Riwara.id – Di awal tahun 2026 BPS memberikan informasi terkait inflasi Indonesia masih tergolong tinggi mencapai 3,55 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55%. Namun secara bulanan (month to month/mtm), tercatat deflasi 0,15%.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan angka tersebut memang sudah melebihi target pemerintah 2,5% plus minus 1%.
"Angka ini terlihat memang sudah keluar dari target pemerintah yang menjaga inflasi di angka 2,5% plus minus 1%. Artinya 1,5% sampai dengan 3,5%. Itu target nasional," ujar Tito dalam Rakor Pengendalian Inflasi yang digelar secara virtual, Selasa, 10 Februari 2026.
Dari angka inflasi 3,55% itu, Tito memaparkan yang berkontribusi besar adalah kenaikan harga pada kategori perumahan, air listrik, dan bahan bakar yang memberikan andil inflasi sampai 1,72%. Nah dari total andil inflasi sebesar 1,72% itu, kenaikan harga listrik mencapai 1,49% sendiri.
"Nah dari 3,55% itu, mana yang tertinggi? Itu adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar itu 1,72%. Dan dari 1,72% itu, 1,49% adalah dari tarif listrik," paparnya.
Tito melanjutkan tarif listrik terlihat mengalami kenaikan harga padahal sebetulnya tak ada sama sekali harga yang dinaikkan oleh pemerintah. Hal ini terjadi karena harga listrik sempat mengalami penurunan di awal 2025 karena pemerintah memberikan diskon listrik 50% kepada masyarakat.
"Kenapa tarif listrik bisa naik? Pada kenyataannya tidak dinaikkan. PLN tidak menaikkan. Danantara tidak menaikkan. Karena di tahun 2025, bulan Januari dan Februari, pemerintah mengambil kebijakan saat itu untuk mensubsidi listrik bagi masyarakat," jelanya.
Diskon harga listrik yang menekan beban biaya energi masyarakat hanya diberikan untuk dua bulan, Januari dan Februari 2025. Setelahnya harga listrik kembali seperti semula, hal ini menimbulkan kesan seakan-akan harga listrik naik.
Sebab, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan perhitungan dengan cara membandingkan angka di waktu yang sama secara tahunan atau year-on-year.
Cara menghitung dari BPS nanti bisa menjelaskan, itu melihat year-on-year, membandingkan antara tahun periode yang sama, Januari 2026, itu dibandingkan dengan harga di Januari tahun 2025. Saat itu ada subsidi listrik 50%, harganya 50% itu mengakibatkan, metodologi ini mengakibatkan terjadi inflasi..
"Seolah-olah terjadi inflasi, kenaikan harga listrik. Itu sebanyak penyumbangnya 1,49%," ujarnya.
Lebih lanjut, Tito menyoroti kenaikan harga pada kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi sebesar 1%. Di dalamnya ada komponen pembelian perhiasan emas yang menyumbang inflasi 0,93%. Emas naik menurutnya karena gejolak dunia.
Karena dunia sedang bergejolak, perang dan lain-lain, mengakibatkan banyak negara menyimpan reservenya. Itu dalam bentuk emas, jadi emas naik.
Inflasi naik bukan karena inflasi kategori makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Artinya, masyarakat masih bisa mendapatkan bahan-bahan penting dengan terjangkau.
Inflasi makanan dan minuman hanya memberikan andil sekitar 0,46% saja pada total inflasi tahunan Januari 2026 yang mencapai 3,55%.***
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55%. Namun secara bulanan (month to month/mtm), tercatat deflasi 0,15%. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan angka tersebut memang sudah melebihi target pemerintah 2,5% plus minus 1 persen