi turun signifikan tanpa oksigen
  • Ada riwayat gagal napas kronis

Dalam kondisi ini, puasa sering kali tidak direkomendasikan karena dehidrasi dapat memperberat kerja jantung dan paru secara simultan.

Namun, keputusan tetap harus berdasarkan penilaian individual. Bila pasien ingin mencoba puasa, diperlukan:

  • Monitoring saturasi oksigen secara rutin
  • Pengawasan dokter
  • Kesiapan membatalkan puasa bila sesak meningkat
  • Perb edaan Toleransi: Stadium Awal vs Stadium Lanjut
  • Tidak semua pasien kanker paru memiliki daya tahan metabolik yang sama.
  • Stadium Awal atau Penyakit Terkontrol

Pasien dengan:

  • ECOG Performance Status 0–1
  • Berat badan stabil
  • Tidak mengalami sesak berat
  • Dalam fase pemeliharaan terapi
  • Umumnya lebih toleran terhadap puasa.
  • Stadium Lanjut atau Metastatik

Kelompok ini lebih rentan mengalami:

  • Penurunan massa otot
  • Fatigue berat
  • Cadangan energi rendah
  • Risiko infeksi meningkat

“Pasien stadium lanjut lebih sering masuk kategori tidak dianjurkan berpuasa penuh,” ujar dr. Hartanto.

Baca juga: Pasar Kripto Kembali Melemah, Apa Penyebab dan Bagaimana Cara Mengatsinya? Simak Ulasan Lengkap Disini

 Kondisi yang Membutuhkan “Lampu Merah”

Cachexia atau penurunan berat badan drastis akibat kanker menjadi salah satu pertimbangan paling krusial.

Literatur Nutrition and Cancer (2025) menekankan bahwa risiko terbesar pada pasien kanker paru saat puasa adalah hilangnya massa otot (sarcopenia).

Jika terdapat:

  • Penurunan berat badan lebih dari 5 persen dalam satu bulan
  • Albumin rendah
  • Nafsu makan buruk
  • Maka puasa berisiko mempercepat kemunduran klinis.

“Dalam kondisi cachexia aktif, kami biasanya tidak menganjurkan puasa,” tegasnya.

Baca juga: WAJIB CATAT! Jangan Sampai Salah Tanggal, Pemerintah Resmi Tetapkan Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Maret 2026

Cancer-Related Fatigue: Bisa Memburuk, Bisa Stabil

Kelelahan kronis adalah gejala umum pada pasien onkologi paru. Puasa dapat memperburuk fatigue jika:

  • Asupan kalori tidak mencukupi
  • Hidrasi kurang
  • Pola tidur terganggu

Namun sejumlah studi dalam jurnal Supportive Care in Cancer menunjukkan bahwa pasien yang berpuasa secara terencana melaporkan:

  • Peningkatan rasa kontrol diri
  • Penurunan skor depresi
  • Perbaikan kualitas hidup
  • Efek psikologis dan spiritual menjadi faktor penting dalam persepsi kelelahan.
  • Imunoterapi dan Potensi Respons Imun

Dalam literatur onkologi terbaru, terdapat konsep Differential Stress Resistance, yang menjelaskan bagaimana sel sehat dan sel kanker merespons kondisi puasa secara berbeda.

Saat asupan nutrisi turun:

  • Sel sehat masuk mode protektif
  • Sel kanker lebih sulit beradaptasi
  • Proses autofagi meningkat
  • Respons imun berpotensi membaik

Namun dr. Hartanto menegaskan bahwa data ini masih dalam tahap penelitian biologis.

“Jika pasien mengalami pneumonitis akibat imunoterapi, maka puasa tidak dianjurkan. Keselamatan tetap prioritas,” ujarnya.

Baca juga: Lowongan Kerja! Asisten Tenaga Ahli TI di BBWS Citanduy Jawa Barat, Pendidikan Minimal D4 atau S1, Ini Kualifikasinya

Waktu Paling Aman dalam Siklus Kemoterapi

Bagi pasien yang menjalani kemoterapi intravena, waktu menjadi faktor krusial.

Tidak dianjurkan berpuasa pada:

  • 3–5 hari pertama pasca kemoterapi
  • Fase mual hebat
  • Masa risiko neutropenia

Lebih aman dilakukan pada:

  • Minggu terakhir sebelum siklus berikutnya
  • Saat kondisi darah dan stamina stabil
  • Tetap diperlukan evaluasi dokter sebelum mengambil keputusan.

Baca juga: Pemudik dengan Kereta Api Wajib Tahu! Ini Ketentuan Koper yang Boleh Masuk ke Kabin Kereta, Hati-hati Bisa Kena Denda

Parameter Medis Penentu Keamanan Puasa

Dokter biasanya mempertimbangkan:

  • Skor ECOG
  • Saturasi oksigen
  • Berat badan dan IMT
  • Albumin serum
  • Fungsi ginjal
  • Riwayat sesak saat dehidrasi

“Jika saturasi di bawah 90 persen, ECOG tiga atau lebih, ada neutropenia berat, atau gagal ginjal progresif, kami memberi lampu merah tegas,” kata dr. Hartanto.

 

Baca juga: ASIK! 6 Ruas Jalan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra akan Dibuka Gratis Saat Libur Lebaran 2026, Ini Dia Daftarnya

Dampak Perubahan Pola Tidur Ramadan

Perubahan jadwal tidur selama Ramadan dapat berdampak pada pasien kanker paru.

Kurang tidur dapat:

  • Meningkatkan inflamasi
  • Memperburuk fatigue
  • Mengganggu regulasi hormon stres
  • Memperparah sesak pada gangguan paru kronik
  • Pasien disarankan menjaga total tidur 6 –8 jam per hari, meskipun terbagi antara malam dan siang.

Baca juga: Dibuka 2 Hari Lagi! Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 dari PT Jasa Marga, Cek Syarat dan Rutenya di Sini

 

Keputusan Harus Personal dan Terukur

Puasa Ramadan bagi pasien kanker paru bukan keputusan hitam-putih. Ia adalah keputusan medis berbasis personalisasi.

Kelompok yang relatif aman:

  • Stadium awal
  • Kondisi stabil
  • Nutrisi baik
  • ECOG 0–1

Kelompok risiko tinggi:

  • Pengguna oksigen kontinu
  • Cachexia berat
  • Neutropenia
  • Pneumonitis aktif
  • ECOG ≥3

“Prinsipnya adalah individualized decision, bukan general permission,” tutup dr. Hartanto.

Bagi pasien dan keluarga, konsultasi dengan dokter yang menangani adalah langkah wajib sebelum memutuskan berpuasa.

Dalam dunia onkologi toraks modern, spiritualitas dihormati — tetapi keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama.*

Tinjauan medis terbaru 2024–2025 mengungkap potensi manfaat biologis puasa, tetapi juga menegaskan batas tegas bagi pasien risiko tinggi seperti pengguna oksigen kontinu, cachexia, dan neutropenia.

Foto Default
Author : Inung R Sulistyo

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News
Related News